
Rian menatap seluruh anak buahnya yang kini sedang berkumpul di markasnya. Meski tak terlalu banyak yang bisa datang karena sebagian memiliki tugas di luar. Namun, Rian tetap merasa jika ini sudah cukup baginya.
Rian meminta salah satu anak buahnya untuk menghubungi Bastian. Pria yang telah lancang memakai nama besar organisasi bentukan Rian untuk menindas dan merampas hak orang lain. Rian tampak tak sabar menunggu Bastian.
"Dia akan datang tak lama lagi, Bos."
"Baiklah. Sambil menunggu Bastian, aku ingin bertanya sesuatu pada kalian semuanya."
"Apa tujuan kalian masuk ke organisasi ini?" Jika kalian hanya ingin terlihat keren atau agar kalian bisa menindas orang dengan nama besar King Devils sebaiknya kalian keluar dari organisasi ini. Aku tidak mau nama besar organisasi yang susah payah ku bentuk hancur dalam sekejap karena ulah kalian."
Semua menunduk mendengar ketua kelompoknya berbicara. Meski telah berumur, tapi sorot mata Rian masih cukup bisa membuat mereka bergetar ketakutan.
"Apa karena aku tidak pernah hadir ke sini lalu kalian bisa seenaknya memakai nama organisasiku untuk memalak dan merampas harta orang lain?"
Tak lama Bastian datang dia memasang wajah tenang meskipun sebenarnya dalam hatinya dia sangat takut. Sudah setahun pemimpin King Devils itu tak mengginjakkan kakinya di sana. Pria berdarah campuran Indonesia itu hanya sesekali memantau lewat video conference.
Begitu Bastian mendekati atasannya, tiba-tiba ....
DOR!
__ADS_1
Sebuah timah panas mengenai bahunya hingga membuat pria paruh baya itu memekik kuat dan jatuh berlutut.
"Tu_tuan, apa salahku?" tanya Bastian. Dia benar-benar tak mengerti apa yang sedang terjadi, kenapa mereka dikumpulkan di sana? Bastian tak tahu jika ulahnya sudah diketahui oleh atasannya.
"Apa salahmu? Haruskah aku yang mengatakannya? Atau kau mau mengingat-ingat sendiri kesalahanmu?"
"Ta_pi aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak pernah berkhianat pada King Devils."
"Kau memang tidak berkhianat, Basti, tapi kau menghancurkan reputasiku dengan kelakuanmu yang menjijikkan itu."
"Saya masih tidak paham. Apa maksud anda."
"A_aku .... " tiba-tiba mulut Bastian terasa kelu. Dia tak menyangka jika tuannya akan mengetahui rahasia yang selama ini dia simpan.
"Apa kau tahu, Bastian? Orang yang sudah kau rampas haknya itu bagian dari keluargaku?"
"Ti_tidak mungkin," ucap Bastian lirih.
Rian tersenyum miring melihat wajah kaget Bastian. Dia benar-benar tak akan melepaskan pria itu begitu saja.
__ADS_1
"Kau itu hanya orang lemah yang kebetulan berada di organisasi ini, tapi beraninya kau memakai nama organisasiku untuk merebut dan merampas kerja keras Adams selama ini. Kalau kau ingin kaya, Berusahalah sendiri dengan kemampuanmu. Jangan main-main dengan organisasiku. Gara-gara ulahmu aku sangat malu untuk menghadapi Adams."
Anggota organisasi yang lain hanya mampu merunduk. Mereka tak berani bahkan untuk sekedar melihat apa yang tuannya lakukan pada Bastian.
"Sekarang cepat bereskan kekacauan yang kau buat. Aku memberimu waktu sampai hari ini. Semua harus sudah selesai."
"Ta_tapi, Tuan."
"Raiden dan menantuku yang akan mengawasimu. Jadi selagi kau masih sayang nyawamu, sebaiknya kau cepat selesaikan semuanya."
Bastian tak dapat lagi berkata-kata saat orang kepercayaan Rian memegangi kedua tangannya.
"Mulai detik ini kau bukan lagi anggota organisasiku. Jika aku tahu kau membawa nama King Devils untuk perbuatan kejimu, Aku tidak akan segan-segan melenyapkan keluargamu."
"Jangan! Ampuni aku, Tuan. Aku bersumpah akan menyelesaikan semuanya dan tidak akan mengusik atau menggunakan nama King devils lagi."
"Kalian semua dengar itu? Jika suatu saat ada orang yang memakai nama organisasi kita untuk berbuat hal yang buruk, kalian kuberi hak sepenuhnya untuk membunuh mereka. Jika kalian menolak aturanku, kalian boleh keluar dari King Devils sekarang juga." Rian kembali menunjukkan sepak terjangnya. Meski usianya sudah mulai senja, tapi pria itu masih tetap menunjukkan power yang dia miliki.
...****************...
__ADS_1