Ditaklukkan Gadis Tengil

Ditaklukkan Gadis Tengil
Bab 66. Kontraksi


__ADS_3

Hari ini, Star, Zafa dan keluarga Star akan mengunjungi makam Arabella. Mereka semua sudah membawa 2 buket bunga untuk nanti mereka letakkan di atas makam Arabella.


Dengan 2 mobil beriringan, mereka tiba di area pemakaman. Lionel menuntun ibunya, Adams dan Zafa berjalan menuntun Star. Zafa khawatir Star akan jatuh. Star menolak naik kursi roda karena medannya yang tidak memungkinkan.


"Aku sudah seperti manula, jalan dengan dituntun seperti ini."


"Salah siapa kau tidak mau memakai kursi roda?"


"Medannya tidak memungkinkan, Honey. Aku khawatir perutku justru akan sakit karena guncangan," kata Star.


Mereka kini tiba di depan makam Arabella. anak buah Zafa meletakkan dua kursi lipat untuk Star dan neneknya. Mereka semua mengelilingi makam Arabella. Cecilia sudah tidak bisa menahan air matanya. Dia menangis sesengukan. Rasa bersalah kembali menguasai hati Cecilia. Star mengusap punggung neneknya dengan lembut.


Adams berjongkok dan mengusap foto Arabella. Senyum Arabella di foto itu mengingatkan Adams pada masa mereka berpacaran dulu.


"Hai, Bella. Maafkan aku. Kau masih mengingatku, kan?" Adams mulai berbicara di depan makam Arabella.


"Mommy tentu masih mengingat daddy. Nama daddy selalu disebut mommy di diary itu bahkan sampai menjelang ajalnya pun hanya Daddy yang diingat oleh mommy," ujar Star sembari tersenyum getir.


"Mommymu juga selalu mengingatmu, Star," kata Lionel membela adiknya. Zafa mengusap kepala Star dengan lembut.

__ADS_1


Acara di makam Arabella cukup menguras emosi dan air mata. Segala kesedihan tumpah ruah jadi 1. Penyesalan dan rasa kehilangan semua terlihat jelas di wajah Cecilia dan juga Adams. Mereka akhirnya pulang kembali ke mansion Zafa.


Esok harinya jadwal kepulangan Adams. Sebelum Adams meninggalkan mansion mewah milik keluarga Zafa, Adams sempat berjanji pada Star. Dia akan segera mengatakan yang sebenarnya pada keluarganya dan lalu dia akan mengenalkan Star pada ibu tirinya dan juga kedua adiknya.


"Dady pergi dulu, Star."


"Ya, Dad. Berhati-hatilah." Adams memeluk putrinya sejenak dan mengecup puncak kepala Star. Dia pergi ke bandara dengan diantar oleh anak buah Zafa.


Star menatap kepergian ayahnya dengan tatapan hampa. Star tak tahu kapan dirinya bisa bertemu lagi dengan sang ayah. Dia bahkan tak yakin jika keluarga ayahnya mau menerima kehadiran dirinya.


5 Bulan kemudian


Star memang tidak pernah menunjukkan kesedihannya di depan Zafa. Namun, hal itu justru membuat Zafa khawatir pada Star. Zafa pernah diam-diam memergoki Star sedang menangis sendirian di malam hari. Namun, saat pagi harinya, dia menjumpai Star sudah kembali ceria. Zafa sebenarnya khawatir dengan kondisi mental Star terlebih lagi Star sedang hamil.


Hari ini Star dijadwalkan akan menjalani operasi caesar, ini atas dasar kesepakatan bersama antara Star dan Zafa juga karena saran dokter. Zafa tak masalah dengan saran dokter itu, bagi Zafa yang terpenting dari semuanya adalah keselamatan Star dan ketiga anaknya yang hingga kini jenis kelaminnya masih rahasia.


Star sedang duduk di sofa saat ini bersama mama Dian. Wajahnya terlihat pucat, tapi Star selalu mengatakan dirinya baik-baik saja, dia sedang menunggu suaminya karena mereka akan berangkat ke rumah sakit bersama-sama. Nenek Cecilia pun sudah datang sejak 2 hari yang lalu, dia tak sabar menunggu kelahiran cicitnya.


"Star, apa kau yakin kau baik-baik saja?" tanya Cecilia.

__ADS_1


"Hmm, ku rasa mereka sudah tidak sabar untuk segera melihat dunia, Nek," jawab Star, sesekali mengusap peluh di dahinya.


Sebenarnya sejak semalam dia sudah merasakan kontraksi, tapi kata dokter bisa saja itu kontraksi palsu. Namun, siang ini Star merasa jika dirinya sudah akan melahirkan, tapi Star tidak mau membuat ibu mertua dan neneknya khawatir.


"Apa kau merasakan kontraksi, Star?" tanya mama Dian. Star sudah hendak menjawab, tapi tiba-tiba Zafa datang bersama papa Gerry.


"Oh syukurlah kalian sudah pulang, aku rasa Star sudah mengalami kontraksi," ujar Mama Dian. Dia baru menyadari gelagat Star yang terus gelisah.


Zafa segera mendekati Star. Dia melihat wajah istrinya sudah pucat pasi. " Benar yang di bilang mama? Kenapa tidak segera menghubungiku, Baby?"


"Aku masih kuat menahannya, Honey. Sekarang ayo kita ke rumah sakit." Zafa membantu istrinya bangkit berdiri. Zafa mengambil kursi roda Star dan kembali mendudukkan Star di kursi rodanya.


"Apa kau masih bisa menahannya?"


"Ya, aku masih sanggup. Kau tenang saja."


Zafa akhirnya membawa Star lebih dulu ke rumah sakit. Sedang mama Dian dan yang lainnya akan menyusul dengan mobil lainnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2