
Seharusnya hari ini Zafa mengajak Star pergi berlibur. Namun, karena sup daging dan Nasi. membuat Liburan mereka terpaksa dibatalkan, karena kondisi Star yang tidak memungkinkan.
Sejak semalam Star merasa mual dan pusing. Kondisinya semakin parah pagi tadi. Star hampir pingsan di kamar mandi.
Zafa memanggil dokter Teana, Star sampai harus diinfus karena sejak semalam dia tidak bisa kemasukan makanan bahkan air putih.
"Kemungkinan besar istrimu hamil, Zaf. Sebaiknya kau membeli alat tes kehamilan untuk memastikannya. Jika benar dia hamil, dia harus mendapatkan perawatan khusus. Kondisi wanita hamil itu berbeda-beda. Ada yang parah dan ada yang santai. Ku rasa jika dugaanku benar, istrimu tergolong yang parah. Bahkan dia sampai tidak bisa menelan air putih."
"Apa itu akan mempengaruhi kehamilannya?"
"Tentu saja. Ibu hamil perlu nutrisi yang banyak karena dia membagi nutrisi itu dengan janin dalam kandungannya."
"Baiklah, aku akan meminta seseorang untuk membelikan alatnya. Ku harap jika dia benar hamil, kondisi seperti ini hanya sementara saja."
"Semoga saja," jawab dokter Teana. Zafa segera memerintahkan salah satu anak buahnya untuk membeli alat tes kehamilan itu.
Star benar-benar terlihat lemah tak berdaya. Dia hanya berbaring dan memejamkan matanya. Tak berapa lama anak buah Zafa yang diberi perintah membeli tespek tadi datang. Zafa segera mendekati ranjang Star.
"Baby, apa kau bisa menampung urinmu dulu. Aku perlu memastikan kondisimu."
__ADS_1
"Apa sakitku parah? Kenapa harus menampung urin?"
"Ini untuk mengecek apa kamu hamil atau tidak."
"Apa dokter Teana bilang aku hamil?" tanya Star dengan raut wajah yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, meski masih terlihat jelas wajahnya pucat."
"Dia bilang ada kemungkinan. Itulah sebabnya kau harus menampung urinmu dulu, Sayang."
"Baiklah, aku akan mencobanya."
Zafa tersenyum, Dia membantu Star ke kamar mandi, meski dengan kerepotan membawa kantong infus juga. Zafa mendudukkan Star di atas kloset. Dia mengambil sebuah gelas kertas dan menyerahkannya pada Star.
"No, aku akan tetap di sini menemanimu, Baby. Bagaimana jika nanti kau terpeleset atau tiba-tiba pingsan."
Star hanya bisa pasrah menuruti ucapan Zafa. Dia mulai menarik turun celana dalaamnya turun, dan langsung menampung air kencingnya.
"Mana tespeknya, Honey?"
"Biar aku yang mengeceknya saja. Kau cukup diam dan menurut. Ok." Star benar-benar hanya diam dan menunggu Zafa yang sedang mencoba menggunakan alat tes kehamilan itu. Setelah beberapa saat menunggu, Zafa langsung meletakkan alat tes kehamilan itu dan memeluk Star.
__ADS_1
"Kau benar-benar hamil, Baby. Aku sangat senang."
Star tersenyum dalam pelukan suaminya. "Thankyou, Honey," ujar Star lirih.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku juga senang kau hamil. Aku berjanji akan menjagamu dan calon bayi kita dengan baik."
"Sekarang bawa aku ke ranjang, kepalaku mulai terasa pusing," kata Star. Zafa lalu kembali menggangkat Star dan membawanya ke ranjang.
"Aku akan bilang pada dokter Teana dulu. Setelah ini aku akan mengajakmu ke rumah sakit. Kondisimu perlu pemantauan dari dokter, Baby."
"Hmm, tapi jangan lama-lama."
"Aku hanya sebentar, Baby."
Setelah Zafa keluar, Star tiba-tiba menangis. Kondisinya hampir sama dengan cerita ibunya di diari yang dulu ibunya tulis. Star merasa bersalah telah membuat ibunya menderita saat mengandung dirinya.
"Maafkan aku mom, sekarang aku tahu bagaimana menderitanya dirimu dulu."
...****************...
__ADS_1