Dokter Dingin ,Suamiku

Dokter Dingin ,Suamiku
#29


__ADS_3

Mila tersenyum lega saat keluar dari ruang operasi bersama Rasya. Setelah beberapa lama akhirnya gadis itu bisa melawan rasa takutnya dari hawa ruang operasi yang merenggut nyawa ayahnya. Mila menatap Rasya sambil berdehem untuk memulai pembicaraannya. Rasya menoleh ,menatap gadis itu yang ingin berbicara padanya.


"Katakan"ucap Rasya mengagetkan Mila yang asyik menggigit bibir bawahnya.


"Emm bapak hebat ya bisa menanganinya hanya dalam waktu 5 menit 22 detik"


"Saya sudah sering menemui situasi ini di Lumajang"


Mila hanya ber"o"ria mendengarkan pembicaraan Rasya padanya. Tidak,betapa canggungnya saat ini.


"Kamu sudah tidak takut lagi sama ruang operasi?"


"Ada bapak,apa yang bisa saya takutkan?"ucap Mila to the point membuat Rasya tersenyum.


"Kenapa melihatku seperti itu?"tanya Rasya yang melihat Mila terus menatapnya.


Mila menggeleng sambil berusaha mengontrol detak jantungnya,"bapak tampan saat tersenyum seperti tadi"ucap Mila sambil mengekspresikan wajah Rasya yang tersenyum tadi,"Betapa Bagus nya kalau bapak bisa selalu tersenyum setiap hari"


"Kalau kamu suka saya bisa tersenyum terus untukmu"


"Hehehe gak berani gak berani,terakhir kali dokter Qiana udah sangat kesal sama saya,lain kali bapak jangan ikat tali saya lagi ya di depan dokter Qiana"


"Saya tidak ada hubungan apapun sama dokter Qiana"


Mila tertawa sambil menaikkan alis untuk menyelidik kebenaran tuan nya,"emang hati bapak beneran gak pernah tergerak sedikitpun sama dr Qiana?"


Rasya mendekatkan wajah nya membuat gadis itu terkejut bukan main. Pipi nya memerah,jantung nya berdetak cepat dengan intonasi yang sulit di hentikan. Rasya tersenyum lalu menyentil pelan dahi mila,"hati saya tidak pernah tergerak oleh siapapun kecuali satu orang"ucap Rasya tetap dengan nada datarnya membuat Mila lagi lagi hanya bisa terdiam  membeku di tempatnya,"ayo kita makan"ajak Rasya membuat Mila yang masih shock mengangguk cepat.


Bagai pelangi di musim kemarau semuanya terkejut saat melihat Rasya yang tak pernah menginjakkan kaki di kantin tiba tiba datang bergabung bersama mereka. Mila hanya menunduk saat semua pandangan jatuh ke arahnya. Bagaimana tidak?berjalan bersama dokter dingin adalah pengalaman legendaris buang pernah ada.


Kemudian mereka mengambil kursi bersama sambil membawa nampan yang berisikan makanan sehat khas rumah sakit.


"Oh iya, kemarin saya mau minta maaf kalau saya sudah membawamu ke rumah sa..."


"..gak papa pak,saya paham dan terima kasih banyak"


Rasya mengangguk. Dia berfikir Mila di antar sopirnya Sampai pulang ke rumah dengan selamat. Andai saja Rasya tidak sibuk waktu itu dan buru buru ke rumah sakit,mungkin dialah yang akan mengantar Mila sampai rumah nya.


"Setelah ini mau kemana?"


"Markas"


"Saya antar sekalian menyapa mereka"


Mila mengangguk lalu pergi ke markas nya yang terletak di ujung ibu kota.


Disisi lain Rizal pergi ke ruangan Rasya dan terkejut saat mendapati sosok Nabila yang berdiri sendirian di dalamnya. Gadis cantik dengan kulit salju itu sempat membuat hati Rizal membeku ngilu.


"Mana Dokter Rasya?"tanya Rizal sambil meneguk ludah nya saat melihat leher ramping nan mulus milik Nabila.


Nabila menggeleng dengan jari  jari panjang  memegang berkas,"nggak tahu,sejam yang lalu dia pergi untuk menemui orang penting"jawab Nabila  bingung saat melihat Rizal yang menutup wajah dari nya,"dokter kenapa?"

__ADS_1


Rizal menggeleng cepat dan berusaha mengatur nafasnya. Kemudian ia menatap Nabila dan mereply ulang adegan keterkejutannya,"hah?orang penting? siapa?"


Nabila mengedikan bahu,"seorang pria muda"jawabnya,"ekspresi mu seperti ini apa tidak terlalu berlebihan?"


"Apanya yang berlebihan,dimana2 masih ada satu kondisi yang memperlambat kerja otak untuk menerima objeknya"


Nabila hanya mengangguk angguk dan merapikan berkasnya,"Ada lagi?"


"Ada,yang tadi itu pria muda siapa?"tanya Rizal,"papanya?"


Nabila tertawa,"dokter bercanda? Professor Adi udah gak muda lagi"


"Hahaha iya juga ya terus siapa?"tanya Rizal yang terkesan super bloon di hadapan Nabila.


"Saya tadi pergi untuk menjenguk pasien dan gak sengaja dengar kalau dokter Rasya memanggil nya kakak"


"Kakak?"lirih Rizal sambil berfikir silsilah keluarga Arnrazi,"apa jangan² dia orang yang 9 tahun yang lalu gue bantu buat kabur sampai stasiun kereta?"ucap Rizal membuat Nabila bingung menatap nya,"gue harus ketemu sama dia buat nagih balas Budi"ucap Rizal senang lalu bergegas pergi meninggalkan Nabila.


"Gak jelas,dasar orang aneh"lirih Nabila melihat kepergian Rizal di depannya.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌼


Di markas,suasana ramai seperti pesta. Rafka datang dengan dua kantong besar makanan ringan. Ditambah dengan Laila dan Zera yang memesan martabak manis,terang bulan,dan es kelapa muda yang meramaikan suasana. Mereka tertidur dengan perut besar di kursinya. Hari ini mereka benar-benar pesta besar. Semua pekerjaan berat,rasa lelah dan kebosanan sudah mereka rubah menjadi uap kantuk yang luar biasa.


Rasya datang bersama Mila dengan sekotak brownies mahal pemberian Rasya. Jika mereka melihat, mereka akan berfikir kalau brownis itu adalah  pertama kalinya yang mereka makan di sepanjang hidupnya.


Semua langsung berdiri tegap saat melihat Rasya datang ke markasnya. Terasa cukup canggung dan formal di lingkungan Mereka. Tatapan Rasya langsung beralih pada seorang pria yang berjalan ke arahnya.


"Kenapa kamu bersamanya"


Ucap mereka serentak membuat semua menoleh bingung ke arahnya. Termasuk Mila.


"Kalian saling mengenal?"tanya Laila heran.


Rafka hanya mengangguk sambil menatap Rasya di depannya,"Dia adikku"jawab Rafka membuat Laila membuka besar mulutnya. Tak hanya Laila,Semua pendengar juga terkejut dan menghentikan semua aktivitas nya.


"Kalian sungguh saudaraan?"tanya Zera memastikan,"Baptis,tiri,atau angkat"


"Kandung"jawab Rafka to the point lalu menarik tangan Mila ke sisi nya,"Jangan deket² sama dia,dia Emang tampan tapi sangat mengecewakan buat gadis² lugu kek kalian"ucap Rafka langsung membulatkan matanya besar saat melihat Rasya yang menarik kembali tangan Mila di sisinya.


"Laki² dan perempuan tidak boleh bersentuhan,bukankah itu yang kakak pelajari di asrama"


Rafka tertawa pahit menatap adiknya yang mengesalkan,"Mau berantem?"


"Enggak terima kasih"ucap Rasya datar lalu pergi kembali ke rumah sakit setelah mendapat pesan dari ponselnya.


Laila dan Zera yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya di tempat. Mereka tidak mengerti kenapa kehidupan drama terasa realistis di depannya saat ini. Mereka menghembus nafas nya besar dan berfikir kalau perang saudara akan naik setingkat seperti perang dunia ketiga.


Mila duduk dan tersenyum saat mendapat pesan singkat dari Rasya setelah kepergian nya.


~aku ada urusan mendadak,titip salam pada semuanya  dan maaf,aku akan datang kembali lain waktu,jaga dirimu saat pulang,cuaca dingin diluar jangan sampai sakit dan terlambat datang besok, aku akan beri pengajaran singkat dari apa yang kamu pelajari selama ini~

__ADS_1


Jika semua orang Tidak tahu maka Mila akan mengatakan nya, kalau kalimat ini adalah kalimat terpanjang dari sosok Rasya untuknya. Terkesan sangat manis dan tegas. Mila sangat menyukainya dan menekan tombol bintang untuk menjadi pesan favoritnya.


~Terima kasih untuk semua dan brownies nya,pak...saya janji akan giat dalam magang dan mengamati bapak◖⚆ᴥ⚆◗


Terkesan sangat menjijikkan tapi Mila tidak menyesali nya. Mila tersenyum sambil memakan brownis Rasya yang ia beli dari restoran milik bibi nya.


"Lo gak doyan brownies?"tanya Zera pada Rafka yang duduk sambil menutup matanya.


"Bosen"jawab Rafka singkat lalu tertidur pulas di sofa panjang markas.


"Bener bosen, Lo juga keponakannya"ucap Zera menyantap brownies lumer nya.


"Gen Professor Adi emang gak pernah gagal ya"celetuk Laila membuat Mila hanya mengedikan bahunya,"jangan sampai salah milih kalau yang rebutin Lo itu sama sama pangerannya"


"Terserah"jawab Mila lalu terkejut saat mendapat balasan singkat dari Rasya.


~Yang serius belajar nya~


Pesan Rasya membuat teman temannya melirik dan menggodanya. Akhirnya mereka tahu siapa pilihan Mila di hati nya. Mila merasa malu lalu mengetik sesuatu di ponselnya.


~Siap bos~


Rasya yang duduk di depan Hamka tiba tiba tersenyum saat melirik ponselnya. Hamka benar benar kesal melihat ekspresi Rasya yang  seperti sedang mengejeknya. Rasya menahan senyumnya Lalu melihat Hamka yang sedang menatap nya kesal.


"Kenapa kamu tertawa?"


"Hanya kebutuhan"jawab Rasya singkat membuat Hamka semakin kesal.


"Jika tidak ada urusan lagi,aku pergi"


"Berhenti bermain main dan fokuslah dengan rumah sakit"


"Hmm"ucap Rasya lalu pergi dari ruangan Hamka. Ia memang tidak akur dengan paman nya . Akan tetapi ia masih menghargai Hamka dan datang saat paman nya memanggil nya.


"Senyum karena kebutuhan?apa dia bercanda?"lirih Hamka menatap pintu keluar ruangannya. Kemudian ia menekan telepon putih di mejanya.


"Apa dokter Rasya dekat dengan seseorang akhir akhir ini?"


"Iya prof,seorang dokter muda"


"Dokter muda?"


"Emm sepertinya itu dokter Qiana"


Hamka tersenyum,"Baguslah,kamu awasi terus keponakan durhaka itu,jangan sampai ada yang menghambat demi kemajuan rumah sakit"


"Baik prof"


"Syukurlah jika dokter Qiana orangnya,setelah sekian lama akhirnya ada yang bisa menganggap ku ada di dunia ini"batin Hamka senang,"Adi benar benar-benar tidak bisa dipercaya setelah mengirim keponakan kesayangan ku pergi,tidak tahu bagaimana kabar anak itu,aku sangat merindukan nya"lirih Hamka sambil menatap foto masa kecil Rafka di pelukannya.


🌿🌿🌿🌿🌼

__ADS_1


__ADS_2