
Dia itu suamiku part 22
Ma Laoshi masuk ke kelas.
Melihat kelasnya sangat banyak anak yang mau melihat Qin. Ma Laoshi pun meminta anak yang bukan dari kelasnya segera keluar.
Qin hanya menanggapi dengan senyuman.
Ma laoshi memulai pelajaran.
Dua hari sebelum penerbangan,
“sayang ini ada poss untuk kamu.” Ucap mama menerima kiriman pos surat.
“iya ma.” Bulan langsung turun dari kamarnya. Membuka possnya berisi paspor dan Visanya dan ada note yang berisi ‘lain kali jangan terlalu memepet ya!’ Bulan membaca dengan senyuman.
“kenapa sayang?” tanya mama melihat Bulan yang tersenyum melihat pos yang dia terima.
“lihat ma. Sama petugasnya Bulan di kasih note.” Bulan menunjukkan ke mamanya.
Mamanya membaca dan ikut tersenyum.
“oh iya barang – barang kamu sudah semua?”
“sudah ma.”
“lusa kan kamu berangkat? Bisa tidak kamu tidak berangkat?” ucap mama memeluk Bulan tidak rela putrinya pergi.
“ma…” Bulan membalas pelukan mama.
Di kamar Bulan. Bulan sedang bertelefon dengan Wardah. Karena Bulan hendak ke Luoyang dosen pembimbingnya memberi izin untuk tidak masuk kelas untum memprsiapkan keberangkatannya.
[eh lan tau tidak?]
[mana tau kan kamu belum kasih tau]
[isu di kampus sekrang?]
[apa emang? Baru aja tiga hari saya tidak masuk emang ada apa?]
[kabar kamu menolak Wahyu tersebar.]
[lalu apa istimewahnya?]
[begini biar saya kasih tau ya Lan. Isu yang tesebar karena kamu tiga hari tidak masuk kelas. Mungkin bagi yang tidak tauu kamu hendak pergi ke cina mereka menganggap kamu menyesal telah menolak Wahyu. Kemarin Wahyu ke kampus mengurus beberapa berkas katanya. Dia mencari kamu di kelas. Dan tidak menemukanmu. Lalu dia menyebarkan kalau kamu menyesal menolaknya sampai tidak masuk kelas.]
[waduh parah tuh orang . narsis banget sih. Kepedean]
[makanya saya dan Nana dan beberapa teman hanya tertawa melihat itu. Eh kamu sebelum berangkat ke kampus dulu kan?]
[iya besok kayaknya soalnya lusa saya sudah berangkat. Saya baru menerima paspor dan visa.]
[bagus kalau begitu. Nanti saya bilang teman – teman.]
[besok saya traktir makan.]
[baik nanti saya bilang teman – teman].
“sudah siap semua tinggal beberapa besok di lanjut.” Ucap Bulan setelah menata semuanya.
Biip biip pesan dari kak Vando.
__ADS_1
Vando : [adikku ]
Bulan : [apa kak?]
Vando : [ kamu benar pergi ke cina?]
Bulan : [iya lihat –Bulang mengirim anda gambar- sudah siap semua lusa Bulan berangkat.]
Vando : [perasaan mama pasti sedih. Setelah kakak pergi eh kamu juga ikut]
Bulan : [ya mau bagaimana kak kesempatan tidak datang dua kali.]
Vando : [iya bener kata kamu. Besok di sambung lagi kakak mau tidur]
Bulan : [okeh kak].
Luoyang China.
Sepulang Kampus Qin pergi ke apartemannya. Di letakkan tasnya di atas sofa ruang tamunya. Qin merebahkan tubuhnya. Untuk sekian lama dia yang biasanya jam jam begini tidak pernah di rumah kali ini dia menikmati ke sendiriannya. Baru saja dia memejamkan matanya.
Biip – biip ponselnya berbunyi. Panggilan masuk dari Wangzi
Wangzi menghubungi Qin karena Lihua minta benrtemu dengan Qin san marah marah tidak jelas. Wangzi meminta Qin untuk segera ke kantor agensi.
Sesampianya Qin di kantor agensinya.
Qin menemui Lihua yang menunggunya di tempat tunggu.
Qin membuka pintu. Lihua yang melihat langsung tersenyum bahagi Lihua hendak memeluk Qin namun di tahannya.
“berhenti.”
“siapa ayah dari anak itu kamu sendiri yang tau. Ada urusan apa kamu mencari ku?” tanya Qin.
“saya sudah bilang anak ini milikmu.” Ucap Lihua.
“cih… saya bahkan tidak pernah menyentuhmu. Dan kejadian malam itu saya bahkan tidak masuk ke kamarmu. Saya ingat saya di bawa keluar oleh Wangzi.” Jelas Qin.
Kembali ke kejadian satu bulan lalu. Setelah suting selesai Lihua datang bersama rekannya padahal dia tidak ikut andil dalam film tersebut.
“kenapa dia kesini?” tanya salah satu actor.
“tidak tau.” Jawab Qin
“eh dia menghampirimu.” Ucap Luixi.
“Qin. Lama tidak jumpa. Ini.” Luhia datang sambil memeberi segelas anggur.
“maaf saya sedang kurang sehat dan tidak minum.” Tolak Qin.
“hargai lah saya. Satu teguk saja.” Bujuk Lihua.
Qin pun berfikir mungkin satu teguk tidak masalah. stelah meneguk tegukan pertama Qin pamit unduru diri. saat henda kelaur dari ruangan tiba- tiba Qin merasa pusing. Tapi masih sadar hampir tubuhnya tidak bisa menjaga ke seimbangan. Qin segera menghubungi Wangzi Lihua yang melihat Qin di depan pintu yang berjalan sedikit sempoyongan menghampiri dan membopong Qin.
“saya bantu.” Ucap Lihua menarik lengan Qin ke bahunya.
“terima kasih.” Qin tanpa curiga hanya berjalan mengikuti Lihua.
Lihua membawanya ke kamar, dari kejauhan Wangzi yang meihat Qin segera menghampirinya. Lihua sudah hendak membawa Qin masuk ke dalam kamar. Saat hendak menutup pintu Wangzi berlari menghampiri mereka.
“kak Lihua.” Panggil Wangzi. “biar saya bawa pulang sepertinya dia kelelahan.” Wangzi langsung menarik Qin dari tubuh Lihua.
__ADS_1
Kembali ke masa sekarang.
“saya masih mengingat dengan jelas.” Ucap Qin.
“buktinya kamu masuk bersamaku dan keluar di pagi hari.” Ucap Lihua menujukkan rekaman cctv yang sudah dia editnya.
“katakana di mana video aslinya?” tanya Qin.
“ini asli.”
“kamu sudah merubahnya.” Ucap Qin.
“kita lihat saja besok saat sidang.” Ucap Lihua berbisik ke telinga Qin. “baiklah bayiku sudah melihat ayahnya sekarang kami mau pulang dulu.” Ucap Lihua meninggalkan Qin di ruang tunggua. Taklupa sebelum keluar dia mengelap lipstiknya.
Para staf dan karyawan melihat hanya heren dan juga pensaran sebenarnya mana yang benar.
Qin mengebrak meja hingga tangannya memerah.
“boss” panggil Wangzi baru membuka pintu.
Qin langsung keluar dan meninggalkan Wangzi. Sambil berkata “cepat cari buktinya.”
“baik boss.”
Di Indonesia jawa.
Keesokan paginya.
“Bulan….” Teriak Aira Nana dan Wardah.
“Assalamualaikum warahmatullah hiwabarokatu” ucap Bulan.
“Waalaikum salam warahmatullahiwabarokato.” Jawab teman – teman Bulan.
“nanti pulang kampus saya traktir.” Ucap Bulan kepada teman kelasnya.
Bulan di panggil dosen pembimbing untuk menemuinya di kantor.
“Bulan. Apa persiapan kamu sudah siap semua?” tanya Mr. Kay
“sudah Mr.” jawab Bulan.
“oh iya kali ini kamu belajarlah dengan sungguh. Setelah kembali bantu teman – teman kamu.” Ucap Mr Kay.
“iya Mr.”
“Bagus. Ini sedikit ucapan selamat dari saya. Meski tidak banyak mohon Bulan terima ya.”
“Mr. tidak perlu.” Bulan menolak pemberian Mr Kay.
“ambil saja. Sebagai ucapan selamat kepada kamu.” Paksa Mr Kay.
“kalau begitu saya terima dan terima kasih.”
“dan juga nanti sering- sering hubungi saya ya.” Ucap Mr Kay.
“baik Mr.”
“kalau begitu kamu boleh pergi. Dan nanti jangan lupa berpamitan dengann kawan – kawan.”
“iya Mr.” setelah itu Bulan pergi dari ruangan Mr Kay.
__ADS_1