
Star cukup lama terdiam, Dia tak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan ayahnya. Star ingin menertawakan nasibnya yang teramat menyedihkan ini. Star tiba-tiba menunduk dan menangis. Jika sudah begini, Zafa tidak tahu apa yang harus dia perbuat selain hanya menunggu agar perasaan Star membaik.
Sejak hamil Star semakin sensitif dan kini Adams menatap Star penuh dengan perasaan bersalah. Adams ingin mendekati Star. Namun, dia khawatir jika yang dia dapat justru sebuah penolakan.
"Star, maafkan daddy. Jika keberadaan daddy di sini membuatmu bersedih daddy akan pergi."
"Apa daddy tega meninggalkanku lagi?" ujar Star masih terisak. Star membuka kedua tangan yang sejak tadi menutupi wajahnya. Dia masih terisak dan menatap Adams sendu.
"Apa Daddy berniat meninggalkanku lagi?" ulang Star. Adams ikut menitikkan air mata dan pria paruh baya itu langsung memeluk tubuh putrinya.
"Maafkan Daddy, Sayang. Daddy sudah menyakitimu dengan sikap daddy waktu itu."
Star hanya mengangguk di pelukan ayahnya. Pelukan yang baru pertama kali ini dia rasakan sepanjang umurnya.
__ADS_1
Adams mengurai pelukannya dan mengecup kening Star. Dia senang Star akhirnya mau memaafkannya. Star tersenyum saat ayahnya mengusap sisa air mata yang ada di wajahnya.
Tak lama berselang, Ruangan Star kembali ramai. Keluarga Zafa datang untuk melihat kondisi Star, Lionel dan Cecilia juga telah kembali dan mereka senang karena Adams dan Star telah berbaikan.
Star mengenalkan anggota keluarga Zafa pada nenek dan ayahnya. Mereka bersalaman dan saling memperkenalkan diri. Ruangan itu menjadi terasa hangat karena kedua keluarga bisa saling mengakrabkan diri. Star merasa kebahagiaannya sudah sempurna sekarang.
Siang harinya, Dokter visit mengatakan jika Star sudah bisa pulang karena kondisinya sudah sangat stabil. Untuk penyembuhan bahunya, memang perlu dan itu bisa dilakukan perawatan dari rumah.
Sore hari Star sudah dibawa pulang, rencananya Adams akan menginap 2 hari untuk menemani Star. Dia juga ingin mengenal putri pertamanya. Meski nanti mereka akan kembali dipisahkan oleh jarak, tapi Adams berjanji pada dirinya sendiri jika dia akan selalu ada untuk Star di saat Star membutuhkan dirinya.
Zafa mengajak Lionel, Cecilia dan juga Adams untuk menginap di mansion mereka. Zafa berencana akan mengadakan pesta malam nanti untuk menyambut kepulangan Star.
Setibanya di mansion, Star duduk di ruang keluarga. Para ipar dan keponakan Star sedang pergi ke taman hiburan untuk mengisi waktu liburan mereka.
__ADS_1
Star ditemani Adams dan Cecilia. Sedangkan Zafa pergi entah kemana. Dia hanya berpamitan mengurus sesuatu.
"Bagaimana kau bisa bertemu dengan Zafa, Sayang?"
"Dia sebenarnya dosenku di Universitas, tapi pertemuan kami selanjutnya lah yang membuat kami dekat. Waktu itu aku baru saja kabur dari Robert. Pria berusia 50 tahunan yang akan dijodohkan oleh nenek Bertha dan putranya. Namun, anak buah mereka tidak membiarkan aku tenang. Mereka terus memburuku dan menghajarku. Sampai akhirnya suamiku menolongku dan membawaku kemari. Dia menyembunyikanku dari kejaran anak buah Nenek Bertha dan paman Damian."
"Oh, ya Tuhan. Bertha benar-benar sangat keterlaluan."
"Sejak kecil aku sudah terbiasa mendapat perlakuan tidak baik dari mereka. Mommy yang selalu melindungiku, tapi kondisi mommy juga tidak terlalu baik, Saat mommy sakit, aku tidak pernah sekali pun diberi waktu untuk bertemu. Daddy Larry juga seperti membiarkan semua itu terjadi. Waktu itu aku masih belum paham jika ternyata mommy ditindas mereka."
"Lalu dimana ayah sambungmu itu?" tanya Adams.
"Pergi, uncle Lionel mengusirnya dari rumah. Pria itu terlalu mudah diperdaya oleh wanita. Istri barunya selalu menghasut pria itu, tapi pada akhirnya pria itu tidak dapat apa-apa dari harta mommy. Aku bersyukur saat itu kakek dibukakan pintu hatinya untuk memberi mommy warisan lebih banyak dari yang lainnya," kata Star.
__ADS_1
...****************...