
Sebuah pertemuan singkat dengan Mila cukup membuat Rafka terkesan padanya. Perban yang membungkus tubuh nya bak rakyat Firaun yang sudah habis masa hidupnya tak berhasil membuat Rafka untuk duduk manis di tempatnya. Rafka berjalan-jalan meramaikan keadaan dan mencoba untuk memberi penegasan pada semua orang bahwa tak selamanya bencana harus tentang kesedihan. Buktinya Rafka yang tampan ini bisa bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Mila hahaha...
Rafka tersenyum saat melihat seorang ibu yang mungkin angkatan ibunya sedang menangis meratapi foto almarhum suaminya. Rafka berfikir jika satu ranting hilang kenapa tidak mencari ranting lain. Dunia terlalu luas untuk dibuat menangis di satu tampan. Ada banyak tempat yang masih meninggalkan seorang pria berbadan kekar dan gadis yang berjari panjang. Lalu?kenapa duduk bersedih sambil menatapi kepergian satu hamba?.
Toeng.....
Pecahan kaleng menyambar tubuh rafka yang menggoda Seorang ibu yang baru saja menjabat sebagai janda anak satu. Tatapan amarah terlihat jelas seperti kilatan petir di saat hujan badai. Ibu itu kesal saat mendengar rafka yang menyuruh nya bangkit demi mencari hamba Allah yang lain. Padahal Rafka tahu jelas kalau dunia ini menyisakan satu kata penting dalam hubungan percintaan yaitu.....kesetian. titik.
"Rumahku hancur,suamiku tiada dan sekarang bisa bisa nya kamu menyuruh ku bahagia"teriaknya kesal sambil menarik telinga pria muda di depannya.
Rafka tertawa keras, saking kerasnya orang yang lewat akan berfikir kalau dia itu gila,"kenapa menyusahkan diri sendiri?kalau suami ibu mati kan bisa cari lagi terus minta di bangunin rumah yang jauh dari daerah longsor"
"Mati?Lu pikir suami gue anjing?kalo lu ngomong lagi gue patahin ya tuh kaki"
"Wah dosa loh nanti,suami sendiri di katain anjing"ledek nya malah membuat ibu itu marah sampai melempar sandalnya,"mending babi aja pink² gemesin"
"Lu ya!!!pergi gak???dasar anak muda gak punya adab!!!udah tau sekarat malah gak tobat tobat"
"Kalau aku pergi ntar ibu rindu,Gini nih bukannya aku gak punya adab tapi cuma mau jelasin kalau bahagia itu sederhana.....hamba itu banyak kenapa merenungi yang sudah mati kalau tau itu gak ada gunanya....orang mati itu Bu kalau tau ibu bahagia pasti juga ikut seneng disana"ucapnya,"ibu nangis nangis gini gak tahu apa kalau suami ibu lagi pada nari nari sama bidadari"
....."emmm itupun kalau suami ibu masuk surga hahahaha"ledeknya malah membuat amarah ibu itu sudah tidak bisa ditahan lagi. Ibu itu mengambil sandal beton nya lalu melempar dan memukul Mukuli pantat pria itu. Rafka tepat nya.
"Ah...awh"pekiknya kesakitan mendapat serangan maut dari ibu berumur 40 tahun. Rafka tersenyum saat melihat Mila datang dengan raut wajah khawatir nya. Apakah Mila mengkhawatirkan nya sekarang?wah betapa baiknya itu.
"Tunggu,ada apa ini?kenapa ibu melukai pasien saya?"tanya Mila membuat adegan tempur itu berhenti seketika.
"Nona muda bawa nih orang pergi atau hidup saya gak bakal lama lagi"protes nya sambil mendorong tubuh Rafka.
Mila menatap rafka tajam namun pria itu malah menampakkan lesung pipinya"Gue nggak bersalah"
"Apa yang Lo lakuin padanya?"
Rafka tersenyum,"Menyuruh nya bahagia"jawab nya tak bersalah membuat Mila kesal dan melayangkan Bogeman nya.
Bughh...
Pukulan kecil mendarat di tubuh Rafka yang sudah perih karena perban nya.
"Iseng banget sih Lo!!!"
"Gue salah apa? Perasaan Malaikat aja gak banyak nyatet kesalahan gue"
"Salah Lo karena gak mikir kalau Kepompong itu masih butuh proses buat bisa terbang"
"Salah gue apa sih ?Lo marah marah gini lagi PMS ya?atau gak terima kalau Lo udah berani perban muka tampan gue"gurau nya mendapat tatapan tajam dari Mila.
__ADS_1
"Dengerin gue!!!!sejam yang lalu wanita itu baru saja mendengar kabar kalau suaminya itu meninggal dan di menit sekarang...bisa bisanya lo nyuruh dia buat bahagia"jelas Mila,"Lo malaikat atau manusia bodoh sih?"
Rafka mengedikan bahu nya,"Gue hanya mikir kalau bahagia itu mudah buat dapat tempat istimewa di samping tuhan"
"Maaf,manusia masih punya hak buat mengekspresikan kesedihan nya"ucap Mila membuat Rafka malah menyunggingkan senyumnya,"sifat Lo yang kayak gini bukan terlihat seperti malaikat tapi lebih ke manusia yang gak punya perasaan"ucap nya lagi lalu pergi.
"Tunggu!"teriak nya berhasil membuat langkah Mila terhenti,"Apa?"
Rafka tersenyum sambil menyodorkan tangan nya,"Rafka nama gue Rafka..."ucap Rafka langsung menarik senyum nya saat melihat Mila yang langsung pergi meninggalkan nya"tunggu sebentar!kenapa Lo selalu pergi buru buru kek gini bahkan Lo pergi sebelum nyebutin nama Lo"protesnya,"Jangan gengsi,gak ada gunanya buat jalur dakwah apalagi soal agama"
Mila mengernyitkan dahinya,menatap kesal pria di depannya. Dia hanya seorang sukarelawan bukan mahasiswi dakwah yang dituntut ramah tamah pada rakyat nya. Mila hanya terdiam lalu mengingat pertemuan nya dengan Rasya yang datang dengan ideologi yang sama dengan nya,"0,001 detik itu jawaban nya"
"Hah?"
Mila tersenyum tipis,"0,001 detik masih bisa gue gunakan buat nyelamatin korban kembali hidup"tegas Mila sambil menatap Rafka yang masih bingung dengan ucapannya. Mila pergi membuat pria itu kembali tersenyum saat menemukan jawabannya
"Unik"lirih nya,"Seperti dia..."
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Hujan datang dengan hembusan angin malam yang memperburuk keadaan. Mila tak paham dengan warga yang sibuk menyalahkan Tuhan sambil menyelamatkan dirinya. Mila hanya berfikir bagaimana kehidupan para pengungsi jika kebutuhan mereka banyak dirusak oleh hujan.
"Ini masih bisa digunakan kenapa kalian malah buang itu!!!"
"Itu hanya wadahnya yang masih bisa kita bersihkan,kenapa kalian buang buang makanan saat masih denger anak anak menangis meminta makanan"ucap Mila kesal melihat tim nya pergi meninggalkan nya. Ia tidak tahu kenapa tim nya sangat boros dan tidak menghargai makanan. Hanya bungkus yang basah karena hujan bukan jatuh kedalam kubangan,kenapa harus di buang begitu saja?. Akhirnya Mila mengangkat barang barang itu sendirian ketempat yang selamat dari hujan.
Sejam kemudian bibir Mila sudah memucat dengan kedua tangan yang masih sibuk menyelamatkan benda benda makanan. Hati nya menangis mengingat amarah ayahnya jika dia tidak berhasil memperbaiki keadaan. Mila terus memaksa tubuh nya yang sudah bergetar karena kedinginan untuk tetap bekerja keras menyelesaikan pekerjaan nya,"Apapun yang terjadi aku tidak akan mengecewakan ayah"ucap Mila sambil menggosok gosok tangannya lalu meniupnya.
Merasa hujan tak lagi bertamu di kepalanya,ia mendongakkan kepalanya saat melihat payung biru melindungi badannya. Mila menatap intens bola mata pemilik payung yang tidak terlihat jelas karena butiran hujan yang singgah baik di bulu matanya.
"Kenapa hujan hujan-hujanan saat Lo tahu itu bisa buat Lo sakit?"Cetus Rafka yang sudah melihat Mila yang basah kuyup karena hujan,"Apa Lo sudah gak peduli sama diri Lo lagi ?"
"Jangan tanya kalau niat Lo cuma datang buat hentiin gue!"
"CK,gue baru tahu kalau di dunia ini ada orang yang gak sayang diri sendiri demi barang rongsokan ini"
"Gue gak peduli"jawab Mila yang masih sibuk dengan niat nya,"Bagi gue barang rongsokan yang Lo maksud itu kebutuhan banyak orang buat semangat jalanin hidup"
Rafka menghembus nafas nya besar saat memperhatikan gadis keras kepala seperti Mila yang masih sibuk dengan pekerjaan nya. Rafka memilih diam sambil melepas jaketnya lalu meletakkan nya di pundak Mila,"Gue bantu Lo,jangan bantah dan pegangin payung nya!"ucap nya dengan asap dingin yang keluar dari mulutnya. Mila menatap rafka datar sambil memegang payung yang dua menit yang lalu masih berada di tangan rafka. Mila hendak membantu namun lagi-lagi pria itu malah menghentak nya,"Diem!kalau Lo masih keras kepala,Lo ngelukai harga diri gue sebagai laki-laki"
"Gue bantu Lo kenapa di sebut melukai harga diri"tanya Mila kesal dengan posisi tangan yang di cekal erat oleh Rafka.
"Iya melukai...karena laki laki gak bakal biarin gadis bekerja berat di depannya"ucap rafka dengan tubuh yang mulai basah karena hujan.
Mila terdiam, membiarkan Rafka membantunya. Dia berfikir jika itu Rasya maka dia juga akan melakukan hal yang sama untuknya. Apalagi kalau itu suaminya yang mengatakan hal manis dan membantu nya dari segala aspek yang membuatnya lelah.
__ADS_1
Mila tersenyum membuat rafka yang melirik ke arahnya ikut tersenyum juga,"Kenapa Lo? baper sama gue?"
"Dih"ucap Mila yang memilih membantu Rafka di depannya.
"Udah di bilangin Gausah bantu kenapa bandel banget sih jadi cewek"
"Bukan bandel tapi mraktekin nilai Pancasila kalau saling membantu itu bisa membuat pekerjaan berat menjadi cepat selesai"ucap Mila yang masih kekeh dengan pendirian nya,"lebih tepatnya gue gak mau Lo kepedean bilang gue baper karena Lo"
"Terserah Lo deh jika ditanya kegiatan paling berkesan buat gue,gue bakal jawab kalau kegiatan yang berkesan buat gue itu adalah hujan hujan-hujanan bareng cewek cantik kayak Lo"ucap rafka membuat Mila geli dan memilih pergi.
"Kerjain sendiri"
Rafka tersenyum melihat Mila yang patuh padanya. Mila duduk di tepi untuk berteduh dan menunggu nya. Rafka mengacungkan jempolnya sebagai tanda kalau dia sudah menyelesaikan tugasnya. Rafka mengernyitkan dahinya saat melihat Mila yang menunduk sambil memeluk erat tubuh nya.
"Naik"ucap rafka membungkukan punggungnya di hadapan Mila.
"Gak perlu,gue bisa sendiri"
"Payungnya kecil,kalau Lo dan gue gak mau sakit hanya itu caranya"
"Lo dan gue udah basah kenapa butuh payung"
Rafka menghembuskan nafasnya besar,"ada satu kondisi yang dinamakan Barometrik Pressure,kondisi itu bisa buat perbedaan di dalam dan di luar rongga sinus,yang akhirnya bisa Mencetuskan rasa nyeri,itu bisa buat kepala kita jadi sakit karena hujan"jelas Rafka membuat Mila tak percaya. Apa dia mahasiswa kedokteran? padahal dirinya yang juga mahasiswi kedokteran baru tahu jika ada kondisi seperti itu. Mila yakin kalau tampang Rafka gak cocok sama sekali buat jadi dokter yang tegas dan cekatan sepertinya.
"Kenapa?gak percaya?"
Mila menggeleng jujur membuat Rafka tertawa menatap nya. Ternyata benar kalau aura nya tidak cocok berbicara pengetahuan seperti itu,jika boleh jujur rafka lebih terlihat seperti pria berengsek yang suka mengarang lembaran gombal untuk wanitanya,"percaya aja,adek gue yang bilang kek gitu"
Mila masih terdiam sambil memeluk tubuhnya semakin erat karena kedinginan"
"Adek gue dokter,segitu gak percaya nya Lo sama gue"
"Jangan kesempatan dalam kesempitan"
"Baik Lo cepetan naik!"
Tak ada pilihan lain Mila langsung naik ke punggung rafka yang terus memaksa nya. Mila memegang payung dengan tangan kirinya sebagai pelindung hujan yang bisa buat keduanya sakit kepala. Rafka tersenyum merasakan nafas Mila yang sangat dekat di telinga nya.
"Makasih"lirih Mila yang tak jauh dari telinga Rafka,"Setelah hari ini jangan pernah bantu gue lagi!"
Mereka bersama melewati hujan deras yang jatuh dengan gemuruh petir dan awan hitam. Ternyata benar kalau hujan tidak terlalu buruk untuk membuat sekilas memori indah di otak seseorang. Rafka senang dan berjanji tidak akan pernah melupakan hal indah yang singkat seperti ini.
"Saat gue belajar di sekolah gue tahu kalau peraturan ada buat di langgar,gue gak bakal jauh jauh dari Lo karena bagi gue senyum Lo itu berhasil buat hati gue meledak bahagia"
🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1