Ditaklukkan Gadis Tengil

Ditaklukkan Gadis Tengil
Bab 52. Kejutan


__ADS_3

Sudah sebulan sejak perjalanan honeymoon Zafa dan Star di Spanyol. Kini Zafa kembali menjalani aktifitasnya sebagai dosen dan pengusaha. Kadang Star merasa bosan berada di rumah terus menerus karena Zafa melarangnya berpergian.


Star tak lagi mempedulikan bagaimana nasib neneknya Bertha dan paman Damian. Dulu dia sempat mendengar suaminya bicara dengan anak buahnya lewat telepon jika nenek dan pamannya itu dibawa oleh Robert, calon yang akan dijodohkan dengannya dulu.


"Kenapa dia melarangku pergi? Bukankah sudah tidak ada ancaman lagi bagiku?" gumam Star sembari menekan remot TV besar yang ada di kamarnya.


Star mengambil ponselnya dan menghubungi Zafa. Dia tiba-tiba menginginkan es krim Gelato yang dulu pernah dia makan saat honeymoon.


"Kapan kau pulang, Honey?"


("Nanti sekitar 2 jam lagi. Memangnya kenapa?"


"Aku ingin makan es krim Gelato seperti yang dulu pernah kita makan saat kita di Spanyol. Bisakah kau mencarikannya untukku?"


("Baiklah, nanti aku akan membelikannya. Mau rasa apa?"


"Beli semua rasa. Jika ada rasa cinta beli sekalian," ujar Star terkikik, Zafa menggelengkan kepalanya mendengar perkataan istrinya.


Setelah panggilan terputus, Star kembali mende*sah panjang. Dia benar-benar bosan saat ini. Star ingin menghubungi Rebecca dan mengundangnya ke rumah, tapi dia takut Zafa tak memberikan ijin untuknya. Star kemudian memilih menghubungi neneknya dan akhirnya dia pun berbincang dengan sang nenek hingga 1 jam lamanya.


Star merasa senang karena pamannya sekarang sudah menjalankan perusahaan milik neneknya. Star benar-benar beruntung memiliki Zafa. Hingga masalah keluarganya yang begitu rumit akhirnya bisa berada di titik baliknya. Dia bahagia, pamannya Lionel juga bahagia.

__ADS_1


Star kembali melihat jam di dinding rasanya sudah tidak sabar untuk menunggu Zafa pulang. Suara bel pintu mengejutkan Star. Dia bangkit berdiri untuk membuka pintu.


Siapa tamunya? Jika itu anggota keluarga Zafa, kenapa mereka harus menekan bel pintunya. Star merasa perlu waspada. Dia mengambil stik golf yang ada di sudut ruang tamu. Star berjalan mengendap-endap. Saat dia mengintip dari lubang pintu dia melihat seorang pemuda berdiri dengan membawa sesuatu.


Star membuka sedikit pintu rumahnya. Gadis itu hanya melongokkan sedikit wajahnya.


"Cari siapa?"


"Apa benar ini rumah nyonya Starlight Ardana?"


"Hmm, ya benar."


"Oh, baiklah. Mana Gelatonya?"


"Sebentar aku dan rekanku akan mengambilnya di mobil." Star mengangguk dan membuka pintunya lebar. Dia meletakkan stik golf yang diambil tadi dengan sembarangan.


Star terbelalak kaget. Saat tiga orang berusaha menurunkan sebuah freezer es krim berukuran kecil.


"Ini pesanan tuan Ardana."


"Hah, ini semua? freezernya juga?"

__ADS_1


"Iya, nyonya. Tuan Ardana ingin agar kualitas esnya tetap terjaga."


"Oh my God. Tolong bantu aku membawanya masuk. Star memanggil pelayannya dan meminta mencarikan tempat untuk menaruh freezer itu. Setelah pegawai gelato itu pergi. Star menatap freezer itu dengan sorot mata takjub. Suaminya benar-benar memberikan kejutan yang tak terduga seperti ini padanya.


Star mengambil ponselnya dan menghubungi Zafa. Dering pertama panggilan Star langsung diangkat oleh suaminya.


"Apa es krimnya sudah sampai?"


"Ya dan kau memesan sekaligus Freezernya? Kau sungguh lain daripada yang lain."


Zafa tersenyum, mendengar ucapan istrinya. Bisa dia bayangkan wajah takjub Star saat ini.


"Sebentar lagi aku akan pulang. Apa ada hal lain yang kau inginkan?"


"Tidak, aku hanya ingin kau cepat pulang. Aku benar-benar jenuh di rumah sendiri."


"Baiklah, tunggu aku sebentar lagi."


"Hmm, ya. I love you, honey."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2