Ditaklukkan Gadis Tengil

Ditaklukkan Gadis Tengil
Bab 42. Lionel Bertemu Cecilia


__ADS_3

Sebelum keberangkatan Star dan Zafa. Lionel telah sampai dulu ke Spanyol. Dengan bantuan anak buah Zafa, Lionel kini berdiri di sebuah bangunan mansion yang besarnya 2 kali lipat dari mansion Zafa. Padahal bagi Lionel mansion Zafa sudah sangat luas.


Anak buah Zafa menekan bell pintu mansion itu. Seorang pelayan paruh baya menyambut kedatangan mereka.


"Selamat siang tuan-tuan."


"Selamat siang, ehm ... " Lionel tampak ragu-ragu dan cemas. Namun, beruntungnya di sana ada anak buah Zafa yang selalu bisa diandalkan. Pria yang umurnya sekitar 35 tahun itu mendekat.


"Kami ingin bertemu nyonya Cecilia. Beberapa waktu yang lalu atasanku sudah menghubunginya. Katakan saja dari tuan Zafa."


"Baiklah." Pelayan tadi mengambil telepon yang ada di meja belakang pintu untuk menyampaikan pesan dari tamunya. Setelah mendapatkan perintah dari sang pemilik rumah, Lionel dan anak buah Zafa yang bernama Arion itu masuk ke dalam mansion megah itu.


"Apa tidak masalah meninggalkan mereka di luar?" tanya Lionel sedikit tak enak dengan anak buah Zicco yang menunggu di luar. Lionel memang berangkat ke Spanyol berempat dengan Arion dan 2 anak buah


"Tidak apa-apa. Aku dan mereka sudah biasa melakukan tugas seperti ini. Jangan pedulikan kami. Anda hanya perlu fokus pada tujuan anda datang kemari."


"Baiklah, aku tak menyangka akan bertemu dengan orang-orang baik seperti kalian."


"Kami hanya menjalankan perintah dari atasan kami."

__ADS_1


Mereka berhenti berbicara saat ada seorang wanita muda yang mendorong kursi roda. Di kursi roda itu duduk seorang wanita yang usianya sekitar 70an tahun. Namun, wajahnya masih terlihat cantik.


"Kle_iner," ujar wanita itu lirih.


Lionel mematung. Dia memandangi wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Mo_mom."


Air mata Lionel jatuh bersamaan dengan wanita tua itu. Mereka berdua terdiam dan hanya saling menatap, Cecilia lalu merentangkang tangannya dan Lionel langsung menghambur memeluk ibunya.


Mereka berdua menangis dalam diam. Bagi Cecilia ini adalah penantian paling panjang dan menyakitkan sepanjang usianya. Dirinya harus jauh dari dua buah hatinya selama 45 tahun.


"Maaf aku baru tahu kenyataan itu sekarang."


"Kau benar-benar mirip ayahmu .... " Cecilia menjeda ucapannya, dia tampak mengedarkan matanya. "Dimana saudarimu?"


Lionel terdiam, dia tak tahu apa yang harus dikatakan pada ibunya saat ini. Air mata Lionel semakin deras mengalir.


"Si_siapa namamu?" tanya Cecilia.

__ADS_1


"Aku Lionel, Mom. adikku bernama Arabella."


"Dimana Arabella?"


"Mom, aku lelah berjongkok. Usiaku sudah tak muda lagi," kata Lionel.


Cecilia tertawa. "Baiklah, ayo duduk dulu. Mommy mau kau menceritakan semuanya pada Mommy."


Lionel kini merasa berat melangkah dia tak tahu harus menceritakan apa? Yang dia tahu saat ini kondisi ibunya juga tak terlalu baik.


"Sekarang ceritakan pada mommy dan kenapa kau tidak mengajak adikmu kemari?"


Lionel memandang ibunya sendu. Tersirat kesedihan di mata pria itu.


"Katakan ada apa Lionel? Adikmu baik-baik saja kan?"


"Dia sudah punya anak, Mom," kata Lionel. Entah mengapa dia jadi menceritakan soal itu. Dia ingin menceritakan hal hal yang membuat ibunya bahagia sebelum dia menceritakan kisah sedih hidupnya dan arabella. Semoga saja ibunya bisa menerima kenyataan jika adiknya sudah lama meninggal.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2