Ditaklukkan Gadis Tengil

Ditaklukkan Gadis Tengil
Bab 67. Melahirkan


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, Zafa kembali membantu Star turun. Beruntung wanita itu cukup kuat menahan rasa sakit sehingga Star tak membuat Zafa semakin panik. Star langsung dipindah ke atas brankar dengan bantuan para tenaga medis. Pihak dokter jaga sudah menginformasikan kedatangan Star pada dokter obgyn. Tak lama kemudian Star mulai di cek kondisinya.


"Sudah pembukaan 8, tapi ini yakin jalan normal, ya?"


"Iya, Dok. Sudah kepalang tanggung. Sejak semalam sudah nikmat sekali rasanya," kata Star. Dokter Violin tersenyum menanggapi ucapan Star itu.


"Baiklah, kalau begitu saya tinggal sebentar untuk mempersiapkan alat-alatnya dan juga kalau mau makan dulu boleh. Agar nanti kuat saat mengejan."


"Ya, Dokter." Setelah dokter menghilang di balik tirai, Star mencoba mengatur napasnya. Star terlihat begitu siap menghadapi proses kelahiran baby triplet.


"Ada apa dengan wajahmu, Honey? Jangan memasang wajah begitu, aku baik-baik saja."


"Aku tidak tega melihatmu, Baby." Zafa mengusap peluh di dahi Star. Star kembali mendesis dan mencengkeram lengan Zafa.


Zafa tak tahu harus berbuat apa. Dia hanya diam dan mengusap punggung Star dengan lembut.

__ADS_1


"Aku mau muntah," ujar Star lirih, dia membekap mulutnya karena tak tahan ingin segera memuntahkan isi perutnya. Zafa kelabakan. Dia mengambil sebuah baskom stainless yang berada dibawah troli dan langsung menadahi muntahan Star. Tidak ada rasa jijik sama sekali. Zafa dengan telaten mengusap bibir Star dengan lembut.


Setelah muntah, Star kembali merasakan kontraksi. Kali ini Star mencengkeram sprei karena tak ingin menyakiti Zafa.


"Ouch, ini sakit sekali, Honey. Aku sudah tidak tahan," rintih Star.


"Apa yang harus aku lakukan agar sakitmu reda?" tanya Zafa kebingungan sekaligus cemas.


Dokter Violin kembali datang. Dia dan dua orang perawat berniat memindahkan Star ke ruang bersalin. Zafa mengikutinya. Dokter Violin mengijinkan Zafa ikut agar menjadi penyemangat untuk Star.


Dokter kembali memeriksa pembukaan Star. Dokter itu tersenyum tipis saat sudah mendapati pembukaan sempurna.


"Selamat tuan Zafa, Star. Anak pertama kalian laki-laki. Rest sebentar ya sebelum dedek bayi kedua launching," ucap Dokter Violin masih dengan posisi menggendong bayi pertama Star.


Namun, belum sempat Rest, Star merasa ingin mengejan lagi. "Dokter sepertinya bayiku sudah tidak sabar ingin cepat keluar."

__ADS_1


Dan tanpa menunggu aba-aba, Star kembali mengejan mengikuti instingnya. Dokter yang menangani Star langsung buru-buru menyerahkan bayi pertama Star pada Perawatnya.


Star kembali mencengkeram tangan Zafa. Zafa terlihat kembali menegang penyaksian proses kelahiran anaknya. Berarti nanti dalam satu waktu dia akan menyaksikan 3 kali istrinya bertaruh nyawa demi mengeluarkan buah hati mereka. Namun, kelahiran kedua ini rupanya lebih mudah, tak butuh waktu lama bayi kedua lahir dengan selamat. Star terengah, Zafa berkali-kali mengecupi wajah istrinya.


"Thankyou and i love you," bisik Zafa.


"Anak kedua kalian laki-laki lagi," ujar Dokter Violin semakin tersenyum lebar. Dokter Violin langsung menyerahkan bayi kedua pada suster, dia khawatir Star akan mengejan lagi.


"Bagaimana apa sudah ada rasanya mau keluar?" tanya dokter Violin. Star menggeleng.


"Apa boleh minum dulu, Dok?" tanya Zafa.


"Boleh, boleh. Minum dulu tidak apa-apa."


Setelah Star minum, dia kembali merasakan bayi ketiganya akan keluar. Dia kembali menekuk kakinya dan mulai mengejan lagi. Bayi ketiga Star prosesnya sedikit lebih lama di banding kedua saudaranya yang sudah keluar terlebih dulu.

__ADS_1


Dokter Violin menggunting area perineum Star untuk memudahkan bayi ketiga Star keluar. Rupanya bayi ketiga Star sungsang, butuh banyak tenaga untuk mengeluarkan bayi yang posisinya keluar pantatnya terlebih dahulu. Namun, beruntungnya bayi itu bisa keluar dengan selamat. Setelah tangis bayi ketiganya terdengar, Cengkeraman tangan Star perlahan melonggar dan dia tak sadarkan diri.


...****************...


__ADS_2