
"Baby, tunggu." Zafa segera mengejar Star. Dia sungguh merasa sangat bersalah karena kejadian ini. Star tak mau berhenti dan dia memilih tak menunggu suaminya.
Star masuk ke dalam kamar mereka. Sedangkan Di ruang makan suasana tampak masih memanas. Cecilia memijat pelipisnya dan mendesah berat.
"Adams, kenapa responmu seperti itu?" tanya Cecilia.
"Tentu saja, Aunty. Itu karena aku ...."
"Kau merasa baru menyentuhnya sekali? Lalu kenapa bisa Arabella hamil? Apa seperti itu maksudmu?"
"Baiklah, kau boleh tak mempercayai ku atau tidak menganggap Star sebagai putrimu, tapi jangan sampai kau kecewa setelah tahu apa yang adikku lalui hanya agar bisa mempertahankan janin yang telah tanpa sengaja kau tanamkan padanya."
Lionel meletakkan sebuah kotak di depan Adams. Pria itu masih terdiam menatap kotak itu dengan raut wajah tak percaya. Ini benar-benar sesuatu yang sangat mengejutkan. Adams takut hal ini akan terdengar sampai telinga istrinya.
Cecilia menatap Adams dengan kecewa. Awalnya dia sangat menghormati pria itu, tapi kini dia juga ikut merasa sakit hati dengan respon yang pria itu tunjukkan.
"Kau tidak usah khawatir, Adams. Semua akan menjadi rahasia kita. Jika kau tidak menghendaki Star. Aku janji ini akan menjadi pertemuan pertama dan terakhir kita."
"Bu_bukan begitu, Aunty. Ku mohon kau jangan salah paham padaku. Aku bukan pria baj*ngan yang tidak bertanggung jawab. Aku hanya terkejut dengan hal ini. Lalu dimana Arabella?"
__ADS_1
"Dia sudah tiada, Adams. Arabella sudah lama tiada sejak Star remaja."
Adams mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Sungguh ini kabar yang benar-benar mengejutkan dirinya. Adams menatap kotak yang Lionel letakkan tadi.
Acara makan malam gagal terlaksana, tapi Adams dan Cecilia masih duduk di ruang makan. Adams perlahan membuka kotak yang usang itu. Hal yang pertama dia lihat adalah foto Arabella sedang mengusap perutnya yang besar sembari tersenyum ke arah kamera. Meski begitu, tubuh Arabella tampak kurus di mata Adams.
Adam menatap foto itu sesaat lalu meletakkannya. Lalu kemudian matanya menatap hasil test peck yang sudah pudar warnanya. Hati Adams berdenyut. Sudah sejak lama dia melupakan Arabella karena dia sudah memiliki istri dan anak, tapi saat melihat isi kotak itu Adams seakan ditarik lagi ke masa kala dia bertemu dengan Arabella.
*
*
*
"Bisakah besok kita pergi dari sini?" tanya Star.
"Why? Apa kau tidak mau berlama-lama dengan nenekmu?"
"Lain waktu saja. Aku mau kita melanjutkan honeymoon kita agar aku bisa secepatnya hamil."
__ADS_1
"Wow, apa kau serius Baby?"
"Hmm, ya. Itu pun jika kau tidak keberatan."
"Kenapa kau berkata begitu, Kau seolah berpikir aku terpaksa menikah denganmu."
Star menghela napas panjang. Dia merasa semakin rendah diri di depan Zafa. Matanya sudah berkaca-kaca, tapi Star sedang tak ingin menangis saat ini. Dia tak mau Zafa mengira dirinya berlebihan.
"Baby, kenapa kau diam?"
"Apa aku masih pantas menjadi istrimu? Ayahku menolak keberadaanku. Jujur aku malu padamu."
"Oh God. Itu kesalahanku, Baby. Kau tidak perlu merasa seperti itu."
"Ini bukan salahmu. Ini adalah nasibku."
"Aku yakin ayahmu hanya sedang terkejut karena tiba-tiba memiliki anak sebesar dirimu."
"Tidak, aku yakin dia memang tidak menginginkan keberadaanku."
__ADS_1
"Ssttt ... kau tidak boleh berkata seperti itu."
...****************...