
Star bangun tidur sangat pagi, lebih tepatnya sejak semalam dia tidak bisa nyenyak tidur. Itulah kenapa pagi harinya dia lebih memilih langsung bangun dan mandi.
Beruntung kemarin isi koper mereka belum sempat di bongkar dan dipindahkan ke lemari. Jadilah hari ini sesuai dengan keinginan Star, Zafa dan dirinya akan melanjutkan honeymoon ke Valencia lalu lanjut ke Madrid.
Zafa membuka matanya, Dia melihat Star sedang berhias di depan cermin. Zafa menggigit bibirnya, Sebenarnya dia ingin menuntaskan pertemuan Star dan ayahnya, tapi dirinya juga tidak bisa memaksa istrinya itu.
"Kenapa tidak membangunkanku, Baby?"
Star menoleh dan tersenyum. "Aku berniat turun untuk menemui nenek Aku akan berpamitan pada nenek dulu. Jadi sebaiknya kau lanjutkan lagi tidurmu, Honey. Semalam kau juga terlalu larut tidurnya."
"Kau tidak mau ku temani?"
"Tidak. Karena ada hal penting yang ingin aku katakan dengan nenek. Jadi lebih baik kau tidur lagi."
"Baiklah jika kau memaksa."
Zafa akhirnya membiarkan Star menemui neneknya sendirian. Mungkin mereka memang perlu berbicara berdua. Zafa akan memberikan waktu sebanyak yang Star perlukan.
Star turun menemui neneknya. Meski pagi-pagi buta, Star tetap mencari keberadaan neneknya.
"Nona Silvia, apa nenekku sudah bangun?"
"Sudah, Nona."
"Apa aku bisa menemuinya?"
__ADS_1
"Bisa, Nona. Silahkan masuk."
Star akhirnya masuk ke kamar Cecilia. Cecilia masih berada di atas ranjangnya yang super besar. Star tidak kaget dengan kemewahan yang dimiliki neneknya.
"Star, bagaimana kabarmu, Sayang." Cecilia menatap cucunya yang kini duduk di tepian ranjangnya.
"Aku baik-baik saja, Nek. Maaf semalam aku meninggalkan perjamuan itu."
"Tidak masalah, Sayang. Nenek justru mengkhawatirkan dirimu."
"Aku tidak apa-apa, Nek. Aku sudah terbiasa tidak dianggap, aku terbiasa sakit hati," kata Star tersenyum getir. Cecilia berkaca-kaca mendengar ucapan cucunya itu.
"Maafkan nenek yang terlalu lama menemukanmu."
"Tidak masalah, jika nenek menemukanku lebih cepat mungkin takdir tidak akan membawaku bertemu dengan pria luar biasa seperti suamiku."
"Nenek hari ini aku mau berpamitan. Aku ingin melanjutkan honeymoonku dengan Zafa. Lain waktu aku akan mengunjungi nenek lagi."
"Apa kau serius? Nenek bahkan belum puas melihatmu. Kita masih bisa berhubungan lewat telepon, Nek. Aku tidak bisa di sini terlalu lama."
"Baiklah. Maafkan nenek, Star."
"Nenek tidak bersalah apa-apa."
"Kapan kau akan berangkat sayang?"
__ADS_1
"Pukul 8 nanti, Nek."
Cecilia memeluk cucu satu-satunya dengan erat. Entah kapan mereka akan bertemu lagi. Yang pasti dia yakin jika Star tidak akan mungkin datang ke tempat ini lagi, karena di sini tempat yang menorehkan luka dalam untuk Star.
Star juga berpamitan pada Lionel, pamannya. Dia ikut bahagia karena Lionel sekarang bisa bersama dengan ibu kandungnya.
"Jaga dirimu, Star. Uncle tidak bisa nengawasimu lagi."
"Itu tugas suamiku uncle. Jadi uncle jangan cemas."
Lionel tertawa dia tahu saat ini Star sudah bahagia memiliki suami seperti Zafa. Star memeluk Lionel dengan erat. Dia langsung masuk ke mobil karena jujur saja dia tidak bisa menahan air matanya karena harus berpisah jauh dengan paman yang selalu menjaganya.
Zafa pun berpamitan pada Cecilia dan Lionel. Dia sekilas menatap Star yang ada di dalam mobil. Lalu Zafa menatap Cecilia dan Lionel dengan tatapan serius.
"Apa aku bisa meminta bantuan kalian?"
"Katakan saja. Anggap ini sebagai ganti ucapan terima kasihku karena kau sudah mempertemukan aku dengan putraku dan cucuku," kata Cecilia.
"Jika tuan Adams datang lagi untuk menanyakan keberadaan Star, meski kalian tahu dimana Star. Ku harap kalian tidak mengatakan padanya. Aku tidak mau Star sedih dan kecewa lagi. Jika pun kelak mereka harus bertemu, biarlah pertemuan itu Star yang menginginkannya."
"Baiklah."
"Terima kasih," ujar Zafa.
"Kami yang seharusnya bilang begitu."
__ADS_1
Zafa dan Star akhirnya meninggalkan Palma de Mallorca menuju Valencia.
...****************...