Dokter Dingin ,Suamiku

Dokter Dingin ,Suamiku
#46


__ADS_3

..."Apapun boleh asal jangan menyerah,dari ribuan penduduk kamu masih punya banyak celah untuk menciptakan kesempatan"...


...~Sayidah nur Kamila...


Universitas kedokteran Bandung.


Pagi pukul 06.15, gedung aula sudah diramaikan dengan ratusan lampu putih di atas ruangan hingga sudut² ruangannya. Beberapa sofa lembut sudah berjajaran rapi sambil menunggu para dokter untuk duduk di atasnya. Mila tersenyum menatap dirinya yang sudah memakai satu set seragam dokter pemberian Rafka malam itu. Ia terlihat sangat cantik namun senyuman yang hilang karena Rasya yang sungguh tidak datang di acara wisudanya.Mila berdiri di absen terakhir saat mengingat dirinya adalah mahasiswi baru di bawah seniornya.


Suasana langsung genting saat langkah prof. Irawan Farma berhenti tepat di hadapan Mila . Semua berbisik ramai kesana kemari saat melihat tidak ada satupun medali yang tersisa untuk diberikan kepada mahasiswa termuda di depannya.


"Kurang 1?"ucap Dr Irawan membuat jantung Mila berdegup sangat kencang. Bertahun tahun lamanya bukankah ini yang sangat di nantikan oleh ibunya.


"Maaf prof. Tidak ada yang tersisa lagi"


Mila menunduk dengan pikiran kalau dirinya memang tidak ditakdirkan untuk acara wisuda hari ini. Usia muda yang menerima banyak hujatan membuat Mila tidak yakin untuk menjadi dokter hebat seperti suaminya. Tiba ² suasana langsung hening saat sebuah pintu aula terbuka lebar tepat saat Mila lolos menjatuhkan setetes air matanya.


Semuanya langsung menatap ke arah Pintu aula saat bayangan pria berbaju putih keluar dengan cahaya penuh yang terus mengikutinya untuk sampai ke atas panggung .


"Maaf"lirih Mila sambil menunduk saat Rasya sudah tiba tepat di depannya. Rasya tersenyum. Ia mengangkat dagu wanita itu untuk melihat sendiri bagaimana perasaan wanita itu sekarang.


Tag.


"Apa yang kamu pikirkan?"ucap Rasya setelah menyentil pelan dahi istrinya.


"Benda itu hilang"


"Lalu?"


"Sepertinya bukan kesempatan ku untuk berjuang bersamamu"ucap Mila kembali menunduk, "apa aku sudah memalukan mu dan keluarga kita? Apa aku sungguh akan turun tanpa medali dan mengucap sumpah?"


Rasya tersenyum ," apa menurutmu medali  itu penting?"


"Bukan seperti itu,aku akan tetap bekerja keras walaupun tanpa jabatan apapun"ucap Mila menyakinkan Rasya kalau selama ini perjuangan nya tulus untuk lebih mencintai proses daripada hasil apapun itu.


"Kalau begitu aku mau mendengar sumpahmu itu" ucap Rasya tegas membuat mila menatapnya.


Mila terdiam . Ada sekitar 12 poin untuk mengikrarkan sumpah nya sebagai dokter.  Ia mendadak gugup saat atensi semua orang langsung tertuju padanya. Ia menutup matanya kuat, mengumpulkan energi lalu belajar untuk menunjukan keberanian dan ketegasan nya pada kewajiban.

__ADS_1


"Dengan ini saya bersumpah bahwa , saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan peri kemanusiaan,saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya.saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran.Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan dan keilmuan saya sebagai dokter. Saya  akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien .saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan Keagamaan, Kebangsaan, Kesukuan, Politik Kepartaian, atau Kedudukan Sosial, dalam menunaikan kewajiban saya terhadap penderita.saya akan memberikan kepada Guru-Guru saya, Penghormatan dan Pernyataan Terima Kasih yang selayaknya.saya akan memperlakukan Teman Sejawat saya sebagai saudara kandung.Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.Saya tidak akan mempergunakan pengetahuan Kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan Hukum Perikemanusiaan, sekalipun saya diancam.Saya  ikrarkan Sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya".


Rasanya ada kelegaan di hati Mila. Berjam jam menyiapkan diri karena takut untuk menjadi seseorang yang tidak bisa diharapkan akhirnya hilang dalam pikirannya. Ia menunduk sambil menangis. Pekerjaan mulia yang selalu mengingatkan ia akan ayahnya. Bangkit dan terus menyerah tanpa takut ada kegagalan layaknya gempa susulan. Mila menangis. Ia langsung mendongakan kepalanya saat Rasya mengalungkan medali itu sendiri ke lehernya.


"Jangan menangis"ucap Rasya sambil mengangkat dagu Mila lalu mengelap air matanya ,"kalau kamu menangis aku bisa kehilangan mu nanti"


Mila hanya terdiam sambil menunduk saat melihat semua tatapan menoleh ke arahnya.


"Di dunia ini hanya aku yang boleh melakukannya"ucap Rasya menatap ke arah profesor Irawan di sampingnya. Professor itu hanya tersenyum melihat Rasya yang sangat posesif terhadap istrinya.


"Aku tidak tahu kalau dia istrimu"


"Profesor Adi,putramu terlalu berani "ucap profesor Andra membuat Adi tertawa di tempatnya.


"Aku juga tidak tahu kalau putraku punya bakat seperti ini"


"Itu bukan bakat tapi sikap cemburunya yang menurun dari papanya"ucap Maira membuat semuanya tertawa bahagia.


Hening.


"Sudah senang?"


"Mana mungkin aku tidak datang ke acara istriku yang luar biasa ini"


Kemudian Rasya langsung terdiam saat melihat para wisudawan memegang buket bunga di tangannya.


"Hey,kenapa diam"


"Aku lupa untuk membawa bunganya"ucap Rasya menyesal mengingat dirinya yang terburu buru setelah menangani operasi besar.


"Tidak perlu, kamu datang saja itu sudah cukup untukku"


Suasana ruangan kembali hening saat profesor Andra naik ke atas panggung untuk mengumumkan jabatan mahasiswa terbaik tahun ini.


"Selamat untuk dokter sayyidah nur Kamila dan dokter Regan Chandra Andriano...mereka berdua adalah pemilik rekor rata rata tertinggi daripada tahun sebelumnya"ucap Andra menambah Suara gemuruh tepuk tangan seisi ruangan.


Reygan dan Mila langsung naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan. Mereka tersenyum saat mendapat piala,hadiah uang, hingga buket besar di tangannya.

__ADS_1


"Papa gak nyangka sama kamu"ucap papa reygan setelah anaknya turun sambil membawa piala kaca di tangannya. " Setelah hari ini papa akan carikan kamu ke universitas ternama bersama kakakmu"


"Reygan gak mau mikir lagi, reygan mau nikah"ucap Reygan langsung menggandeng tangan sergina di hadapan nya. Ia sudah paham dengan papanya. Walaupun sudah lulus,papanya itu akan memaksa nya sekolah lagi untuk menyelami banyak bakat lainnya.


"Lo pacaran sama reygan?"tanya Dara penasaran saat melihat sergina mengambil makanannya sendiri.


Sergina mengangguk," ya gitulah, gue sendiri juga gak paham"


"Emang apa sih yang ada Sama dia sampai Lo mau Nerima dia?gak mungkin karena dia kaya kan?"


Sergina menggeleng," awalnya gue hanya berfikir kalau dia adalah yang paling gak masuk akal, tapi cinta itu adalah proses yang harus dihargai dan diberi kesempatan"ucao Sergina membuat dara kesal.


"Kesempatan?proses?berarti Lo gak cinta?"


"Belum mungkin nanti kalau gak besok, sekalipun gak takdir gue seharusnya bangga pernah punya rasa itu"ucap Sergina membuat dara terdiam, "gue yakin sama diri gue  kalau reygan tidak seburuk yang Lo pikirkan" ucapnya menepuk bahu dara lalu pergi.


Rasya tersenyum menatap Mila yang membawa piala nya ," suami bangga sama kamu".


"Kalau begitu aku mau hadiah"


Tap.


Tap.


"Adik ipar apa baju itu sangat cocok dengan ukuranmu"seru Rafka yang tiba tiba datang dan bergabung.


"Sangat bagus, tapi gimana kamu tahu?"


"Lewat insting"jawab Rafka sambil mengedipkan matanya. Ia senang sekali saat melihat tatapan cemburu dari sorot mata adiknya


" oh iya nanti mama papa main kerumah, sekalian kakak juga ikut kesana pasti sangat baik" ucap Mila mendapat anggukan dari Rasya.


Rafka mengangguk, " baik aku datang"jawabnya ," aku harus pergi" pamit Rafka lalu pergi. Kemudian Rasya tersenyum sambil menarik tangan istrinya.


"Mau kemana"


Rasya menunduk lalu menarik hidung istrinya gemas, "memberi istri ku hadiah"

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2