Ditaklukkan Gadis Tengil

Ditaklukkan Gadis Tengil
Bab 63. Pikiran Buruk


__ADS_3

"Star, maukah kau ikut daddy ke Spanyol?" tanya Adams. Star sesaat menoleh pada neneknya, lalu dia menggeleng. Dia memang tak mau ke sana saat ini. Star pikir ayahnya perlu waktu untuk berbicara pada istrinya mengenai dirinya.


"Daddy harus memastikan dulu mereka tidak akan menolakku, baru aku akan datang ke Spanyol. Aku tidak mau mendapat penolakan lagi, Dad. I'm sorry."


"Tidak masalah, Daddy tahu apa yang kau rasakan. Maafkan sikap daddy sebelumnya jika itu melukai hatimu. Daddy akan secepatnya membicarakan masalah ini dengan istri daddy dan adik-adikmu."


"Thanks, Dad."


"Jangan bicara seolah kita ini orang asing, Star. Apa yang daddy lakukan ini belum seberapa dibandingkan dengan semua pengorbanan ibumu untuk dirimu."


"Aku bersyukur terlahir dari rahimnya, Dad."


"Daddy juga bersyukur pernah bertemu dengan wanita secantik dan sebaik ibumu."


"Dulu saat berpisah dari ibumu daddy sangat terpuruk. Daddy baru menikah 2 tahun setelahnya dan lalu istri daddy melahirkan seorang putra, bernama Gabriel usianya sekarang baru beranjak 18 tahun. Sedang adik keduamu bernama Bethany usianya 16 tahun."


Star hanya menanggapi cerita itu dengan senyum samar. Jika boleh jujur, mendengar cerita daddynya, dia merasa iri dengan kedua adiknya yang pasti sejak kecil mereka mendapat perhatian dari daddynya. Cecilia menatap cucunya sendu. Dia tahu apa yang Star rasakan saat ini.

__ADS_1


"Kenapa kau diam, Star?"


"Tidak apa-apa, Dad. Aku sedikit lelah. Aku mau ke kamar untuk istirahat."


"Sebaiknya memang kau banyak istirahat, Sayang. Kau baru pulang dari rumah sakit," kata Cecilia.


"Daddy akan mengantarmu." Adams langsung bangkit dan mengambil kursi roda Star. Dokter tadi menyarankan agar Star tak terlalu banyak melakukan aktivitas yang melelahkan.


Adams mengangkat tubuh Star hingga membuat wajah Star memerah. "Aku pasti sangat berat, Dad."


"Hmm, baiklah."


Setelah memastikan posisi Star nyaman, Adams mendorong kursi roda Star menuju kamarnya. Star senang mendapat perhatian seperti ini dari daddynya.


"Aku akan pindah ke tempat tidur sendiri, daddy tidak perlu menggendongku. Aku tidak akan lelah jika hanya berjalan sebentar."


Star lantas perlahan berdiri dengan bantuan Adams. Dia berjalan dengan hati-hati pindah ke ranjang yang jaraknya hanya 2 langkah saja.

__ADS_1


"Apa kau perlu sesuatu sebelum daddy pergi?"


"Tidak, Dad. Terima kasih."


Adams lagi-lagi mengecup kening Star dengan lembut. Dia ingin menunjukkan kasih sayangnya yang terlambat dia berikan pada putri pertamanya itu.


Star menatap kepergian ayahnya dengan mengukir senyum tipis. Meski terlambat setidaknya dia masih bisa merasakan kasih sayang dari daddy-nya. Star mengambil ponselnya dan menghubungi Zafa. Entah kemana perginya, tapi perasaan Star tak nyaman.


Star berkali-kali mencoba menghubungi suaminya, tapi Zafa tidak mengangkatnya sama sekali. Star berdecak kesal.


"Kemana dia? Tidak biasanya dia pergi tanpa mengatakan tujuannya. Apa jangan-jangan dia punya wanita lain?"


Tiba-tiba, Star merasa sedih. Dia mengirim pesan pada Zafa berkali-kali. Terserah suaminya akan membalasnya atau tidak, tapi jika tidak, maka dia akan melakukan aksi mogok bicara.


Rasa kantuk Star seketika menguap. Dia menjadi kesal dengan pikiran-pikiran negatifnya. Star kembali menghubungi nomor suaminya dan lagi-lagi tidak terhubung. Star menghela napas panjang. Dia mencoba menepis segala pikiran buruk yang mencoba bersarang di pikirannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2