Dia Suami Cinaku

Dia Suami Cinaku
DIS PART 41


__ADS_3

Dia itu suamiku part 41


Bulan yang mendengar ucapan teman kelasnya dia mersa bersalah karena apa yang dia lakukan. (jadi selama ini saya hanya pengagum, saya tidak mengetahui apa apa tentangnya.) batin Bulan.


Setelah kelas selesai Bulan pergi ke apartemen Qin. Namun berulang kali dia menekan bel tidak ada respon dari dalam. Bulan menghubungi Qin.


Di sisi Qin dia yang sedang merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu dengan bermain ponselnya. Matanya melebar kemudian tersenyum melihat panggilan masuk dari Bulan.


[iya hallo Bulan ada apa?]


[ummm, kamu di mana? Saya ada di apartemen kamu namun sepertinya kamu tidak ada?]


[tunggu sebentar, saya sedang keluar habis ini saya kembali kamu masuk dulu saja.] Qin bergegas mengambil jaket dan kunci mobilnya.


[oh iya kalau begitu] Bulan mematikan panggilan.


“mau kemana?” tanya mama Qin melihat putranya yang bergegas hendak keluar rumah.


“keluar sebentar ma.”


“eh kamu belum sehat…”


“nanti pulang lagi ma.” Qin buru – buru pergi.


“dasar anak itu. Badanya masih belum pulih tapi keluyuran.” Gerutu mama Qin melihat putranya pergi.


Qin berjalan menuju apartemennya yang kira – kira butuh waktu 45 menit dari rumah orang tuanya.


Bulan yang baru saja masuk ke apartemen Qin, dia kemudian mengganti sepatunya dengan sandal yang biasanya dia pakai. Kemudian dia menuju dapur dan mulai mencuci sayur yang dia bawa. Dan memasak sederhana.


“berhubung dia belum datang, lebih baik saya bergegas untuk memasak, nanti dia sampai bisa langsung makan.” Ucap Bulan memasak beberapa masakan yang bisa dia masak.


Di sisi Lain mama dan papa Bulan yang termenung di ruang tengah mereka merindukan kedua anaknya yang pergi jauh untuk belajar.


“ma, kita punya dua anak tapi seperti tidak ada.” Ucap papa yang sedang duduk bersandar bersama mama Bulan.


“iya pa,”


“gimana kalau kita nambah satu?”


“paaa, itu tiga anak papa belum besar masak mau nambah lagi.” Ucap mama menunjuk ketiga kucing milik papa.


“yaa juga, nanti kalau nambah lagi anak kita jadi enam.” Ucap papa sambil bergurau.


Di sisi Lain Aira yang sedang bersama Aprilian di sebuah café.


“Ai.” Panggil Aprilian.


“apa sayang.” Jawab Aira yang sedang meminum minuman yang dia pesan.


“ayo kita nikah aja?”

__ADS_1


“ha?”


“iya kita nikah.”


“kamu kesambet apa bilang kayak gitu?”


“saya serius Ai, kita udah lama, dan juga kalau begini terus takutnya akan terjadi hal- hal yang tidak di inginkan.” Ucap Aprilian memegang tangan Aira.


“tapi kan kamu janji, kita nikah habis aku lulus yang…”


“kita lulus masih kurang satu tahun setengah itu lama Ai.”


“sebentar – sebentar tunggu napa sih.” Aira mulai kesal dengan Aprilian.


“nunggu lulus sama sekarang apa bedanya si Ai?”


“kamu janji kita nikah setelah aku lulus kuliah yang, tauk ah kamu bikin kesal.” Ucap Aira pergi meninggalkan Aprilian dengan kesal.


“Ai tunggu.” Ucap Aprilian mengikuti Aira dari belakang.


“kalau kamu tetep kayak gini. Kita putus aja.” ucap Aira menangkis tangan Aprilian.


Aprilian yang mendengar apa yang di katakana Aira pun terdiam, dia berhenti tidak mengejar Aira. Aprilian melihat Aira yang semakin menjauh dari hadapannya.


Di Apartemen Qin Bulan yang sudah selesai dengan beberapa masakan sederhana


“akhirnya selesai juga.” Ucap Bulan menyajikan makanan yang dia masak.


“Astagfirullah, bikin kaget. Kamu masuk tidak ada suara.” Ucap Bulan terkejut melihat Qin sudah berada di depannya.


“maaf. Saya baru saja sampai. Ini? Ini makanan kesukaan saya, bagaimana kamu bisa tau.” Ucap Qin melihat beberapa makanan kesukaannya.


(aduh bisa – bisanya saya masak makanan kesukaannya semuanya. Semoga dia tidak curiga.) batin Bulan. “ummm benarkah, saya Cuma membuat masakan asal saja tidak tau kalau kamu menyukainya.” Ucap Bulan ngeles.


“kenapa kamu tiba – tiba masak buat saya?” tanya Qin.


“umm ini permintaan maaf saya karena waktu di taman hiburan membuatmu jatuh sakit .” ucap Bulan sambil menundukkan kepala merasa bersalah.


“tidak masalah hanya masalah sepele.” Ucap Qin tersenyum. “ini saya boleh makan atau masih harus mengobrol dengan mu?” tanya Qin.


“oh iya maaf, sebentar saya mabil nasi.” Bulan berjalan mengambil mangkuk dan mengisinya dengan nasi.


Qin melihat Bulan tersenyum bahagia.


Bulan menyerahkan mangkuk berisi nasi kepada Qin. “silakan.” Ucap Bulan. Bulan dan Qin kemudian mulai makan bersama.


“ini coba ini.” Ucap Bulan memberikan lauk kepada Qin.


“ah iya terima kasih.” Ucap Qin melihat Bulan memberikan lauk ke dalam mangkuk nasinya.


Di sisi lain mama Qin yang menunggu Qin belum juga pulang.

__ADS_1


“kemana lagi Qin, sudah satu jam lebih kenapa dia belum kembali?” ucap mama Qin yang menunggu Qin.


Pintu rumah terbuka.


“Qin.” Panggil mama, namun yang datang bukan Qin melainkan papa Qin yang baru pulang kerja.


“ma? Nunggu siapa?” tanya papa melihat mama yang sedang berdiri di dekat pintu.


“nunggu Qin pa, dia keluar dari tadi namun tidak kunjung pulang.” Jawab Mama.


“sudah telfon? Memeng dia tadi pamit kemana?” tanya papa mengambil ponselnya dari saku celana mencoba menghubungi Qin.


“tadi dia hanya bilang keluar sebentar tapi sudah satu jam lebih dia belum balik pa.” ucap mama.


[hallo Qin kamu dimana?]


[pa? Qin sedang makan di luar]


[dengan siapa? Ini mama kamu khawatir menunggu di rumah, cepat pulang.]


[iya pa]


[Qin kamu kemana? Kenapa belum pulang, katanya Cuma sebentar?] tanya mama merebut ponsel dari tangan papa.


[Qin lagi makan ma, sebentar lagi Qin pulang.]


[oh makan, kalau begitu setelah makan cepat pulang]


[iya ma]


“udah ma jangan khawatir Qin bukan anak kecil lagi.” Ucap papa.


“iya tapi Qin Cuma satu satunya putra kita pa, apa lagi dia sekarang lagi kurang fit.” Ucap mama.


“ya sudah kan udah tau sekarang mama duduk saja.” Papa membawa mama untuk duduk di ruang tengah.


Di sisi Bulan dan Qin.


“ada apa?” tanya Bulan yang mendengar percakapan Qin dengan orang tuanya melalui telefon.


“tidak ada .” jawab Qin.


“tadi saya dengar mama kamu memintamu untuk segera pulang?”


“iya karena baru keluar dari rumah sakit jadi mama sedikit khawatir.”


“umm, maaf gara – gara saya kamu….” Ucap Bulan nada penyesalan kerena membuat Qin sakit.


“tidak apa, bukan salah kamu, saya saja yang terlalu lemah.”


“tidak jangan bilang begitu.” Bulan membungkam mulut Qin dengan jarinya. “umm maaf. Saya tidak bermaksud.” Bulan tersadar dengan apa yang dia lakukan. Menarik kembali jarinya dari bibir Qin (bodoh.. kenapa kau menyentuh bibir Qin.) batin Bulan sambil memukul tangannya di bawah meja agar Qin tidak melihat.

__ADS_1


__ADS_2