Ditaklukkan Gadis Tengil

Ditaklukkan Gadis Tengil
Bab 69. Bahagia


__ADS_3

"Honey."


Zafa langsung menoleh menatap Star, pelupuk mata Zafa seketika basah tergenang air mata. Zafa langsung memeluk Star sebagai wujud rasa bahagianya.


"Syukurlah kau sudah sadar, Baby. Aku sangat takut kehilanganmu," bisik Zafa di telinga Star. Star memejamkan matanya meresapi ungkapan suaminya barusan.


Dokter Violin ikut tersenyum melihat pasiennya sudah sadar. Setelah kembali memeriksa Star dan memastikan kondisi ibu dari tiga bayi kembar itu baik-baik saja. Kini giliran Dokter Minerva yang akan membantu Star. Dokter spesialis anak itu akan membantu Star membetulkan posisi bayinya saat menyusui. Papa Gerry, mama Dian dan juga yang lainnya akhirnya berpamitan pulang. Mereka berjanji akan mengunjungi Star dan bayinya lagi besok.


"Bagaimana apa ASInya sudah keluar?" tanya Dokter Minerva memastikan.


"Sudah, Dok," jawab Zafa.


"Oh, malah papanya tahu, ya?" ujar Dokter Minerva menggoda Star. Star hanya tersenyum tipis. Sejujurnya dia malu karena Zafa yang menjawabnya, tapi untuk banyak mengeluarkan suara, saat ini Star masih belum bisa. Tenaganya benar-benar terkuras untuk melahirkan ketiga buah hatinya.


"Bagaimana? Apa sudah siap untuk menyusui atau belum, Star?" tanya Dokter Minerva. Dokter itu juga cukup dekat dengan Star, karena Star mengikuti kelas merawat bayi yang diadakan oleh dokter itu.


"Apa aku boleh minum dulu, Dokter? Tubuhku rasanya masih sangat lemas sekali," ucap Star lirih.


"Tentu saja boleh, Mau makan juga tidak apa-apa."


Zafa membukakan botol air yang disediakan oleh pihak rumah sakit dan menyodorkannya pada Star. Star menyedotnya hingga hampir tandas. Zafa tak kuasa membendung air matanya melihat Star yang sangat kehausan setelah melahirkan ketiga anak mereka.

__ADS_1


"Mau lagi?" tanya Zafa sembari mengusap sudut matanya, Dokter Minerva tersenyum lembut, Dia tahu Zafa pasti terharu melihat momen Star yang seperti ini.


Setelah minum dan Star dibetulkan posisinya menjadi setengah duduk bersandar, Dokter Minerva mengambil bayi pertama Star dan meletakkannya di pangkuan, Star. Star mengeluarkan sebelah pay*daranya dan mulai menyusui bayinya yang mulai merengek.


Star mendesis saat lidah putra pertamanya bergesekan dengan puncak dadanya. Dokter Minerva membantu membetulkan letak si bayi agar pelekatan saat mengh*sap puncak dada Star tidak menimbulkan rasa sakit.


Star cukup pintar dan mudah belajar. Dalam waktu sebentar dia berhasil membuat putra pertamanya mengeluarkan sendawa karena kekenyangan. Sebelum menyusui anak kedua dan anak ketiganya, Dokter Minerva menyarankan Star minum susu khusus untuk ibu menyusui dan makan agar dia memiliki pasokan untuk terus memberikan ASI pada dua bayi lainnya.


Setelah memastikan Star bisa mengurus ketiga bayinya, Dokter Minerva berpamitan meninggalkan orang tua baru itu. Saat menyusui bayi kedua dan ketga, Star sama sekali tak menemukan kedala. Kini ketiga bayinya kembali tidur dalam kondisi perut kenyang.


"Apa aku pingsannya lama?" tanya Star.


"Sekitar 2 jam, tapi itu sudah membuatku rasanya sulit menari napas. Aku sangat takut kehilanganmu, Baby," ujar Zafa sembari mengecup punggung tangan Star.


"Aku belum tahu," kata Zafa.


"Coba tanyakan pada Dokter Violin. Badanku gatal karena berkeringat tadi."


Zafa langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomor dokter Violin. Zafa cukup lama berbicara sembari menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan Star. Setelah mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan, Star menghampiri bed pasien dan lalu mengusap wajah Star dengan lembut.


"Dokter Violin menyarankan untuk hanya mengelap tubuhmu saja. Karena ini sudah terlalu malam, sangat tidak baik untuk kesehatanmu, apalagi kau sedang menyusui, Baby."

__ADS_1


"Jika begitu, apa kau mau mengelap tubuhku, Tuan?" tanya Star.


"Tentu saja." Zafa segera masuk ke kamar mandi untuk mengambil air hangat dan handuk. Semua perlengkapan sudah disiapkan, Zafa dan Star tinggal memakainya, apalagi Star tergolong menantu dari pemilik saham di rumah sakit itu. Sudah pasti segala kebutuhannya terjamin di sana.


Zafa membawa keluar sebaskom air hangat. Star sudah membuka kancing bajunya. Zafa segera menuju pintu dan menguncinya, lalu setelah itu Zafa membantu Star melepaskan bajunya.


Zafa mulai membasuh badan Star dengan handuk kecil. Star terus memandangi wajah suaminya yang terlihat sendu. Star memegang tangan Zafa dan menahannya. Zafa mengangat wajahnya.


"Ada apa, Baby?"


"Aku yang seharusnya bertanya, ada apa? Kenapa murung?" tanya Star.


"Maafkan aku, Baby."


"Maaf? Maaf untuk apa, Honey?"


"Maaf aku sudah membuatmu harus bertaruh nyawa."


Star mengambil handuk yang dipegang Zafa dan memasukkannya ke dalam baskom. Star menggenggam jemari Zafa dengan erat.


"I love you and I love them. Apapun yang terjadi padaku hari ini, itu karena aku sangat mencintai kalian semua. Jadi jangan merasa bersalah. Karena sebenarnya aku bahagia. Aku bahagia telah menjadi bagian dari keluargamu dan sekarang kia memiliki keluarga kecil sendiri," ujar Star.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2