
..."Maaf ,jika kebahagiaan yang aku janjikan terhalang padat oleh jam kerja"...
...-...
...-...
...Muhammad rasya Ar Razi....
Hari sudah pukul dua siang Mila pulang ke rumah bersama sopir pribadi nya. Sebelumnya Mila pernah kecelakaan saat masih menjadi sukarelawan yang lincah. Hal itu yang membuatnya sampai sekarang tidak pernah mendapat izin dari Rasya untuk mengendarai mobil nya sendiri. Katanya, ia harus memilih di antar sopir atau tidak pernah pergi dari rumah kapanpun. Akhirnya Mila memilih sopir karena kehadiran pentingnya yang selalu ditunggu oleh siapapun.
"Nyonya,apa ini langsung pulang ke rumah saja?"
"Em berhenti di supermarket sebentar pak, kebutuhan Azen sudah habis" ucap Mila mendapat senyuman dari Herman. Ia merasa bangga jika hidupnya bisa ditakdirkan untuk menjadi sopir pribadi dari wanita yang sangat baik seperti Mila.
Kemudian mereka pergi ke supermarket kota yang tak jauh dari rumahnya. Mila membawa dua kresek putih besar yang berisi popok, susu dan keperluan Azen lainnya. Mila meminta nomer telpon staf supermarket agar ia bisa menyediakan kebutuhan Azen dilain hari jika dirinya memang terlalu sibuk.
"Mbak titip sebentar"ucap seorang wanita pada Mila yang kewalahan dengan Nita belanjanya. Mila mengangguk dan melihat wajah wanita yang amat sangat pucat di depannya.
Wanita itu tersenyum sambil memperhatikan catatan nya lagi dan .....
Bruukkk...
Wanita itu terjatuh saat Mila baru saja memalingkan wajahnya. Mila terkejut dan langsung bergegas memeriksanya nya.
Badan panas,hidung mimisan,dan detak jantung lemah membuat Mila meminta pak Herman untuk membawanya ke rumah sakit sekarang juga.
"Ada apa dokter?"ucap Susi di rumah sakit bumi Brawijaya. Memang bukan rumah sakit Mila tapi karena surat kabar Ar Razi yang terkenal,membuat rumah sakit di semua negara banyak yang mengenal nya.
"Periksa dia, terlihat dari warna mata,dan nafas nya dia sedang tidak baik² saja"
"Baik dokter"jawab Susi yang sudah berjalan mengikuti brankar wanita itu.
"Nyonya ini keluarga wanita itu"ucap Herman berjalan bersama seorang gadis berumur 15 tahun. Mila terdiam sejenak . Ia seperti mengenal bola mata gadis itu tapi dimana?. Bibir kecil, rambut hitam panjang dan alisnya yang tebal membuat Mila merasa familiar di dekat nya
Gadis itu terdiam menatapnya dalam. Tatapannya seperti ingin mengatakan banyak hal kepada Mila. Mila tak mengerti ,kenapa matanya berkaca-kaca saat melihat gadis didepannya.
"Kamu keluarganya?"
Gadis itu menggeleng membuat herman gelagapan mendengar nya. Bagaimana tidak?ia buta angka tapi ingin membantu Mila dengan menekan nomer telpon asal dari daftar nomer di ponsel wanita itu. Alhasil gadis itulah yang datang karena nomernya yang terletak di urutan pertama ponsel wanita itu .
"Emm nyonya aku menelponnya dengan ponsel wanita itu yang jatuh di mobil"
"Hmm pak Herman lain kali bertanya dulu sebelum memanggil orang"
"Baik nyonya"jawab Herman sambil menunduk.
"Tidak papa Bu bukan salahnya, aku memang bukan keluarganya tapi aku pernah merawat nya....ibu ini tidak punya keluarga"jawab gadis itu ramah lalu terdiam saat melihat Susi keluar dari ruangannya.
"Bagaimana keadaannya?"tanya Mila
"Dia baik² saja hanya dehidrasi ringan dan terlalu kelelahan "
__ADS_1
"Apa kamu yakin?"tanya Mila tidak yakin dengan diagnosa Susi.
Susi mengangguk mantap membuat Mila mencoba menghilangkan sedikit keraguannya.
"Saya ingin memeriksanya "ucap Mila dihalang langsung oleh Susi.
"Pasien sedang istirahat, memeriksanya kembali hanya akan menunjukan kalau kinerja rumah sakit kita sangat tidak profesional "ucap susi membuat Mila terdiam ,"percayalah padaku dok"ucap Susi memelas membuat Mila akhirnya mengangguk lalu beralih pada gadis yang berdiri di depan nya.
Gadis itu tersenyum sambil menatap mila hangat,"aku berjanji akan menjaganya"ucapnya membuat Mila yakin lalu pergi bersama Herman. Gadis itu terdiam sejenak lalu pergi mengejar Mila di depannya.
"Ibu...ibu"teriaknya membuat Mila terhenti.
"Ada apa?"tanya Mila melihat gadis itu masih mengatur nafasnya.
Gadis itu tersenyum," boleh aku cium tanganmu?"
Mila terdiam.
Cup.
"Terima kasih"ucap gadis itu sambil memeluk Mila pelan lalu pergi.
Kemudian Mila pergi lalu terhenti lagi saat rasa sakit tiba² muncul di kepalanya.
"Nyonya baik² saja?"tanya Herman khawatir.
Mila menggeleng,"hanya sedikit lelah saja,ayo pergi "
🌿🌿🌿🌿
"Masuk"teriak Rizal dari dalam ruangannya. Ia sedikit kesal mendengar ketukan pintu itu tak kunjung henti di telinga nya. Ia terkejut saat melihat Nabila lah yang datang sambil membawa berkas penuh di tangan nya.
"Ya ampun nab kenapa pakai ketuk pintu segala?"
"Jaga ada sama suami yang status nya masih atasan"jawab Nabila membuat Rizal menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kenapa kemari?"
Braaak....
"Ini data pasien nomor 75,203,313,421,423, semuanya sudah siap dan butuh tanda tanganmu secepatnya, mereka sudah mau pulang besok"
Rizal hanya mengangguk dan mulai menggoyang penanya.
"Oh iya pasien kamar 422 juga mau pulang tapi saat aku tanya bagaimana keadaannya dia gak mau menjawab"ucap Nabila tak mendapat respon apapun dari Rizal yang masih dengan tugasnya.
"Aku tadi lihat dia masih mengonsumsi obat alyxa stelatta dan Citrus aurantifolia fructus, aku tidak tahu itu obat apa tapi katanya dia masih mengeluh sakit kepala jadi aku masih belum memperbolehkannya pulang"
"Ouh"respon Rizal singkat membuat Nabila kesal padanya.
"Dokter Rizal, kamu dengar gak sih?"
__ADS_1
"Denger, suster Nabila"jawab Rizal tanpa menoleh ke arah istrinya.
Braaak....
"Kamu kenapa sih hari ini?aku tadi juga lihat kamu dan dokter Rasya sedang tidak baik-baik saja"kesal Nabila yang masih diabaikan suaminya.
"Kalau kamu gak jawab nanti malam tidur diluar!!!"ancamnya membaut Rizal menatapnya.
"Ada apa, bicaralah?"
"Jawab pertanyaan ku!!!"
Rizal mengambil nafasnya besar lalu membuangnya" aku gak papa sayang cuma kesal aja sama Rasya"
"Kenapa?"
"Hmm tadi di ruang operasi bukannya meminta bantuanku tambah menyuruh ku pergi, gini² suamimu juga dokter hebat dan berbakat,kenapa dia meremehkan ku?"
"Ruang operasi?putrinya pak Bayu yang sempat meninggal itu?"
Rizal mengangguk.
"Oh gitu aja baperan"lirih Nabila membuat Rizal tak percaya.
"Hah kamu berani ngatain suami?udah gak rindu lagi sama surga sampai punya keberanian kek gitu?"
"Gak gitu juga sih tapi dr Rasya emang kek gitu, dia tidak ingin kamu terlibat masalah kalau sampai gagal nanti, apalagi pasiennya kayak putri oak Bayu yang sempat meninggal"
"Caramu berbicara seperti sangat mengenal mantan tuanmu ya?"
"Ih kamu gak paham sih"
"Iya aku paham sama Rasya makanya marahnya cuma sedikit Nabila sayang"godanya senang.
Hening.
"Oh iya pasien nomor 422 pulangkan saja, obat yang kamu sebutkan tadi itu adalah obat untuk orang yang lagi panas dalam makanya dia gak mau jawab pertanyaan mu"jelas Rizal yang masih melihat Nabila terdiam, "kalau masalah kepalanya mungkin karena dia yang gak bisa bayar biaya rumah sakit tapi kamunya yang terus menyuruhnya untuk tinggal"
"Hmm"
"Pulangkan saja biar sakit kepalanya cepat sembuh sayang"
"Iya² aku urus nanti"
Rizal mengacak-acak rambut Nabila gemas, "hmm bagus ini semua berkas yang sudah aku tanda tangani"
Nabila mengangguk," aku pergi,kamu pesan makanan nggak?"
"Boleh deh aku lapar...makasih sayang"ucap Rizal mendapat anggukan dari Nabila lalu pergi.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿
__ADS_1