
Zafa terkejut saat masuk ke kamar, Dia segera mendekati Star yang terisak. Entah ada apa dengan istrinya itu, Zafa pikir mungkin hormon Star sedang tidak stabil.
"Baby, what happen?"
"Aku baru tahu seperti ini rasanya. Mommy dulu juga seperti ini saat mengandungku, Honey," ujar Star terisak. Zafa memeluknya dan menenangkannya. Zafa mengusap punggung Star dengan lembut.
"Sstt, jangan menangis, Baby. Kata dokter Teana kau tidak boleh terlalu sedih dan strees. itu akan berpengaruh buruk untuk janin kita."
Star masih sesenggukan, Entah kenapa dia jadi terlalu mudah menangis. Dia memeluk Zafa hingga akhirnya kembali terlelap. Zafa mengusap sisa air mata di wajah Star.
Dia sudah tahu apa yang harus dihadapinya saat ini karena Dokter Teana sudah memberinya kiat-kiat untuk menghadapi mood swing ibu hamil yang cepat sekali berubah-ubah.
Zafa ikut merebahkan tubuhnya dan ia memeluk Star dengan erat. Dia berharap kondisi Star akan segera membaik. Zafa juga nanti akan menghubungi ibunya. Dia harap mama Dian mau datang ke Toronto agar bisa menghibur Star.
***
Sore harinya, Star semakin lemah karena dia kembali muntah. Zafa dan Dokter Teana memutuskan untuk membawa Star ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Star ditangani dengan baik oleh dokter. Tekanan darah Star juga sangat rendah. Zafa terus setia mendampingi Star. 3 jam Star berada di ruang perawatan, tapi kemudian dia merasa sangat menginginkan sesuatu.
"Honey, aku ingin omelet daging."
__ADS_1
"Tunggu sebentar, aku akan membelikannya untukmu."
"Bisakah kita ke restorannya saja. Aku ingin makan di sana."
"Tapi kondisimu masih lemah, Baby. Bagaimana jika nanti kamu pingsan lagi?"
"Please aku ingin makan di restoran itu," kata Star memelas. Zafa tampak berpikir. Bukankah ini awal yang bagus karena Star mau makan?
"Baiklah, aku akan bertanya pada dokter dulu, Baby."
Star mengangguk dengan semangat. Dia benar-benar menginginkan makanan itu, Air liurnya bahkan terasa penuh di mulut dan itu membuat Star ingin terus meludah.
"Oh God, kenapa lama sekali?" gerutu Star.
Zafa masuk dengan menyunggingkan senyumnya. Dokter memberinya ijin, tapi dengan syarat Star harus memakai kursi roda. Karena dia tidak boleh kelelahan.
"Dokter memberimu ijin, tapi nanti kau harus pakai kursi roda."
"Hmm, tak masalah. Ayo kita segera pergi."
__ADS_1
"Tunggu dulu, Baby. Bersabarlah sebentar, suster dan dokternya akan kemari untuk memastikan keadaanmu dan juga melepas infusnya."
"Bilang pada mereka untuk segera, Honey. Aku benar-benar sudah tak sabar ingin memakannya."
"Oh My ... kau benar-benar tidak sabaran, Baby."
Setelah dokter memeriksa Star, Dia akhirnya memberikan ijin Star untuk pulang. Meski sudah malam, Star sangat bersemangat. Dia ingin segera makan. Padahal dari kemarin dia selalu muntah, tapi sekarang Star merasa ingin makan tanpa bisa di cegah.
Zafa segera menyelesaikan administrasi dan menebus vitamin Star. Setelah itu dia segera pergi menuju restoran makanan favorit Star.
Sesampainya di sana, Zafa mengambil kursi roda dan menyiapkannya untuk Star. Zafa mendorong Star dan memasuki area restoran itu. Zafa memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Star langsung memesan makanan yang diinginkannya dan Zafa hanya memandangi Star dengan tatapan lembut.
"Honey, kau mau makan apa?"
"Samakan saja. Siapa tahu nanti kau kurang. Jadi kau boleh mengambil bagianku."
"Thanks Honey, i love you," kata Star. Meski wajahnya pucat, tapi Star terlihat baik-baik saja.
...****************...
__ADS_1