
Perasaan Kania sudah tak karuan pasalnya mereka berteduh ditempat yang sepi tak terlihat ada rumah penduduk disana.
"duduk sini berdiri terus pegel biasa nya hujan kaya gini suka lama" Nana menepuk ruang kosong disebelahnya.
"kenapa ga berteduh dimesjid aja kan bisa sekalian jum'atan ini udah waktunya shalat jum'at"
"kaya nya ga ada mesjid deket sini setau aku mesjid masih jauh"
"terus Aa ga sholat jum'at"
"kasihan kamu nanti keburu basah kuyup kalo nyari mesjid"
"alasan bilang aja males sholat" cibir Kania dia masih berdiri enggan untuk berdekatan dengan Nana.Sebisa mungkin Kania menyembunyikan rasa takutnya.
Kania mulai merasa pegal dia memilih duduk diujung yang agak jauh dari Nana.
"duduk disana bakal kena air hujan soalnya anginnya kesana" benar yang Nana katakan baju Kania mulai basah.
Kania bergeser duduk sebelah Nana tapi tak terlalu menempel masih tersisa ruang kosong diantaranya. Tangan Nana terulur seperti ingin merangkul bahu Kania perasaan Kanua sudah semakin tak karuan terdengar suara anak-anak mendekat dan benar mereka ikut berteduh. Kania merasa senang mereka seperti penolong tangan Nana yang tadi terulur sekarang sudah kembali seperti semula.
Setelah satu jam berteduh akhirnya hujan reda Nana mengajak Kania melanjutkan perjalanannya. Mereka sampai didepan rumah teman Nana.
"ayo turun" ajak nana.
"aku nunggu disini aja malu ga kenal"
"aku lama lho..."
__ADS_1
"ga apa-apa sok aja cepetan sana"
Nana mengalah memilih pergi sendiri mengetu pintu dan mengucapkan salam terlihat seorang ibu membuka pintu mereka berbincang Nana mengambil dompet dan memberikan amplop dari dompetnya pada si ibu dia pun kembali menemui Kania.
"katanya mau lama kenapa ga masuk?"
"orang nya ga ada jadi dititipin"
"itu yang tadi ngobrol siapa?"
"ga tau ibu nya kali"
"sebarang nitip ga tau seluk beluknya tar ga nyampe"
"ga mungkin lah dari obrolannya aja udah keliatan orang yang ada hubungan nya sama temen aku yu pulang"
"ga nganterin aku dulu nyari kartu"
"trus aku ngapain ikut kalo ga dianter nyari yang aku mau ga ada kerjaan" Kania ngomel dan masih bisa didengar oleh Nana. Nana hanya tersenyum dengan omelan Kania.
Menuju pulang mereka beberapa kali berhenti saat menemukan conter hp tapi Kania tak mendapatkan apa yang dia cari akhirnya mereka pulang dengan tangan kosong. Sampai dirumah Kania turun dari motor Nana.
"makasih...mau mapir?"
"nanti malam aja sekalian ngapel"candaan Nana.
"iya...ngapelin si Aa"
__ADS_1
"hp kamu ga aktip-aktip"
"kan mau beli kartunya juga ga dapat"
"emang nomor yang kemarin kemana?"
"dibuang males berisik suka ada yang nelepon tengah malam nyari gratisan" sengaja Kania menyindir Nana.
"ya kan kalo siang kerja ga sempet main hp" Nana mencari alasan.
"oh....ya...." Kania malah senang menggoda Nana.
"berani ngeledek ya..." Nana mengulurkan tangan hendah mencubit Kania. Kania berlari menghindari serangan Nana.
"aku masuk ya makasih" Seru Kania yang sudah didepan pintu.
"iya sama-sama"
-----------------
Terimakasih untuk semua yang sudah mampir.
Terus dukung tulisanku ya...
Silahkan komen jika ada saran tentang cerita ini.
MOhon dukungan nya lewat like komen dan vote mau ngasih hadiah juga ga apa-apa.
__ADS_1
Selamat membaca...
Ditunggu bab selanjutnya ya....