Ditaklukkan Gadis Tengil

Ditaklukkan Gadis Tengil
Bab 76. End


__ADS_3

Raiden dan Zicco benar-benar mengawasi semua tingkah Bastian. Bahkan keduanya tidak ragu memasuki ruang rapat hanya untuk menjelaskan pada mereka semua jika Bastian telah melakukan kecurangan terhadap Adams.


Imbas dari perbuatan Bastian itu, para dewan sepakat untuk menjebloskan Bastian ke penjara. Pria yang seumuran dengan Adams itu tampak memucat dan lemas. Dia tak menyangka ulahnya akan cepat ketahuan, bahkan akibatnya sangat merugikan dirinya dan mungkin juga berimbas pada keluarganya.


Beberapa anggota polisi datang, setelah menerima laporan dari Raiden. Bastian langsung dibekuk tanpa perlawanan. Baginya penjara lebih baik ari pada hukuman ketua King Devils dan anaknya.


Setelah bastian digiring polisi, Raiden mulai mengambil alih meeting itu. Meski banyak dari para dewan yang menanyakan keberadaan Adams, tapi Raiden masih merahasiakan hal itu dari mereka. Raiden hanya menjanjikan jika Adams akan segera datang ke Jerman untuk melanjutkan urusan pekerjaannya.


Raiden dan Zicco segera ke hotel, Zafrina mengabarkan jika dirinya dan papinya sudah ada di hotel.Mereka akan menginap semalam sebelum akhirnya nanti mereka ke Toronto.


Zafrina baru saja selesai mandi saat Zafa menghubunginya lagi. Zafrina mendesah berat. Kakaknya itu benar-benar tak sabaran.


"Bagaimana, Inna? Apa semuanya lancar?"


"Kau tenang saja, Kak. Semua sudah beres. Besok kita akan ke Toronto. Papi ingin menjenguk triplet sekalian. Katakan saja pada uncle Adams untuk memulihkan kesehatannya secepatnya. Karena dia harus bersiap-siap kembali memimpin perusahaan itu."


"Thankyou, Inna. Katakan pada uncle Rian aku akan menjamunya nanti di sini."


"Aku tutup ya, Suamiku baru saja sampai. See you." Zafrina mematikan teleponnya dan langsung berlari menyambut Zicco.


"Kenapa lama sekali, King. Aku sudah merindukanmu," ujar Zafrina sembari melompat naik ke gendongan suaminya.


Zico sekeita menangkap tubuh Zafrina. Dia tertawa dan memutar tubuh istrinya.


"Aaaa ... hentikan, King!" Zafrina memekik dan tertawa. Zico Mengecup seluruh wajah Zafrina karena dia juga sangat merindukan istrinya.


"Apa semuanya sudah beres, King?"

__ADS_1


"Tentu saja sudah, my Queen."


"Aku senang, akhirnya kehidupan kak Zafa dan keluarganya Star sudah bebas hambatan. Mereka tinggal fokus membesarkan triplet, tapi sayang Amanda tidak ikut dengan kita, padahal sejak kemarin dia sudah tidak sabar untuk melihat para sepupunya yang baru lahir itu."


"Lain kali kita ajak anak-anak untuk ikut. Prince pasti juga senang memiliki 3 sepupu lagi." Zafrina mengangguk. Mereka lantas berciuman dengan lembut.


***


Di Toronto, Zafia juga baru saja selesai menghubungi Raiden. Dia juga menanyakan keberhasilan misi suami dan ayah mertuanya. Raiden menjawabnya sembari berendam di bathtub. Karena tubuhnya rasanya begitu lelah. Dia sama sekali belum beristirahat sejak kemarin."


"Jangan tidur di bathtub, Sayang. Kau itu selalu saja. Segera bangun dan pindahlah di kamar." Zafia terlihat kesal bercampur gemas melihat suaminya yang memejamkan mata.


"Sejak menjadi ibu, kau semakin bawel, Baby."


"Itu karena aku mencintaimu, dasar bod*h. Apa kau memilih untuk ku abaikan saja? Sepertinya aku juga belum pernah mencoba memberi perhatian pada pria lain. Siapa tahu mereka akan lebih menghargai perhatian dariku," ujar Zafia setengah menggoda suaminya yang posesif itu.


Raiden langsung membuka mata dan menatap Zafia tajam. "Berani kau melakukannya, akan aku habisi pria itu."


Raiden menggeram kesal, dia kembali menghubungi nomor istrinya. Namun, nomor Zafia sudah tidak aktif. Raiden langsung membilas tubuhnya dan keluar dari kamar mandi.


Rasa kantuknya langsung menguap begitu saja dan kini dia merasa kesal. Dia mulai memikirkan istrinya memberikan perhatian pada pria lain.


"Oh, dia benar-benar pengendali pikiran yang handal," gerutu Raiden. Raiden merebahkan tubuhnya di atas kasur. Namun, matanya sulit terpejam.


Keesokan harinya, Zafrina, Zico, Raiden dan Rian akhirnya terbang menuju ke Toronto. Pesawat mereka berangkat pagi-pagi sekali. Selama dalam perjalanan Raiden tampak kesal dan mengatuk. Zico dan Zafrina serta papi Rian saling bertukar tatapan, tapi mereka bertiga sama-sama mengangkat bahu.


"Ada apa denganmu, Son?"

__ADS_1


"Kau tampak sangat kacau, Ray."


"Ini semua karena ulah adikmu, Kak. Dia menyebalkan sekali."


"memang, Fia kenapa?"


Akan tetapi, bukannya menjawab pertanyaan ayahnya atau kakaknya, Raiden justru memilih bungkam. Pemuda itu menggeleng lemah. Dia tak mungkin menceritakan masalah di kamar mandi semalam. Apa jadinya nanti. Dia pasti akan mejadi bahan olok-olok.


Saat pesawat tiba di Toronto, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 1 siang. Zafa sudah menyiapkan supir untuk menjemput mereka berempat.


Zafrina hanya tertawa setelah mendapat penjelasan dari Zafia. Menurut Zafrina adik laki-lakinya itu memang perlu diberi pelajaran karena sudah berani mengatakan Zafia bawel. Padahal wanita tidak akan bawel jika dia tidak peduli.


Sesampainya di mansion keluarga Ardana, Zafa dan Star menyambut pahlawan mereka. Zafa langsung memeluk papi Zafrina dan mengucapkan terima kasih. Rian tersenyum dan menepuk bahu Zafa.


"Hai uncle Rian, thankyou so much atas bantuannya." Star memeluk pria paruh baya itu sesaat dan melepasnya dengan senyum yang tetap menghiasi wajah cantiknya.


"Semua yang aku lakukan hanya sebuah kebetulan. Kebetulan mereka menyinggungku jadi sekalian saja aku selesaikan mereka. Bilang pada daddymu sekarang dia tak perlu khawatir soal perusahaannya lagi. Bahkan perusahaanku akan menginvestasikan saham di perusahaan daddymu itu. Jadi kelak dia tak perlu takut jika ada orang yang seperti Bastian mengganggunya."


"Thankyou, uncle. Sekali lagi terima kasih banyak."


Mereka semua akhirnya berkumpul di halaman belakang. Zafa benar-benar menjamu Rian dan yang lainnya dengan istimewa. Semua tampak berbaur dan gembira. Adams langsung memeluk Rian saat mendengar kabar gembira itu.


"Kau benar-benar pria yang baik, Tuan. Padahal kita tidak saling mengenal, tapi kau mau membantuku merebut hakku kembali."


"Jangan terlalu dibesar-besarkan. Bastian memakai nama organisasiku. Itu artinya secara tidak langsung dia juga merugikanku. Dia mencoreng nama besar organisasiku." Rian menjawab sembari tersenyum tipis.


Di sudut kursi lain, tampak Raiden yang sedang gencar membujuk Zafia. Dian dan Gerry menatap semuanya dengan raut penuh kebahagiaan. Di usia mereka yang sudah beranjak senja, anak-anak mereka bahagia dengan pasangannya masing-masing, hidup bersama dengan keluarga kecil mereka meski terpisah-pisah tapi setidaknya mereka semua memiliki hubungan yang sangat harmonis.

__ADS_1


Zafa dan Star terlihat paling bahagia. Akhirnya semua masalah di keluarga mereka terselesaikan dengan baik. Mereka berdua berharap kelak anak-anak mereka bisa rukun dengan saudara yang lainnya seperti halnya Zafa dan saudaranya yang lainnya. Meski terpisah satu sama lain, tapi mereka masih saling melidungi dan saling mendukung,


...***END***...


__ADS_2