Ditaklukkan Gadis Tengil

Ditaklukkan Gadis Tengil
Bab 58. Insiden Di Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah memastikan kondisi Star dan bayinya baik-baik saja. Mama Dian mengajak Star menebus obat di apotik lalu setelah itu mereka akan menyusul papa Gerry.


Sepanjang lorong mama Dian menggerutu karena suaminya sepertinya lupa tujuan awal datang ke rumah sakit itu. Memang direktur rumah sakit itu adalah kawan lama Gerry.


"Mom berhentilah marah-marah. Itu tidak bagus untuk kesehatan mommy. Lagi pula nanti mommy bisa mengatakan pada Daddy jika bayi-bayiku baik-baik saja," kata Star.


Mereka menuju ke apotik rumah sakit untuk menebus resep. Namun, tanpa di duga saat Star dan mama Dian justru malah berpapasan dengan orang yang sangat Star tidak ingin temui.


"Starlight, itukah kau?" Star dan orang itu sama-sama terkejut, tetapi mama Dian belum menyadari sinyal bahaya ada di depannya.


Star terkejut mendapati Robert ada di hadapannya sekarang. Sedangkan Robert kaget melihat perut Star yang membuncit. Namun, seringai tipis terukir di bibirnya yang tebal.


Star langsung bersikap seolah tak mengenal Robert. Dia tak boleh gegabah ataupun bergerak sembarangan seperti dulu, karena kini dirinya sedang hamil. Star menarik tangan mama Dian dengan erat. Dia berjalan cepat hendak Menghindari Robert. Namun, dua orang pengawal Robert menghadang Star.


Mama Dian mengernyit heran, sepertinya Star memiliki hubungan buruk dengan pria tua itu.


"Siapa kalian?" tanya mama Dian dengan raut wajah tenang.

__ADS_1


"Siapa kami itu tidak penting, tapi serahkan wanita itu pada kami," ujar salah satu pengawal Robert. Robert kembali berjalan mendekati Star dan mama Dian.


"Sebaiknya kau ikut denganku baik-baik, Star. Atau kalau tidak .... "


"Kalau tidak apa?"


"Kau akan mendapati mayat Bertha dan Damian masuk berita."


"I don't care," jawab Star.


Robert merasa kesal mendengar jawaban wanita incarannya itu. Robert berniat menarik paksa Star. Namun, tiba-tiba tiga orang berbadan tegap berdiri di depan Star dan tiga orang lainnya berdiri tegap di belakang mama Dian dan Star.


"Kau tidak perlu tahu siapa kami, Jangan mengusik nyonya muda kami."


"Nyonya muda, memang siapa dia?" tanya Robert.


"Kami tidak akan menjawabnya. Segera pergi dari sini atau kami akan bersikap kasar."

__ADS_1


Star bernapas lega karena ada pengawal adik iparnya. Namun, dengan gerakan tak terbaca, Robert merogoh sesuatu dari saku jas dalamnya. Pengawal tadi hendak menarik tangan Robert. Namun, dalam hitungan detik tiba-tiba terdengar bunyi letusan senjata api.


Star menunduk memeluk perutnya. Mama Dian juga berjongkok menutup telinganya dan memejamkan matanya. Star merasa perutnya menegang. Dia hampir limbung jika saja tidak ada pengawal yang berjaga di belakangnya.


"Star are you, Ok?" mama Dian tampak cemas. Melihat bahu Star mengeluarkan darah. Ternyata tembakan Robert tadi berhasil mengenai Star karena saat pengawal menarik tangan Robert, Robert mengarahkan pistolnya pada Star dan menarik pelatuknya.


"Itu balasannya karena kau menolakku Star," teriak Robert. Pengawal tadi langsung memukul dan membekuk Robert. Suasana di rumah sakit itu menjadi riuh. Robert dan pengawalnya berhasil diamankan, sedangkan Star dibawa ke ruang IGD oleh pengawal yang tadi menangkapnya. Dian langsung menghubungi suaminya. Di telepon mama Dian marah-marah pada suaminya, dia tak menyangka akan ada insiden seperti ini.


Star tak sadarkan diri. Mama Dian semakin cemas dan khawatir terhadap kondisi Menantu dan ketiga cucunya. Beberapa alat medis dipasang ditubuh Star. Mereka juga memasang alat rekam jantung janin di perut Star.


Dokter merobek baju Star dibagian lengan. "Dokter, apa ini tidak berpengaruh dengan janin-janinnya? menantuku sedang hamil anak 3 dia tidak boleh kehilangan banyak darah," ucap mama Dian sembari menangis.


"Anda tenang dulu nyonya. Biarkan kami memeriksanya terlebih dahulu. Apa golongan darah pasien?"


"Golongan darahnya AB -, Dok." Dokter Violin tiba-tiba masuk ke bilik ruang IGD.


Dalam sekejap rumah sakit itu gempar karena insiden itu. Mama Dian dipaksa keluar karena terus menangis di samping Star. Papa Gerry segera mendekati istrinya. Namun, Dian justru mengamuk dan menyalahkan suaminya.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara papa ninggalin aku sama Star. Bagaimana kalau terjadi hal yang buruk pada Star? Zafa pasti akan kembali terpukul, Pah. Dia sudah terlalu sering kehilangan. Apa yang bisa kita katakan pada dia sekarang?" Mama Dian meraung dan memukuli dada suaminya.


...****************...


__ADS_2