Dia Suami Cinaku

Dia Suami Cinaku
DIS PART 35


__ADS_3

Dia itu suamiku part 35


Setelah pelajaran usai.


“Xu, Xi, saya mau melanjutkan mengerjakan tugas dengan Qin.” Ucap Bulan berpamitan.


“iya hati – hati.” Jawab Xixi.


Bulan berjalan mengikuti Qin dari belakang, Xuxu dan Xixi hanya menatap kepergian temannya itu.


“eh tumben sih.” Tanya Xuxu.


“tumben kenapa?” tanya Xixi.


“tau tidak kata teman saya di kelas malam. Qin itu selalu awal waktu mengumpulkan tugas.” Ucap Xuxu dengan ekspresi curiga.


“lalu?” tanya Xixi,


“biasanya hari ini dapat tugas, besok dia akan langsung mengumpulkan.”


“ya terus. Mungkin tugas kali ini sulit.” Ucap Xixi yang tidak faham dengan maksud Xuxu. “sudah saya ada janji dengan Chen.” Xixi bangun dari duduknya dan meninggalkan Xuxu.


Di parkiran mobil. Para mahasiswa heboh karena Qin, dan lebih ricuh lagi ketika Bulan masuk ke mobil Qin.


“ha siapa gadis itu?”


“iya siapa ya? kenapa dia masuk ke mobil Qin.”


“apa dia teman kelas?”


“umm dia, saya dengar dia siswa berprestasi yang ikut pertukaran pelajar selama satu tahun.”


Bulan hanya diam di dalam mobil mendengar celetukan mahasiswa dan mahasiswi lain.


“kenapa.” Tanya Qin yang melihat ekspresi Bulan mengerut..


“tidak ada.” Jawab Bulan, memasang sabuk pengaman.


“mau makan dulu…”


“tidak kita langsung kerjain aja.” ucap Bulan memotong kalimat Qin.


“baik lah kalau begitu.” Qin menjalankan mobilnya menuju apartemennya.


Di Grup ABWN


Nana : [ Wardah lagi patah hati.]


Bulan : [ ha kenapa?]


Nana : [mengirim foto]


Aira : [ust Soleh bukan sih itu?]


Nana :[ umm]


Bulan : [lalu?]


Wardah : [dia foto sama cewek bercadar.]


Bulan : [hahahahah, kamu salah faham.] Bulan mengetik sambil tersenyum senyum sendiri. Qin yang melihatnya kurang suka.


“bisa tidak kalau saya sedang mengemudi kamu jangan main ponsel.” Ucap Qin sedikit dengan nada kesal.


“kenapa memang?” tanya Bulan.

__ADS_1


“yaa ajak saya ngobrol biar tidak bosan.” Ucap Qin.


“bentar.” Ucap Bulan masih membalas pesan temannya.


Bulan : [itu temannya cowok. Ini saya kirim videonya.]


Aira : [ lah kamu dapat dari mana?]


Nana : [iya kamu dapat dari mana itu video.]


Bulan : [ dari mama]


Wardah : [ bikin sakit hati. Saya kira dia akan bersama gadis lain]


Bulan : [ngaco kamu. Mana berani ust Soleh dekat sama gadis lain, kecuali dia ingin di nikahkan oleh papanya. Eh udah dulu ya, saya lagi sama Qin.]


Aira : [apa sama Qin coba foto]


Nana : [Bulan Qin yang mana?]


“kamu mau ngobrol apa?” tanya Bulan.


“terserah. Kamu boleh cerita tentang masalahmu.” Ucap Qin menfokuskan mengemudi.


“tapi saya tidak punya masalah.” ucap Bulan karena memang tidka merasa ada masalah.


“aneh, biasanya wanita punya banyak masalah.?” tanya Qin.


Bulan hanya mengerutkan keningnya bingung dengan maksud Qin.


“umm boleh saya bertanya?” ucap Bulan berusaha mencari topik pembicaraan.


“silakan.”


Qin memelankan mobilnya. Tidak mengucapkan sepatah kata apapun.


Bulan melihat reaksi Qin dia menyadari kalau Qin mungkin tidak akan memberi tahunya.


“oh iya tugas dari Ma laoshi seharusnya hari ini bisa di selesaikan?” Bulan mengalihkan pembicaraan.


“umm.” Jawab Qin. Singkat, padahal dari tadi Qin banyak ngedumel namun sekarangt dia diam membisu seperti lidahnya membeku.


Keadaan kembali hening. Di antara Bulan dan Qin di dalam mobil.


(apa yang terjadi kenapa Qin diam saja) batin Bulan. Memalingkan wajahnya menghadap jalan di luar kaca mobil.


(apa yang harus saya katakana. Dia bertanya seperti itu.) batin Qin yang bingung harus menjawab apa kepada Bulan. Karena tidak ada yang tau bahwa Qin mempunyai kakak kecuali orang tuanya dan Wangzi bahkan mereka tidak pernah menanyakan hal itu kepada Qin. Namun kali ini Bulan mengetahuinya.


Sampai di depan apartemen Qin, mereka masih tidak mengucapkan sepatah katapun.


Pintu apartemen Qin terbuka. Bulan melepas sepatunya mengganti dengan sandal yang biasanya dia pakai.


“kalau begitu saya langsung ke ruang baca.” Ucap Bulan berjalan menuju perpustakaan pribadi Qin.


Qin yang belum sempat menjawab. Hanya melihat Bulan yang berjalan cepat menuju ruang bacanya.


Qin kemudian mengambil air mineral dan beberapa makanan ringan, membawanya ke ruang bacanya.


“maaf kemarin saya tidak tau kalau muslim tidak boleh makan itu.” Ucap Qin.


Kembali ke saat Bulan buru – buru keluar karena Qin menawarinya sarapan dengan daging.


“ha kenapa? Apa dia tidak suka dengan masakan saya” ucap Qin yang heran.


Tak lama Wangzi datang.

__ADS_1


“saya lihat siapa itu, Bulan baru saja keluar.” Ucap Wangzi masuk ke dalam apartemen.


“iya padahal saya sudah masak sarapan untuknya.”


“apa yang kau masak.”


“ini.” Qin menunjuk daging yang dia masak.


“ha ha ha, pantas dia lari .”


“kenapa?” Qin mendengar ucapan Wangzi heran.


“coba kamu cari di internet makanan yang tidak boleh di makan orang islam.” Ucap Wangzi, sambil mencicipi masakan Qin. “enak lumayan makin hebat kamu.” Wangzi memuji masakan Qin.


“ha ha.” Qin tertawa. Melihat kekonyolannya. “pantas dia langsung kabur.”


Kembali ke masa sekarang.


Qin kemudian mengambil air mineral dan beberapa makanan ringan, membawanya ke ruang bacanya.


“maaf kemarin saya tidak tau kalau muslim tidak boleh makan itu.” Ucap Qin. “kalau ini saya jamin halal.” Ucap Qin menyodorkan makanan dan minuman kepada Bulan.


“terima kasih.” Bulan menerimanya.


“oh iya bukannya kamu tadi bertanya siapa yang saya sebut sebut waktu saya sakit.


“umm tidak, kalau kau keberatan anggap saja saya tidak bertanya.” Ucap Bulan menolak.


Qin duduk di dekan Bulan lalu mulai menceritakannya. Siapa yang dia panggil kakak, apa hubungan mereka sampai kejadian yang menimpa Qin.


Bulan yang mendengarnya air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Begitu pula Qin yang bercerita matannya memerah berkaca kaca, air matanya meronta untuk jatuh namun Qin menahan berulangkali dia menengok ke atas untuk menolak keinginannya menangis.


Bulan menarik Qin ke dalam pelukannya. Seketika Qin tidak bisa membendung air matanya isak tangisnya membasahi bahu Bulan.


“sudah tidak apa jangan di tahan.” Ucap Bulan sambil membelai Qin yang dari tadi berusaha agar air matanya tidak jatuh. Namun ketika dalam pelukan Bulan, Qin tidak bisa membendung air matanya.


“ka- kau membuat saya menangis.” Ucap Qin


“kau yang ingin menangis sendiri namun kau tahan.” Bulan hendak melepaskan pelukannya.


“tunggu biarkan begini sedikit lebih lama.” Ucap Qin memper erat pelukannya.


Bulan hanya menelan air ludahnya, jantung serasa mau lepas dari pangkalnya. Namun Bulan berusaha untuk tetap tenang di dalam pelukan Qin.


“apa kau kurang enak badan?” tanya Qin melepas pelukannya.


“tidak.” Jawab Bulan wajahnya memerah.


“saya merasakan detak jantungmu begitu cepat.” Ucap Qin menunjuk posisi keberadaan jantung Bulan.


“uum e t-tidak. Hari sudah petang saya pulang dulu.” Bulan langsung pergi dari rumah Qin.


“huuf Untung saja saya segera keluar kalau tidak bisa bisa kacau.” Ucap Bulan lirih menggunakan bahasa Indonesia.


“Bulan.” Sapa Wangzi.


“tuan Wang.” Bulan menyapanya balik.


“Qin?” tanya Wangzi mengisyaratkan dengan matanya.


“ada di atas.” Jawab Bulan.


“oh terima kasih kalau begitu.”


“iya Zai jian.” Ucap Bulan lalu segera pergi.

__ADS_1


__ADS_2