
Dia itu suamiku part 25
“tapi ada benernya juga sih ya apa yang kamu katakana.” Ucap Xuxu menanggapi penjelasan Bulan.
“ya nanti sering sering berbagi ya.” ucap Xuxu senang dengan informasi yang cukup membantu.
“Xixi kamu dari tadi kok lihat ponsel terus si, jadinya kita makan di mana?” tanya Xuxu.
“sebentar saya lagi bertanya kepada kak Liuchen.” Ucap Xixi.
“cie bentar lagi jadian.” Ucap Xuxu.
“doakan saja.” Balas Xixi.
“Xixi.” Panggil seorang dari kejauhan.
“kak Chen.” Panggil Xixi
“wah mereka sudah terang terangan.” Ucap Xuxu berbisik kepada Bulan. “dari minggu lalu Xixi tidak mau memberi tau siapa yang memeberinya makanan dan mengajaknya jalan tapi sekarang di berani makan bersama.”
“mereka baru dekat ya?” tanya Bulan kepada Xuxu.
“sebenanya sudah lama. Tapi Xixi pura – pura mengabaikan.” Jalas Xuxu.
“oh ada Bulan ya” sapa Liuchen.
“malam kak.” Sapa Bulan.
“mau cari tempat halal?” tanya Liuchen.
“iya kak.” Jawab Xixi.
“kalau begitu mari.” LiuChen mempersilakan masuk mobil.
“kita di belakang kamu di depan.” Ucap Xuxu mendorong Xixi untuk duduk di depan dengan Liuchen.
“oh iya Xixi, makanan yang saya belikan kemarin bagaimana?” tanya Liuchen kepada Xixi.
“lumayan.” Jawab Xixi.
“enak kak, Xixi habis sekali makan.” Ucap Xuxu dari belakang.
“eha kamu diem ya.” Xixi wajahnya mererah karena malu.
“kalau enak nanti saya belikan lagi.”
Sesampainya rumah makan yang logo halal.
“ini termasuk restoran lama. Ini pemiliknya muslim kalau tidak salah.” Ucap Liuchen menjelaskan. “mari masuk.”
“wah bagus.” Ucap Bulan melihat interior restoran. “kakak jangan –jangan di sini mahal?” tanya Bulan.
“tidak disini kantong pelajar kok. Kata teman saya menunya juga enak – enak.” Ucap Luichen.
Saat mencari kursi chen melihat Qin bersama Wangzi yang duduk di ujung dekat jendela.
“eh bukannya itu Qin yang actor itu kan? teman kelas kalian.” Ucap Luichen.
“iya itu Qin.” Ucap Xuxu. Menghampiri meja Qin.
“halo Qin.”
“oh kamu?” tanya Qin berusaha mengingat.
“teman kelas kamu. Xuxu.”
“oh iya sayan ingat.” Ucap Qin.
“boleh tidak kite ber empat ikut duduk sini?” tanya Xuxu.
__ADS_1
“boleh silakan.” Ucap Qin.
“sebentar saya panggil teman- teman.”
“boss mereka?” tanya Wangzi lirih
“teman kelas saya. Tidak apa- apa” jawab Qin.
“ tapi….”
“Qin kami boleh ikut di sini?” tanya Liuchen.
“silakan makin ramai makin enak.” Balas Qin.
“kamu sering makan di sini?” tanya Xuxu
“tidak baru beberapa kali. Rasanya cocok dengan lidah saya.” Ucap Qin.
Mereka memesan makanan.
“kamu tidak kepanasan?” tanya Qin kepada Bulan.
“tidak.” Jawab Bulan singkat padahal hatinya bergejola ingin memeluk dan mencium Qin.
“kamu benar tidak mengenal saya?” tanya Qin.
Bulan hanya mengelengkan kepala.
“ah Bulan kamu tidak tau Qin?” tanya Xuxu.
“tau dia teman kelas kita bukan?” jawab Bulan.
“selain teman kelas kamu tidak tau dia siapa?” tanya Xixi.
“tidak.” Jawab Bulan. Bulan hanya menjawab tidak karena lidahnya seperti mati rasa tidak bisa mengungkapkan betapa senangnya dia duduk dan makan semeja dengan Qin.
“ternyata boss kamu tidak se terkenal yang saya kira.” Ucap Wangzi.
“hehe maaf Bos.” Ucap wangzi lirih.
Saat makanpun, semuanya menggunakan sumpit hanya Bulan yang mengunakan sendok. Bukannya dia tidak bisa menggunaka sumpit hanya saja kalau dengan sendok dia akan bisa makan lebih banyak dan cepat.
“kamu tidak bisa makan dengan sumpit?” tanya Qin.
“bisa.” Jawaban Bulan saingkat padat dan jelas.
“lalu kenapa pakai sendok?” tanya Qin.
“kalau pakai sumpit saya lama dan tidak kenyang.” Ucap Bulan.
Teman Bulan tertawa mendengar jawaban Bulan.
“kamu ini.” Ucap Xuxu menepuk pundak Bulan.
“pelan – pelan tidak ada yang merebut makanan kamu kok.” Ucap Xixi melihat Bulan yang makan dengan cepat.
Setelah selesai makan. Liuchen hendak membayar.
“biar Wangzi yang bayar.” Ucap Qin.
“tapi kita memesan banyak.” ucap chen.
“tidak apa, anggap sebagai jamuan pertemanan dari saya.” Ucap Qin “kalau begitu saya pamit sekalin.” Qin pamit undur diri.
Liuchen mengatar para gadis kembali ke asrama.
Di dalam asrama kamar.
Bulan melakukan panggilan grup dengan tiga temannya.
__ADS_1
Bulan :[Assalamualaikum teman]
Wradah Nana Aira : [waalaikum salam]
Nana : [Bulan apa kabar?]
Aira : [Bulan kengen kamu.]
Nana : [Bulan banyak cogan tidak.]
Bulan : [haduh kalian satu – satu lah. Yang pertama alhamdullillah kabar baiknya saya satu kelas dengan suamiku.]
Wardah : [siapa?]
Nana : [Qin?yixiaoqin]
Bulan : [iya betul. Bahakan hari ini saya makan dengan dia bersama] ekspesi Bulan sangat gembira.
Nana : [yang benar kamu. Jangan bohong.]
Bulan : [besok saya fotokan]
Xixi dan Xuxu melihat Bulan yang sedang bertelfon dengan bahasa Indonesia hanya tersenyum mereka tidak faham apa yang di bicarakan Bulan.
“udah selesai ngobrolnya?” tanya Xixi yang sedari tadi melihat Bulan tidak henti henti bicara.
“hehe sudah,” Bulan tersenyum kepada Xixi. Setelah itu Bulan pergi tidur tak lupa untuk berdoa ‘Ya Allah terimakasih telah kau temukan diriku dengan Qin. Semoga jodoh aamiin tapi versi seagama’. Bulan menyelimuti seluruh tubuhnya dan memejamkan matanya.
Keesokan harinya di hari kedua Bulan di Luoyang.
“pagi.” Sapa Qin yang baru masuk kelas. Kemudian dia duduk di sebelah Bulan.
“pagi.” Balas Bulan sambil menundukkan kepalanya. “umm boleh saya minta foto?” tanya Bulan.
(kan akhirnya dia mengenalku) batin Qin kegirangan. Dia mulai menyamakan Bulan seperti gadis lain.
“halo, boleh saya minta foto? Teman saya minta.” Ucap Bulan. Melambikan tangannya di depan wajah Qin. Sontak Qin tersadar dari lamunannya.
“boleh tidak?” tanya Bulan sekali lagi. Sambil memegan ponselnya. Melihat Qin yang hanya diam. Bulan kemudian duduk sedikit menjauh (apa dia terganggu dengan saya) batin Bulan.
“boleh mana?” Qin mengambil ponsel Bulan lalu mengajaknya berselfi. Bulan yang reflek pun langsung berpose.
“umm saya mau meminta foto kamu sendiri boleh?”
“buat apa? Apa kurang puas dengan foto selfi berdua?”
“bukan begitu maksud saya. Teman saya yang meminta untuk menfoto teman sebangku saya.” Ucap Bulan.
“kamu bisa menfoto orang lain.” Ucap Qin mulai kesal.
“tapi di sebelah saya Cuma kamu.”
“silakan kalau begitu.” Qin berpose untuk di ambil gambarnya oleh Bulan.
Di luar Bulan Nampak santai dan cuek kepada Qin. Tapi di dalam hatinya kegirangan. Bukan tanpa alasan namun Bualan takut jika Qin mengetahui kalau dirinya ngefan banget pasti dia akan ilfil.
Jam istirahat. Bulan sedang ketawa ketiwi membalas pesan Kiss.
Kiss : [kamu sudah berada di Luoyang bukan?]
Yue : [iya]
Kiss : [bagaimana kalau kita ketemuan?]
Yue : [sepertinya belum bisa saya sangan sibuk]
Kiss : [baik lah, kalau ada waktu luang kosong nanti kita janji ketemu]
Yue : [baik lah]
__ADS_1
“eh kamu kok senyum – senyum sendiri sih?” tanya Xixi yang melihat sedari tadi Bulan senyam – senyum.