Dia Suami Cinaku

Dia Suami Cinaku
DIS PART 23


__ADS_3

Dia itu suamiku part 23


“dan juga nanti sering- sering hubungi saya ya.” Ucap Mr Kay.


“baik Mr.”


“kalau begitu kamu boleh pergi. Dan nanti jangan lupa berpamitan dengann kawan – kawan.”


“iya Mr.” setelah itu Bulan pergi dari ruangan Mr Kay.


Bulan berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelasnya. Teman – temannya menunggu di kelas untuk mengucapkan sampai jumpa.


“kejutan.” Ucap teman- teman Bulan. Mengagetkan Bulan.


“kalian?” tanya Bulan terharu.


“kita makan di kelas saja. Saya suda pesan pitzza.” Ucap Wardah. “tapi belum saya bayar.” Bisik Wardah kepada Bulan.


“iya nanti biar saya yang bayar.” Balas Bulan berbisik kepada Wardah.


“terima kasih kalian.” Ucap Bulan kepada teman kelasnya.


“nanti sering sering hubungi kami ya.” ucap teman yang lain.


“iya saya lihat di sana banyak cowok ganteng.” Tambah teman yang lain.


“halah kalian ini. Cintai produk local.” Ucap teman laki – laki.


“produk local ma nyakitin muluk.” Jawab Nana.


“makanan datang.” Ucap kurir makana yang baru sampai. “ atas nama Bulan.”


“iya saya.” Bulan menghampiri pak kuriri. “berapa totalnya?”


“ini billnya kak.” Bapak itu memberikan bill kepada Bulan.


“ini. Kembaliannya ambil saja.” Ucap Bulam memeberikan beberapa lembar uanga.


“terima kasih kak. Jangan lupa bintang lima.”


“iya.”


“sini Bulan.” Ucap Nana mengaja Bulan.


Mereka satu kelas pun makan – makann bersama.


Dibandara.


Papa mama dan tiga teman Bulan mengantar keberangkatan Bulan.


“aaah pasti nanti kangen.” Ucap Wardah.


“nanti telfon ya kalau sudah sampai.” Ucap Aira.


“cari cogan.” Tambah Nana.


“kalian ini.” Jawab Bulan geleng – geleng kepala.


“pa ma Bulan berangkat ya Assalamualaikum.” Pamit Bulan


“waalaikum salam warahmatullah hiwabarokatu. Hati hati.”


Bulan masuk kabin pesawat paramugari menunjukkan kursi.


“silakan kuris nomor A12.”


“terima kasih kak.” Jawab Bulan.


Perjalanan panjang Bulan telah dimuali, Bulan akan berada di Negara asing selama satu tahun dia tidak akan tau apa yang akan terjadi selanjutnya.


Di sisi lain.


“pa rumah sepi ya tidak ada anak – anak.” Ucap Mama

__ADS_1


“iya. Bagaimana kalau kita buat adik?” tanya papa.


“jangan mulai deh.” Ucap mama.


Dulu memang Bulan bisa di bilang ada karena terpaksa. Dahulu setelah kelahiran Vando papa dan mama tidak berencana memiliki anak lagi cukup Vando saja. Namun papa dan mama kecolongan akhirnya ada lah Bulan. Setelah kelahiran Bulan papa dan mama sedikit kecewa karena berharap anak keduanya laki – laki. Lambat laun tanpa di sadarai saat Bulan tumbuh dewasa papa dan mamanya lebih menyayangi Bulan dari pada Vando. Kadang kala sangiking sayangnya papa apa pun keinginan Bulan akan langsung di turuti. Membuat Vando iri, ada makanan apapun yang di dahulukan Bulan. Dan apapun yang Vando punya jika Bulan memintanya mau tidak mau Vando harus memberikannya.


Tiba di awal cerita. Yang kemarin hanya pembukaan. Sekarang tiba di awal cerita sesunggunya.


Mohon map sedikit mbulet. Penulis juga mbulet urip e.


Dan bila mana ada kesalahan penulisan. Kurang huruf, atau pun hurufnya kebalik mohon di maklumi.


Oh iya dan bahasa mandarinnya sangat beloptan jadi saya putuskan untuk berhenti sampai di episode 21. Mohon pembaca jika ingin mengoreksi silakan. Di persilakan. Penulis menerima semua masukan dan saran. Karena penulis juga manusia tempat salah. Sekian dan terima kasih


Di atas habis iklan, sekarang kita lanjutkan


*****


Sesampainya Bulan di Luoyang, ibukota provinsi Henan Tiongkok. Luoyang merupakan salah satu ibu kota kuno di Tiongkok. Di sinilah kisah cinta Bulan di mulai.


(belum – belum)


Setelah menemupuh perjalanan kurang lebih seharian Bulan telah di jemput oleh senior yang mengorganisis.


Mengunakan Bahasa mandarin


“Bulan ya?” tanya Liuchen.


“iya kak.” Jawab Bulan.


“perkenalak saya Liuchen dan ini Baixixi.” Ucap Liuchen.


Liuchen memasukkan barang Bulan ke dalam bagasi mobil Xixi mempersilakan Bulan untuk masuk mobil.


“maaf kak bahasa mandarin saya kurang bagus.” Ucap Bulan.


“tidak, aksenmu cukup bagus.” Ucap Xixi. “oh iya nanti saya akan menjadi teman kamar kamu. Dan ada satu lagi siswi juga satu kamar semoga kita bisa berteman.”


“iya kak saya berharap begitu.”


“kali ini kampus kita Cuma menerima satu siswa, biasanya dua sampai tiga. Namun kali ini berbeda.” Ucap Xixi.


“kalau boleh tau kak Xixi sudah semester berapa?” tanya Bulan.


“sama seperti kamu saya semester empat jadi nanti kita satu kelas.” Ucap Xixi.


“oh Bulan kamu sudah makan?” tanya Liuchen.


“hehe belum kak.” Ucap Bulan.


“kamu mau cari makan apa?” tanya Xixi.


“apa aja kak yang penting Halal.” Ucap Bulan.


“resto halal ya, sebetar saya tanya ke teman – teman saya.” Ucap LiuChen.


“Bulan kamu pakai begini tidak panas?” tanya Xixi melihat Bulan mengenakan hijab.


“tidak kak sudah terbiasa.” Ucap Bulan.


“kalau panas lepas aja.”ucap Liuchen.


Bulan hanya menjawab dengan senyuman.


“sampai.” Ucap Liuchen menepikan mobilnya di dekat restoran yang bertulis makanan Halal dalam bahasa mandarin.


“kita makan dulu, kebetulan kami juga belum makan malam.” Ucap Xixi.


Mereka turun dari mobil dan memesan makanan. Pelayan memeberikan daftar menu makanan yang di jual.


“oh juga tempat ini dekat dengan asrama .” ucap Xixi.


“iya paling 5 sampai 10 menit kalau jalan kali.” Tambah Liuchen.

__ADS_1


“kamu pesan apa?” tanya xixi.


“saya pesan ini kak?” Bulan menujuk hidangan yang ingin dia makan.


“pembayarannya?” tanya si pelayan.


Bulan hendak mengeluarkan dompetnya.


“biar saya saja yang bayar.” Ucap Liuchen. “oh iya Xixi besok bawa dia ke toko ponsel. Karena ponselnya pasti tidak berfungsi.”


“iya besok kamu saya ajak keliling.” Ucap Xixi.


“iya terima kasih.” Jawab Bulan.


Setelah selesai makan Luichen mangantar sampai di parkiran lalu.


“yakin bisa bawa sendiri?” tanya Liuchen.


“bisa kak tidak banyak kok.” Ucap Bulan.


“biar di bantu kak chen saja.” Ucap Xixi,


“Bulan bisa sendiri kok.”


“ya sudah kalau begitu sampai jumpa. Jangan lupa telfon saya.” Ucap Liuchen kepada Xixi.


Bulan dan Xixi berjalan menuju asrama.


“kak Xixi dan kak Chen kalian?” tanya Bulan menebak kalau mereka bersama.


“belum saya belum memberi jawaban.” Ucap Xixi.


“ha kenapa kak? Kalau di lihat – lihat kak Chen baik orangnya?”


“iya tapi biasalah tarik ulur.”


“awas di bawa orang lo kak.”


“ya tidak apa kalau di bawa orang berati dia tidak sungguh – sungguh dengan saya.”


“iya bener juga kata kakak.”


Tidak terasa mereka berdua sudah berada di depan pintu asrama. Mereka berdua lalu berjalan menuju kamar.


“kejutan…..” ucap QiXu salah seorang teman asrama menyambut kedatangan Bulan dan Xixi.


“kamu kebiasaan.” Ucap Xixi.


“aah ini orang Indonesia ya imut yaa. Kamu tidak panah mengenakan pakaian seperti ini. Panjang panjang.” Ucap QIXu.


“tidak kak.” Jawab Bulan


“eh jangan panggil kak panggil Xuxu. Karena kita akan sekelas.” Ucap Qixu.


“iya jangan panggil kak panggil Xixi saja.” Ucap Baixixi.


“siap kak. Eh Xixi dan Xuxu.” Ucap Bulan.


“oh iya kamu tidur di sana tidak apa kan?” tanya Xuxu.


“di mana saja boleh.” Jawab Bulan.


“baiklah kalau begitu kamu bersihkan diri lalu istriahat. Masalah barang besok saja di bereskan.” Ucap Xixi.


“iya kak.”


“itu kamar mandinya.” Xixi menujukkan kamar mandi di dalam kamar.


Setelah selesai mandi. Bulan melihat ponselnya tidak ada jaringan sama sakali.


“mau menghubungi keluarga ya?” tanya Xixi.


“iya kak tapi ini tidak bisa di gunakan.” Jawab Bulan.

__ADS_1


“pakai punyaku saja.” Ucap Xuxu memberikan ponselnya kepada Bulan.


“terima kasih kak.” Bulan meneri sambil tersenyum.


__ADS_2