
Hari ini Lionel berangkat lebih dulu. Dia mendapat tugas dari Zafa untuk memastikan informasi yang dia dapatkan. Karena bisa saja kemungkinan ada kesalahan dalam pengumpulan data tersebut.
Meski Lionel yakin, info yang di dapat Zafa 100 akurat, tapi tidak ada salahnya jika dia melakukan apa yang Zafa minta. Toh berkat pria itu, keponakannya sekarang sudah menemukan kebahagiaannya. Dia hanya tinggal membantu melengkapinya.
Lionel menjual semua asetnya dibantu oleh Zicco dan Gerry. Mereka benar-benar bergerak secara diam-diam agar Bertha tak mengetahuinya.
Dulu sebelum meninggal Kleiner ayah mereka membagi semua harta kekayaannya. Tanpa sepengetahuan Bertha, Arabella mendapatkan jatah yang lebih besar karena dia memberikan cucu untuk Kleiner di sisa hidupnya.
Lalu setelah Kleiner meninggal, Bertha tak terima jika Arabella mendapat bagian yang lebih banyak ketimbang dirinya dan putranya Damian. Itulah mengapa ibu dan anak itu begitu dendam terhadap Arabella dan juga Star.
"Berhati-hatilah di sana, Paman. Anak buahku akan selalu mengawasi dan menjaga paman," kata Zicco.
"Oh, aku benar-benar berterima kasih sekali pada keluarga kalian," kata Lionel terharu.
"Paman juga sudah menjadi bagian keluarga kami. Jadi paman tidak perlu sungkan jika membutuhkan bantuan."
"Sekali lagi terima kasih."
Lionel akan bertandang ke Spanyol dengan menaiki pesawat milik Gerry. Hal itu juga demi meminimalisir masalah yang akan timbul kedepannya jika keluarganya mencari keberadaannya.
Saat roda pesawat mulai terangkat. Senyum Lionel mengembang. Dia tak sabar ingin bertemu dengan ibu kandungnya. Semoga saja, ibunya mau menerima dirinya.
*
*
__ADS_1
*
Orang-orang suruhan Damian beberapa kali mendatangi kediaman Lionel. Namun, Lionel sepertinya sudah pergi dari rumah itu.
Tak mau putus asa, Damian mendatangi apartemen Star. Dia ingin langsung menangkap gadis yang telah membuat hidupnya dan sang ibu susah.
Damian menekan bell dan mengetuk pintu tak sabar. Saat bunyi anak pintu diputar, senyum Damian langsung mengembang. Namun, saat pintunya terbuka, senyum itu seketika menghilang.
"Siapa kalian?"
"Aku yang harusnya bertanya, siapa kamu?"
"Aku paman dari pemilik apartemen ini. Di mana dia?"
Damian menatap wanita yang ada di depannya dengan tatapan menyelidik.
"Honey, Who is there?"
"I don't know babe," jawab wanita itu setengah berteriak.
"Maaf aku harus menyiapkan makan untuk suamiku." Wanita tadi langsung menutup pintu apartemen itu.
Wanita itu berjalan masuk ke kamar dan tertawa terbahak-bahak.
"Siapa yang mengetuk pintu, Honey?" tanya Raiden pada Zafia.
__ADS_1
"Itu paman Star yang bernama Damian," kata Zafia sambil terkekeh.
"Lalu?" Raiden bertanya sembari berbaring menumpu kepalanya dengan memakai lengannya.
"Dia seperti orang linglung."
Raiden langsung menarik tubuh istrinya dan mendekapnya erat. "Apa yang kau katakan padanya, Honey?"
"Aku hanya bilang jika aku menyewa apartemen ini dua hari yang lalu dari pihak managemen."
"Seharusnya tadi kau tangkap saja dia dan kita bawa ke Massachusetts. Kita siksa dia di sana."
"Oh, aku menyesal tidak melakukannya," kata Zafia.
"Biarkan saja. Cepat atau lambat kita pasti akan menangkapnya."
"Itu pun jika kita tidak keduluan kak Zafa. Kau tahu betapa protektifnya kakakku, kan?"
"Star belum tahu sisi kakakmu itu?"
"Ku rasa belum, jika dia tahu, dia pasti menyesal meminta menikah buru-buru." Zafia kembali tertawa terbahak-bahak.
"Ya kau benar."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1