
Entah ada apa dengan Star hari ini. Moodnya sepertinya sedang naik turun. Usai memakan semangkuk besar gelato, dia justru merasa kesal karena Zafa belum juga datang. Padahal suaminya tadi mengatakan tidak akan lama.
"Apa dia pulang menaiki siput? Kenapa lama sekali," gerutu Star. Dia terus melirik jam dinding yang ada di depannya. Star tiba-tiba memanggil pelayannya.
"Iya, Nyonya."
"Bisakah kalian membuat nasi untukku?"
"Ku rasa bisa nyonya."
"Sup daging?" tanya gadis itu lagi.
"Kami akan mencoba membuatnya, Nyonya. Nyonya Dian sudah meninggalkan resepnya untuk kami pelajari."
"Baiklah, buatkan aku sup daging dan nasi. Aku mau makan."
"Tapi anda harus menunggu sedikit lebih lama, Nyonya."
"Hmm, tak masalah. Aku sudah terbiasa menunggu," jawab Star setengah kesal. Padahal pelayannya tak berbuat sesuatu yang salah, tapi entah kenapa mungkin suasana hati Star yang sedang tak baik hingga membuatnya begitu.
__ADS_1
Star kembali mengganti channel televisinya. Dia sesekali melirik jam dinding. Rasanya ingin memutar waktu agar suaminya lekas kembali.
Saat mendengar deru mesin mobil berhenti di garasi, Star langsung bangkit berdiri dan berlari mencari suaminya. Saat Zafa turun dari mobil, Star langsung melompat memeluk suaminya.
Beruntung Zafa bisa menangkap tubuh Star. "Oh God, kau mengejutkanku, Baby."
"Kenapa lama sekali? Aku sudah hampir mati karena merindukanmu."
"Aku pulang sesuai dengan janjiku tadi, Baby."
"Tapi bagiku itu lama," kata Star bergelayut manja, tangannya melingkar erat di leher Zafa. Dia bahkan tak mau turun dari gendongan suaminya.
"Apa es krimnya kurang?" tanya Zafa. Star menggeleng. Zafa memilih langsung duduk di sofa ruang keluarga. Star sama sekali tidak mau turun dari atas pangkuan Zafa.
"Lalu ada apa denganmu, Baby? Kau tidak biasanya seperti ini."
Star mengangkat wajahnya dari bahu Zafa. Dia membelai rahang Zafa hingga membuat Zafa memejamkan matanya.
"Bisakah setiap kau pergi, kau mengajakku. Aku bosan di rumah. Atau jika tidak, ijinkan aku keluar bertemu Rebecca."
__ADS_1
Zafa membuka mata dan melihat wajah Star. Dia tersenyum lembut dan lalu memagut bibir Star.
"Besok aku akan mengajakmu, pergi. Baby."
"Benarkah?" tanya Star dengan wajah berbinar. Zafa mengangguk dan mengusap bibir Star.
"Sekarang apa boleh aku mandi. Badanku terasa sangat lengket dan bau, Baby."
Star mendekatkan wajahnya di ceruk leher Zafa dan mengendusnya, hidungnya sesekali menggesek ceruk leher Zafa hingga membuat pria itu menahan napasnya.
"Oh God. Don't do that, Baby."
"Why? I want you, Honey. Let's having s*x in the bathroom, Honey," bisik Star. Zafa langsung kembali mengangkat Star dan membawanya ke kamar. Dia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang dibuka Star untuknya.
Cukup lama mereka berada di dalam kamar mandi. Star benar-benar melampiaskan kekesalannya tadi pada hal yang lebih membuat moodnya kembali membaik.
usai dari kamar mandi, Star langsung ke ruang makan. Sedangkan Zafa masih berpakaian. Star melihat nasi dan sup daging ada di atas meja. Namun, Star langsung mual saat menghirup aroma nasi yang ada di atas meja. Star segera berlari ke kamar mandi dapur dan muntah di sana.
"Oh my God, ada apa denganku? Apa aku terlalu lama bermain di kamar mandi tadi?"
__ADS_1