
Di sebuah rumah mewah, Bertha dan Damian kini menjadi pesuruh di rumah itu. Robert benar-benar tidak memberi ampun pada 2 orang itu. Jika saja mereka bisa menemukan Star dan membawa Star padanya pasti nasib mereka tidak akan berakhir seperti itu.
"Kalian tahu, kalian benar-benar bodoh. Semua saham milik Star dan Lionel ternyata sudah dijual. Sekarang mereka menghilang entah kemana, tapi sayangnya kalian justru malah terjebak di sini. Mungkin saja mereka berdua sedang menikmati kebahagiaan mereka. Sementara kalian? Seumur hidup kalian akan membusuk di tempat ini."
Bertha dan Damian mengepalkan tangannya. Wajah mereka menyiratkan kemarahan. Namun, sekarang mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka harus berada di tempat itu untuk menebus kecerobohan dan keserakahan mereka.
"Tapi kalian tenang saja, anak buahku masih terus mencari keberadaan Star. Sekali dia tertangkap olehku, maka aku tidak akan pernah melepaskannya," lanjut Robert.
Pria paruh baya itu masih sangat menginginkan Star untuk dijadikan istri mudanya. Dia sudah menyebar semua anak buahnya untuk terus mengawasi di area kampus Star dan di apartemennya. Robert sudah sangat terobsesi pada gadis cantik yang kini menjadi istri Zafa tanpa sepengetahuannya itu.
***
Star dan Zafa baru pulang dari restoran. Star tersenyum puas bisa menikmati makanan itu tanpa ada penolakan dari dalam perutnya.
Star sudah mencuci muka dan menggosok giginya dengan dibantu oleh Zafa, bajunya pun sudah berganti dengan gaun tidur dengan bahan sutra.
"Thanks honey. Maaf jika aku akan selalu merepotkanmu."
"Tidak masalah, Baby. Aku akan mandi. Tidurlah lebih dulu."
"Aku sudah terlalu banyak tidur. Kepalaku akan pusing jika aku tidur lagi."
__ADS_1
"Jika begitu, tunggulah aku. Nanti aku akan menemanimu menonton film."
"Apa kau tidak lelah, Honey?" tanya Star, mengalungkan tangannya dileher Zafa.
"Tidak."
"Baiklah jika begitu, sekarang mandilah. Aku akan menunggumu."
Zafa mengecup kening Star sesaat sebelum akhirnya dia meninggalkan istrinya di atas ranjang. Namun, apa yang Star katakan tidak sesuai dengan realitanya. Karena baru 5 menit Zafa masuk ke kamar mandi. Star merasa matanya begitu berat untuk terbuka. Mungkin karena perutnya kenyang, makanya tak lama dia terlelap dengan sendirinya.
15 menit kemudian Zafa keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya. Saat kepalanya terangkat, dia sudah mendapati Star meringkuk manis di atas ranjang.
"Dasar gadis tengil itu. Tadi dia bilang akan menunggu, tapi dia justru malah tidur," gumam Zafa. Dia meletakkan handuknya di sandaran kursi dan lalu mendekati Star.
"Honey, kita tidur saja. Sepertinya anak kita ingin bermalas-malasan," gumam Star.
"Baiklah, sesuai keinginanmu, Nyonya."
Zafa merebahkan tubuhnya di samping Star. Star langsung masuk ke pelukan Zafa.
"Apa kau bisa menyanyi?" tanya Star dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Tidak," jawab Zafa cepat. Jangan sampai istrinya memintanya menyanyi, tapi itulah yang saat ini Star inginkan. Dia ingin tidur dengan dinyanyikan lagu oleh suaminya.
"Tapi aku ingin mendengar kau menyanyi, Honey."
"No, i can't."
"Please honey. Menyanyilah untukku."
"Oh ya Tuhan, jangan meminta sesuatu yang sangat mustahil untuk ku kabulkan sayang,"
"Please, ini juga bukan keinginanku, tapi entah kenapa aku mau mendengar suaramu saat menyanyi."
"Oh baiklah, tapi hanya sekali saja, Ok."
"Ok."
Star tersenyum meski dengan mata terpejam. Zafa mulai bernyanyi dan suaranya cukup mengesankan. Zafa menyanyikan sebuah lagu lawas Shane Filan yang berjudul beautiful in white. Dan saat Zafa menyanyikan lirik yang mengatakan ketika kelak anak perempuan mereka hadir, dia ingin matanya seperti milik Star, di sana Star langsung membuka matanya. Lagu itu seakan menggambarkan keinginan Zafa.
"Benarkah kau ingin anak kita memiliki mata sepertiku?"
"Ya, itu bukan ide yang buruk, kan?"
__ADS_1
"Tentu saja dan aku benar-benar tersanjung. Terima kasih untuk lagunya, Honey."