Dia Suami Cinaku

Dia Suami Cinaku
DIS PART 27


__ADS_3

Dia itu suamiku part 27


“baik lima menit sudah. Kalian yang belum silakan mengumpulkan.” Ucap Ma laoshi memeinta para muridnya untuk segera mengumpulkan daftar nama kelompok mereka.


Satu persatu dari kelompok mengumpulkan kertas yang bertulis nama mereka.


“ah beruntung ya dia satu kelompok dengan Qin. Dengar – dengar Qin itu bintang kelas lo.” Ucap salah satu siswa berbisik kepada teman sebelahnya.


“baik karena kalian semu sudah mengumpulkan sekarang saya akan membagi tugas.” Ucap Ma Laoshi. Ma laoshi pun membagikan tugas kepada setiap kelompok.


Si sisi lain teman kelas Bulan masih mengunjingnya karena satu kelompok dengan Qin.


Di rumah terlihat papa Bulan yang sibuk dengan tiga anak barunya.


“andai kalian tau. Papa ini sekarang punyaa lima anak.” Ucap Papa membelai ketiga kucing kecil yang di adopsi.


“pa, papa tidak pergi ke toko?” tanya mama yang melihat papa sedang sibuk bersama ketiga kucing kecil.


“ke toko sebentar lagi.” Jawab papa, segera setelah memberi makan ketiga kucingnya papa berdiri dan bersiap.


Di ruang kelas, Aira sedang duduk di kersinya. Seorang pria memanggilnya dari luar kelas.


“Aira.” Panggil Aprilian sambil melambaikan tangannya.


“ah iya.” Aira datang menghampiri Aprilian.


“ini cemilab buat kamu.” Aprilian memberikan sekantong makanan ringan kepada Aira.


“makacih.” Ucap Aira, kemudian memeluk Aprilian.


“kalau begitu saya kembali ke kelas.” Ucap Aprilian.


“iya hati – hati.” Aira melambaikan tangan.


“tidak menyangka hubungan kami akan sampai selama ini.” Ucap Aira lilir melihat Aprilian pergi menjauh dari hadapannya. Nampak punggung Aprilina yang mulai menghilang.


“Nana.” Panggil Wardah yang sedang membaca buku. Nana sedang mengoda Wardah, karena tidak ada Bulan yang dia ajaknya bermain. Sedangkan Wardah orangnya terlalu serius, apa lagi sekarang dia focus untuk tugas tugas mulai membanjiri mereka.


Kembali ke sisi Bulan yang sedang serius mendengarkan Ma laoshi menjelaskan tugas. Bulan melihat Qin yang sepertinya tidak focus mendengarkan Ma laoshi. Dia sibuk dengan game di ponselnya.


“apa kamu tidak mendengarkan apa yang di ucapkan Ma laoshi?” tanya Bulan lirih sambil menyengol lengan Qin.


“kamu yang mendengarkan nanti jelaskan kepada saya.” Jawab Qin, melanjutkan bermain dengan ponselnya.


“oh.” Jawab Bulan kembali focus ke penjelasan Ma laoshi.

__ADS_1


Qin memang terilihat seperti tidak memeperhatikan namun sebenarnya dia mengingat apa yang Ma laoshi katakana dari awal hingga akhir. Qin terbiasa mlakukan dua hal sekaligus. Yang pertama dia menfokuskan dirinya dengan game untuk mencerna apa yang di jelaskan Ma laoshi.


Setelah selesai kelas Bulan yang hendak pergi keluar di halangi oleh Qin.


“mau kemana?” tanya Qin.


“pulang.” Jawab Bulan sambil menatap Qin, dari wajahnya terlihat biasah saja. Namun dalam hatinya berbunga – bunga di tambah kupu – kupu yang berterbangan di sekelilingnya. (tenang Bulan jangan panic) batin Bulan menasaehati dirinya.


“bukan kah tadi saya meminta kamu untuk menjelaskan tugas yang di berikan Ma laoshi kepada saya?” tanya Qin.


“oh.” Bulan kembali duduk dan membuka catatanya, hendak menjelaskan kepada Qin.


“siapa minta di jelasin di sini?” tanya Qin. Sambil bermain ponselnya.


Bulan yang semakin geram dari tadi di mata Qin selalu salah. “terus mau kamu bagaimana? Tadi menyuruh saya untuk menjelaskan sekarang malah tidak mau.” Bulan mulai kesal (emang kadang kita melihat orang itu baik dari luarnya saja, kalau sudah mengenalnya pasti banyak sifat negatifnya) batin Bulan, rasa sukanya mulai memudar. “lalu kamu maunya bagaimana?”


“saya minta di jelaskan di tempat lain.” Qin berdiri dan mengisyaratkan Bulan untuk mengikutinya dengan isyarat matanya.


Bulan mengikuti Qin dari belakang “siapa suruh kamu terlalu tampan, kan jadi saya tidak jadi marah melihat wajah kamu.” Gerutu Bulan menggunakan bahasa Indonesia.


“kamu bilang apa?” tanya Qin. Mendengar Bulan mengerutu dengan bahasa Indonesia.


“bukan apa – apa .” jawab Bulan sambil mengikuti langkah Qin.


“ah…” keluh Bulan. Mengosok dahinya yang menghantam punggung kekar Qin.


“kalau jalan pakai mata.” Ucap Qin.


“kalau jalan pakai kaki lah, mana bisa mata buat jalan yang ada mata buat melihat.” Ucap Bulan yang kesal. (dia yang mendadak berhenti dia juga yang marah – marah tidak jelas.) batin Bulan.


Qin mendengar celtusan Bulan dia tersenyum, namun wajahnya membalakangi Bulan. (bener juga, baru pertama kali orang yang menabarak saya dia yang marah, biasanya mereka akan meminta maaf duluan) batin Qin yang masih tersenyum merasa Bulan sangat menarik.


“kenapa diam, jadi tidak?” tanya Bulan.


Qin berjalan kembali menuju perkiran. Di ikuti Bulan dari belakang.


“masuk.” Ucap Qin melihat Bulan yang masih di luar mobil. “duduk depan saya bukan sopir.” Ucap Qin melihat Bulan yang berjalan ke bangku belakang.


“oh.” Bulan berjalan kembali ke bangku depan. Sembil memonyongkan sedikit bibirnya. (sabar Bulan mungkin dia lagi banyak masalah) batin Bulan.


“kebetulan saya lapar jadi kita sekalian cari makan.” Ucap Qin menacap gas mobilnya.


“oh, iya, tapi…”


“iya kita cari yang halal.” Ucap Qin.

__ADS_1


(what? Kita, tidak salah dengar? Qin nyebut saya dan dia sebagai kita) batin Bulan yang tadi emosi marah karena sikap Qin, sekarang kembali melunak dengan kata – kata Qin.


Di dalam perjalanan Qin dan Bulan tidak ada yang berbicara. Qin focus menyetir dan Bulan hanya menatap jalanan di luar kaca mobil.


Di sisi lain Xixi dan LuiChen sedang makan bersama di rumah makan.


“chen,” panggail Xixi.


“apa?”


“tau tidak hari ini Bulan bikin heboh satu kelas.”


“ha? Kenapa kok bisa?” tanya Chen penasaran.


“iya begini…” Xixi menceritakan kejadian di kalas hari ini.


Bulan dan Qin sudah sampai di restoran Halal, tak lupa sebelum keluar Qin menggunakan masker dan kaca mata hitam.


“ini.” Qin memberi Bulan kaca mata hitam dan masker juga.


“buat apa?” tanya Bulan.


“pakai saja.” Ucap Qin.


“kalau begitu tunggu saya di luar.”


Qin pun keluar. Bulan di dalam mobil mengenakan masker karena dia tidak membawa konektor masker, jadi dia harus melepas hijabnya untu memasang masker di kedua telinganya.


“sudah.” Bulan keluar dari mobil Qin. Mengunakan masker dan kacamata hitam yang di beri Qin.


“mulai sekarang kalau mau keluar dengan saya harus begini.” Ucap Qin sambil berjalan menuju restoran yang sudah di pesannya di ruang private.


Setelah masuk Qin meminta menu dan memesan makana.


“kamu mau pesan apa?” tanya Qin kepada Bulan.


“ini saja.” Ucap Bulan menujuk satu makanan.


“saya pesan semuanya.” Ucap Qin. Qin mengingat kalau waktu itu Bulan makan sangat banyak.


“oh iya ini…” Bulan hendak menjelaskan apa yang di katakana Ma laoshi.


“sudah kita makan dahulu, saya tidak suka saat makan membahas hal lain.” Ucap Qin.


“oh.”

__ADS_1


__ADS_2