
Kabar tertembaknya Star di rumah sakit itu, tak hanya sampai pada Zafa, tapi Lionel dan Cecilia juga akhirnya mendengar kabar tak mengenakkan itu.
"APA? Cucuku tertembak? Bagaimana bisa? Lalu bagaimana kondisi kehamilannya?" tanya Cecilia yang tadi langsung mendapat kabar dari Arian, orang kepercayaan Zafa.
"Nona masih berada di ruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di bahunya. Tuan Zafa hanya meminta saya mengabarkan hal ini pada anda dan tuan Lionel."
"Baiklah, aku akan segera ke sana. Aku dan Lionel hari ini juga akan terbang ke Toronto."
"Baiklah, Nyonya. Saya akan mengatakan hal ini pada tuan Zafa."
Setelah itu Arion kembali menghubungi atasannya. Saat itu Zafa sudah berada di bandara untuk kembali menuju Toronto.
Saat dihubungi oleh mamanya tadi, Zafa sedang meeting dengan beberapa dewan direksi karena memang perusahaannya sedang bermasalah. Dia tak langsung menghentikan meetingnya meski kabar itu sangar membuatnya marah dan cemas. Zafa langsung meminta Arion kembali ke Toronto untuk membantu ibunya dan mengabarkan kondisi Star padanya.
Zafa bukan tidak mementingkan Star diatas segalanya, tapi saat ini perusahaan Zafa dalam masalah serius. Ada ratusan pegawai di perusahaan itu yang perlu dia pikirkan nasibnya. Meski dilema, tapi sebisa mungkin Zafa harus mengambil tindakan yang tepat. Dia yakin Star nanti akan mengerti dan saat ini dia sudah dalam perjalanan kembali ke Toronto.
Sepanjang perjalanan dia terus berdoa agar Star dan ketiga bayinya selamat. Zafa sedikit bisa bernapas lega saat papanya memberitahu jika kondisi Star cukup stabil walaupun harus menambah 2 kantung darah.
Zafa tiba di rumah sakit sore hari. Dia langsung ke ruang perawatan Star. Star baru saja sadar. Dia kaget karena sudah dikelilingi oleh saudara Zafa dan kedua orang tua Zafa.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" Mama Dian mengusap tangan Star. Star tersenyum tipis.
"I'm Ok, Mom. Don't worry."
"Maafkan mommy, harusnya tadi mommy melindungimu."
"Ini hanya luka biasa, Mom. Jadi jangan merasa bersalah seperti itu."
"Sebenarnya siapa pria tua menyebalkan itu?" tanya Zafrina. Dia belum tahu kisah hidup Star semuanya.
"Dia adalah pria yang dulu hampir menikahiku. Dia teman nenek tiriku. Aku pernah di sekap dan hampir dinikahkan dengannya, tapi beruntung aku bisa kabur dan suamiku lah yang menolongku."
"Oh God. Nenekmu itu menyebalkan," gerutu Zafrina.
"Oh, syukurlah kau sudah datang," kata mama Dian. Zafa tersenyum dan mengusap punggung ibunya. Diam lalu mendekati Star dan mencium keningnya.
"Bagaimana keadaanmu, Baby."
"Sudah jauh lebih baik sejak aku melihatmu," jawab Star.
__ADS_1
"Mah, sebaiknya kita pulang, sudah ada kakak di sini. Jangan sampai mama sakit," ujar Zafrina. Dian mengangguk. Dia berpamitan pada Star dan Zafa. Dian mengecup kening Star sesaat.
Semuanya pergi meninggalkan ruang perawatan Star dan hanya menyisakan sepasang suami istri itu.
"Apa yang akan kau lakukan pada tua bangka itu, Honey."
"Itu akan menjadi urusanku. Dia sudah berani menyakitimu dan aku akan membuat perhitungan dengannya nanti."
"Maaf jika aku mengganggu urusanmu," kata Star.
"Apa yang kau katakan? Kau segalanya bagiku, Baby. Seharusnya aku menemanimu."
"Bagaimana urusanmu di sana? Apakah sudah selesai."
"Belum, tapi Zicco dan Arion menggantikan aku di sana. Ada 2 orang direksi yang menyelewengkan dana tender pembangunan apartemen hingga membuat pihak klien mengajukan tuntutan."
"Lalu bagaimana?"
"Kau tidak perlu memikirkan itu, Baby. Pikirkan saja kondisimu dan triplet."
__ADS_1
"Kata dokter Violin mereka baik-baik saja. Aku juga sudah tidak apa-apa. Dokter sudah memberikan obat yang terbaik untukku," ucap Star. Meski wajahnya masih pucat, tetapi Star tetap terlihat cantik.
...****************...