
Zafa dan Star pulang ke rumah. Mama Dian tersenyum menyambut anak dan menantunya. Dia senang wajah kaku Zafa mulai terlihat lebih rileks. Dian sangat yakin ini semua berkat Star.
"Apa kalian senang?"
"Sangat, Mom. Terima kasih karena mommy sudah merawat suamiku sejak kecil hingga sekarang dia tumbuh sebesar dan setampan ini," kata Star memeluk mama Dian. Tentu saja wanita paruh baya yang lembut hatinya itu langsung tersentuh mendengar ucapan Star.
"Oh, ya Tuhan. Kau membuat mommy terharu," kata mama Dian.
"Mommy berhak mendapatkan ucapan terima kasih dariku. Berkat mommy aku memiliki suami yang sangat kuat sekarang. Aku sudah mendengar dari suamiku perjuangan mommy membesarkannya. Dan sekarang aku menikmati hasil kerja keras mommy."
Mama Dian tertawa di dalam tangisnya. Ya dia akui semua usahanya dulu kini benar-benar berbuah manis. Mama Dian dan Zafa saling melempar tatapan. Sorot mata mereka yang berbicara bagaimana mereka saling menyayangi. Bagi Zafa, mama Dian adalah segala-galanya.
Dian menangkup wajah menantunya. "Sekarang mama punya permintaan pada Star. Apa Star mau menuruti permintaan mama ini?"
"Tentu saja, Mom. Aku akan mengabulkan apapun permintaan mommy," jawab Star tulus.
__ADS_1
"Mama harap Star akan selalu mendampingi Zafa. Jangan pernah meninggalkannya. Seberat apapun masalah kalian kelak, mama mau kalian menyelesaikan dengan kepala dingin. Mulai sekarang mama serahkan putra mama padamu. Mama harap Star mau merawatnya seperti dulu mama merawat Zafa," kata Dian dengan mata berkaca-kaca.
Star tersenyum, "Aku pasti akan merawatnya. Aku tidak akan menyia-nyiakan suamiku. Karena aku sangat mencintainya," ujar Star tanpa keraguan sedikit pun dari kata-katanya.
Dian benar-benar lega. Meski pertemuan antara Star dan Zafa terbilang sangat singkat, tapi dia percaya. Gadis yang dipilih putranya memang sosok yang pantas menjadi pendamping Zafa.
Papa Gerry dan mama Dian akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia besok. Hari ini keluarga Zafa kembali makan malam bersama.
Zafia belum melaporkan jika Damian datang ke apartemen Star. Dia tak mau merusak suasana bahagia di keluarganya.
Mereka masuk ke kamar masing-masing saat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Star langsung naik ke ranjang dengan memakai baju tidurnya yang seksi.
Zafa masih berada di kamar mandi. Star mencoba menghubungi pamannya Lionel. Namun, beberapa kali panggilan tak tersambung.
"Seharusnya sudah sampai dari tadi, kan?" gumam Star mulai khawatir.
__ADS_1
"Ada apa baby?" Zafa tiba-tiba merebahkan tubuhnya di belakang Star dan langsung memeluk Star.
"Uncle Lionel tidak bisa dihubungi." Mendengar kecemasan Star, Zafa justru terkekeh.
"Kenapa kau tertawa. Menyebalkan sekali."
"Aku lupa memberitahumu. Nomor uncle Lionel dipegang anak buahku. Untuk saat ini uncle Lionel memakai nomor yang aku berikan padanya. Aku hanya khawatir pamanmu Damian akan melacak nomor uncle Lionel."
Star membalikkan tubuhnya dan mengecup bibir Zafa.
"Tidak sia-sia aku langsung terpesona padamu. Karena kau benar-benar melebihi ekspektasiku."
Zafa tersenyum dan mengusap wajah Star. "Tidurlah, malam ini aku membebaskanmu."
"Thanks." Star memejamkan matanya saat Zafa mengecup keningnya.
__ADS_1
...****************...