Ditaklukkan Gadis Tengil

Ditaklukkan Gadis Tengil
Bab 37. Dua Situasi Berbeda


__ADS_3

Zafa dan Star akhirnya memilih menghabiskan waktu mereka di dalam kamar. Benar apa kata Star. Gadis itu berjalan dengan aneh. Merasa tak tega, akhirnya Zafa selalu menggendong Star setiap ke kamar mandi atau berpindah kemana pun.


"Kita akan di sini sampai kapan?"


"Sampai kau berjalan dengan benar, Baby."


"Oh, kurasa itu akan sangat lama. Ini sangat perih. Kau benar-benar membuatnya bengkak."


Zafa tersenyum dan membelai rambut istrinya.


"Bukankah kau yang menantangku?"


"Tapi ada yang ingin aku tanyakan padamu, Honey. Bukankah dulu kau sering sakit-sakitan. Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu, tapi aku hanya ingin tahu."


"Tidak masalah, semua berkat campur tangan mama Dian. Asal kamu tahu, sebenarnya mama Dian itu bukan ibu kandungku. Dia awalnya hanya seorang ibu susu. Orang yang dengan suka rela membagi ASInya untukku yang saat itu kondisinya menyedihkan.


Aku alergi susu sapi dan segala produk yang dibuat dengan bahan itu. Mamaku sangat protektif sekali. Dia mau merawatku, membawaku berobat kesana kemari. Aku sembuh dari asma juga berkat dirinya yang sangat ketat menerapkan hidup sehat di keluarga kami meskipun dia lelah merawat kami berlima, tapi dia selalu mendahulukan aku. Mama Dian tidak pernah absen membawaku chek up."


"Berarti aku perlu berterima kasih pada mama. Berkat dia aku memiliki kau yang sehat dan tampan."


Zafa terkekeh dan menarik hidung istrinya. "Jadi semua produk susu di dalam pendingin itu?" tanya Star keheranan.


"Itu susu domba, keju pun juga dari domba. Apa kau tidak merasakan bedanya?" Zafa kini menatap heran ke arah Star. Star meringis sembari menggelengkan kepalanya.


"Bagiku semua terasa manis karena aku menikmatinya sembari memandangimu, Honey," kata Star mengerling nakal.


"Apa kau ingin menambah satu ronde lagi, Baby. Sepertinya kau sejak tadi terus menggodaku."

__ADS_1


"Tidak. Aku sama sekali tidak menggodamu, Honey."


"Lalu?"


"Aku ingin kita keluar," kata Star.


"Apa kau sudah bisa berjalan dengan benar?"


"Mungkin."


"Aku ingin berkumpul bersama dengan keluargamu, tapi aku malu jika nanti mereka mengolokku karena jalanku yang aneh."


"Kita seharian akan di sini. besok kita pulang. Setelah itu aku akan mengajakmu pergi ke spanyol. Aku punya kejutan untukmu."


"Apa?"


"Kau baru saja mengajar, apa boleh cuti?"


"Sudah ada temanku yang menggantikannya."


"Oh, ya? Siapa?"


"Rahasia. Aku tidak akan memberitahumu karena kau bukan lagi mahasiswiku."


"Tapi aku adalah istrimu jika kau lupa itu," kata Star sembari mengecup bibir Zafa.


*

__ADS_1


*


*


Jika Star sedang berbahagia dengan Zafa. Lain halnya dengan Bertha dan Damian yang sekarang sedang ketakutan. Hari ini pria paruh baya yang akan menjadikan Star sebagai istrinya mendatangi mereka dan tampak murka.


"A_ampuni kami, tuan Robert. Kami janji akan segera menemukan gadis itu," ujar Bertha.


"Sudah berapa kali kalian berjanji begitu, Hah?"


"Kami sudah berusaha, tapi dia terlalu pintar bersembunyi."


"Baiklah, aku akan memberikan kalian waktu 3 hari. Jika kalian tidak berhasil membawanya, maka aku akan benar-benar menghancurkan kalian."


"Ti_tiga hari? Beri kami waktu satu minggu. Kami akan berusaha semampu kami tuan."


"Baik, satu minggu. Tidak lebih."


Robert pergi bersama beberapa anak buahnya. Dia meninggalkan Bertha dan Damian. Setelah kepergian pria itu, Bertha berteriak kesal.


"Breng*sek. Dasar bocah pembawa sial!" pekik Bertha.


"Sudahlah, Mom. Jangan banyak bicara. Sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Kau bertanya pada mommy? Bukankah kau punya otak yang licik. Maka pikirkan bagaimana caranya."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2