
Dia itu suamiku part 30
“wah kebetulan anak tante juga kuliah di situ, lain kalai kalau dia di rumah tante kenalkan.”
“iya tante.”
Sesampainya di rumah tante Yi. Tante Yi mempersilakan Bulan untuk masuk rumahnya.
“tante di rumah sendiri?” tanya Bulan melihat rumah tante Yi tidak ada orang sama sekali.
“tidak tante tinggal sama suami tante.”
“lalu anak tante?” tanya Bulan, karena melihat rumah tante Yi yang banyak hiasan tapi tidak adap foto keluarga yang terpampang.
“anak tante sudah punya rumah sendiri, kadang – kadang baru berkunjung.”
“oh. Iya iya. Tante ini di letakkan di mana?” tanya Bulan yang masih memegang kantung belanjaannya.
“mana.” Tante Yi mengambil kantung belanjaannya dari tangan Bulan. “kamu mau minum apa?”
“tidak perlu tante, saya pamit dulu.” Ucap Bulan sesudah mengantar tante Yi.
“tidak istirahat dulu?” tanya tante Yi menghampiri Bulan.
“terima kasih tante lain waktu saja.” Ucap Bulan.
“terima kasih sudah membantu ya.”
“iya tante, kalau begitu saya pamit.”
“ya, bener ya lain kali mampir ke rumah tante.”
“iya tante.” Bulan tersenyum.
Bulan keluar dari rumah tante Yi dia melanjutkan jalan – jalannya. Dia menatap pakainnya teringat pertanyaann tante Yi.
Kembali ke waktu Bulan dan tante Yi di jalan menuju arah pulang.
“kamu pakai begini tidak panah?” tanya tante Yi dalam perjalan pulang.
“tidak saya sudah terbiasah.” Jawab Bulan sambil terseyum. “ini kewajiban sebagai musliah.” Tambah Bulan.
“di zaman modern seperti ini apa kamu tidak takut di ejek karena berpakain seperti ini?” tanya tante Yi.
“Bulan tidak begitu menghiraukan ucapan orang lain, yang terpenting baik menurut Bulan dan tidak merugikan orang lain.” Jawab Bulan, sambil tersenyum.
Kembali ke waktu sekarang.
Bulan keluar dari rumah tante Yi dia melanjutkan jalan – jalannya. Dia menatap pakainnya teringat pertanyaann tante Yi.
“selagi Bulan nyaman. Meski di hujat orang apa perdulu.” Ucap Bulan masa Bodoh.
Bulan melanjutkan perjalannya.
Bulan sedang duduk – duduk di taman, panggilan masuk dari Wardah.
[Assalamualaikum Bulan.]
[Waalaikum salam Wardah apa kabar?]
[kabar baik. Kamu apa kabar?]
[baik ini saya lagi jalan – jalan di taman]
[kangen kamu tauk]
[saya juga.]
[eh tidak ada kabar dari ust Soleh?]
[ummm, ada, mama bilang kak Soleh tahun depan pulang]
[yah kalau itu ma sudah tau]
__ADS_1
[yakan itu juga kabar, kenapa kamu kangen?]
[kangen pakek banget]
[oh iya Lan, kamu sudah di beri tau Aira belum?]
[apa emang? Belum.]
[kata Aira, Aprilian mau ngelamar Aira.]
[Alhamdulillah]
[tapi Aira masih belum mau.]
[lah kok gitu sih?]
[Aira masih mau lanjut S2. Padahal kan bisa S2 setelah menikah.]
[lalu?]
[entah bagaimana kayaknya mereka lagi perang dingin]
[Aira belum ngasih tau saya si]
[belum mingkin, ini saja saya di kasih tau Nana.]
[dasar Aira ini, di seriusin malah tidak mau]
Bulan dan Wardah mengobrol panjang kali lebar.
Di sisi Qin.
Haaaaaachiu. Suara Bersin Qin.
“boss beneran tidak perlu ke rumah sakit?” tanya Wanzi.
“tidak Cuma flu biasa.” Ucap Qin. “lihat saya? Apa wajah saya jelek?”
“tidak kenapa boss?” tanya Wangzi merasa aneh tiba – tiba seorang Qin yang selalu narsis tiba – tiba insecure.
“ha?. Kayaknya dia tidak beres.” Ucap Wangzi heran, biasanya para gadis berlomba – lomba mendekati Qin. Tapi ini sebaliknya. “apa kamu di tolak Boss.”
“belum sampai tahap itu”.
“apa kamu menyukainnya?” tanya Wangzi penasaran, tidak seperti biasany Qin membahas seorang gadis.
“tidak, mana mungkin saya menyukai gadis yang memakia pakain tertutup seperti itu.” Bantah Qin pada pertanyaan Wangzi.
(ada yang tidak beres) batin Wangzi menyipitkan matanya, menarik satu sudut bibirnya sambil menatap wajah Qin yang sedikit pucat.
“apa?” tanya Qin yang melihat ekspresi Wangzi.
“tidak. Boss karena kamu sakit bagaimana kalau Yoyo biar bersamaku.” Ucap Wangzi.
“silakan kalau kamu bisa membawanya.” Ucap Qin. Yoyo hanya suka di sentuh oleh Qin, selain Qin yoyo tidak mau di gendong orang lain. Biasanya Wangzi harus mati – matian mengejar Yoyo supaya dia bisa di bawa suting menemani Qin. Kalau tidak Qin sendiri yang memasukkan Yoyo ke dalam boxpet kepunyaan Yoyo.
“tangkapkan nanti saya bawa.” Ucap Wangzi.
“tangkap sendiri.” Jawab Qin. Merebahkan tubuhnya setelah meminum obat yang di beri Wangzi.
Wangzi hanya memonyongkan mulutnya.
“apa masih ada yang lain boss?” tanya Wangzi.
“tidak, kamu boleh pergi.”
“kalau begitu saya pergi, oh iya makanannya ada di kulkas nanti tinggal panasin.” Ucap Wangzi.
“oke.” Jawab Qin melanjutkan istirahatnya.
Wangzi meninggal kan Qin.
Hari mulai sore Bulan berjalan kembali ke asrama. Di perjalanan dia tak lupa membeli makanan untuk makan malamnya.
__ADS_1
[halo Xuxu, saya membeli roti apa kamu juga mau?]
[iya belikan saya satu. Oh Xixi juga]
[baiklah kalau begitu]
Bulan memesan tiga roti.
Di sisi Aira. Wajahnya cemberut karena sedang bertengkar dengan Aprilian.
“kamu kenapa nak?” tanya mama Aira.
“tidak apa ma.”
“kalian bertengkar lagi ya?” tanya mama.
“tidak.”
“bilang ke mama ada apa?”
“itu Aplilian, kan Aira sudah bilang mau lanjut S2 dulu, tapi dia ngajak Aira nikah setelah lulus S1.” Gerutu Aira.
“ya tidak papa sayang, berarti nak Aprilian serius.” Ucap mama sambil membelai rambut putrinya.
“tapi Aira belum siap. Aira belum bisa apa apa ma.”
“lalu mau kamu bagaimana?”
“entahlah.”
Aira yang masih bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya dengan Aprilian.
Di sisi lain di rumah Bulan.
Papa yang sibuk dengan ketiga kucingnya.
“pa makan dulu yuk.” Ucap mama Bulan meminta suaminya segera menuju meja makan.
“iya ma.” Papa berjalan menuju meja makan.
“pa.” panggil Mama.
“hmm.”
“pa mama kangen sama anak anak.”
“ya di doain saja semoga mereka sehat – sehat.”
“aamiin.”
Papa dan mama Bulan makan bersama di meja makan.
Di sisi Bulan yang sedang berjalan menuju arah asrama di kagetkan oleh seseorang yang memanggilnya.
“Bulan.”
“Asstagfirullah. Kagat saya.” Ucap Bulan Lirih.
“Bulan, di panggil diam saja.” Ucap Liwan teman sekelas Bulan.
“kak Li, biikin kaget saja.” Ucap Bulan.
“dari mana?” tanya Liwan.
“dari jalan - jalan, kakak dari mana?” tanya Bulan.
“habis lari sore.” Ucap Liwan. Yang tubuhnya penuh keringat setelah olahraga membuat pakainnya basah dan membentuk lekukan dada bidangnya.
Bulan menatap sambil hampri terpesona “astagfirullah sadar,” ucap Bulan lirih langsung memalingkan pandangannya.
“kenapa Lan?” tanya Liwan.
“tidak ada. Kalau begitu Bulan kembali dulu kak, sampai jumpa.” Bulan pergi meninggalkan Liwan.
__ADS_1
“anak ini punya daya tarik tersendiri padahal yang tampak hanya wajah mungilnya.” Ucap Liwan lirih menatap kepergian Bulan, hingga punggung Bulan serangsur angsur menghilang. Liwan kemudian pergi kembali ke asramanya.
Bulan yang masih mengingat lekuk tubuh Liwan. “istigfar Bulan dosa, tapi kok bagus ya. astagfirullah.” Ucap Bulan berulang kali berusaha melupakan apa yang dia lihat.