Ditaklukkan Gadis Tengil

Ditaklukkan Gadis Tengil
Bab 64. Jangan Memendamnya Sendirian


__ADS_3

Sementara itu, di tempat lain Zafa sedang bersama kedua adik iparnya. Zico dan Raiden di sebuah gudang kosong. Tempat itu dulunya adalah bekas markas White tiger juga yang kini terbengkalai.


Zafa menatap 3 orang biang masalah untuk istrinya dengan tatapan tajam. Pria yang jarang terdengar marah itu, kini menatap 3 tawanan adiknya dengan senyum menyeringai.


Bertha tampak tak sadarkan diri, sedang Damian dan Robert terlihat lemas dengan lebam di wajahnya. Sepertinya adiknya sudah bersenang-senang terlebih dulu.


"Itu bukan ulahku, Kak. Adikmu yang membalaskan dendam istrimu."


"Menurutmu apa yang harus aku lakukan pada mereka?"


"Bunuh saja. Jangan ragu. Jika kau tidak mau kotor. Biar anak buahku yang melakukannya."


Robert mengangkat wajahnya dan menatap Zafa. Dia lalu menyeringai. "Kau tidak pantas memiliki Starlight. Kau adalah pria lemah."


Zafa menyeringai, pria tua itu terlalu meremehkannya. Zafa berjalan mendekati Robert. Dia mengambil senjata api Raiden.


"Jangan menyebut nama istriku dengan mulut kotormu itu," desis Zafa dan lalu tak lama ....

__ADS_1


BUGH!


Zafa memukul bibir Robert dengan ujung gagang senjata apinya. Dia menatap Robert dengan remeh.


"Aku sebenarnya bukan tidak bisa membunuh, tapi kau bukan lawanku. Kau hanya pria tua yang menyedihkan. track record-mu begitu menjijikkan dan aku tak mau mengotori tanganku, tapi karena mulutmu bicara begitu maka bersiaplah." Zafa lalu mengarahkan senjatanya pada Robert.


DOR! DOR!


Zafa melepaskan dua peluru di lengan Robert. Damian menoleh menatap Robert dengan pasrah. Sepertinya Star menemukan pelindung yang tidak bisa diremehkan.


Robert mengerang. Namun, dia tak bisa berbuat banyak. Dia sendiri yang sudah memprovokasi suami Star itu.


"Thankyou, kak. Semoga saja para hewan peliharaanku tidak sakit perut memakan daging kadaluarsa."


Zafa segera pergi dari tempat itu. Dia bukannya berhati lemah. Dia justru khawatir kemarahannya akan membuatnya lupa diri.


Zafa mengambil ponselnya, Dia sampai mengumpat saat melihat ternyata ponselnya mati total. Dia rupanya lupa menambah daya ponselnya.

__ADS_1


Zafa masuk ke dalam mobil. Dia mencoba mencari powerbank. Namun, Zafa sama sekali tak menemukan apa yang dia cari. Zafa langsung tancap gas, dia khawatir Star mencarinya.


Meski hanya menduga, tapi dugaan Zafa sama sekali tak meleset, karena sekarang, Star memang sedang uring-uringan karena ponsel Zafa tak bisa dihubungi.


Mama Dian masuk ke kamar Star. Dia awalnya ingin menyuruh menantunya untuk minum obat. Namun, melihat keresahan Star, Mama Dian justru penasaran.


"Ada apa, Star?"


"Suamiku sulit dihubungi, Mom. Aku khawatir dia kenapa-kenapa."


"Zafa pasti baik-baik saja. Mungkin memang ponselnya kehabisan daya. Sejak kemarin dia kan langsung ke rumah sakit menunggumu. Mungkin dia tidak sempat mengisi daya ponselnya."


"Ah, aku benci dengan perasaanku sendiri," ujar Star. Mama Dian tertawa.


"Hal seperti ini biasa kita rasakan ketika kita sudah menjadi istri. Banyak hal yang tanpa alasan kita khawatirkan. Nanti saat punya anak akan lebih banyak kekhawatiran lagi. Jadi sebaiknya jaga pikiran dan hatimu dengan pikiran positif. Jika ada hal yang mengganggu pikiranmu, katakan pada Zafa. Jangan kau pendam sendiri karena itu berbahaya. Mommy juga sempat mengalami baby blues saat merawat Zafa dan Zafrina. Karena mommy selalu memendam perasaan mommy. Mommy selalu berpikir tidak ada tempat berbagi dan berkeluh kesah."


"Oh God. Aku janji, Mom. Aku akan selalu mengatakan pada suamiku apa yang aku rasakan saat ini."

__ADS_1


"Itu bagus. Ibu hamil tidak boleh sering stres dan bersedih. Ibu hamil itu harus selalu bahagia. Sekarang mommy akan siapkan obatmu. Kau harus minum obat dulu setelah ini."


"Ya, Mom."


__ADS_2