Dokter Dingin ,Suamiku

Dokter Dingin ,Suamiku
#82


__ADS_3

Tap.


Tap.


"DR. QIANA ANASTASYA DEWI!!"


"Mila....bagaimana kamu bisa hidup kembali?"lirih qiana yang shock melihat Arum ada di depannya.


"Kenapa kamu berani buat ganggu suamiku hah?"ucap Arum datar namun sangat berenergi untuk membuat tulang hati Qiana rapuh sampai paru paru. Azen yang melihat itu tertawa dan mencoba untuk melihatkan wajah kemarahannya.


Qiana memberanikan diri sambil maju langkah demi langkah hingga membuat Arum memundurkan langkahnya "kamu mau apa emang?aku lebih dulu mencintai Rasya dan kita akan segera menikah,....kamu tidak bisa menghalangi hubungan ku lagi bersamanya"


"Aku tidak pernah ingin menikahimu"ucap Rasya membuat qiana kesal dan hendak mendorong tubuh Mila sampai terjatuh. Untungnya Rasya cepat dan berhasil meraih tangan Mila untuk  jatuh dalam pelukan nya saat kakinya hendak tergelincir ke tanah.


Rasya memeluk Arum erat" maafkan aku..jangan pergi dan menyuruhku untuk menikah lagi "bisik Rasya terdengar sangat tulus .


"Bantu aku mengusirnya pergi nanti aku dan putraku tidak akan mengganggumu lagi"bisiknya lagi karena merasakan Arum yang terus memberontak dalam pelukannya. Arum terdiam dan terpaksa menerima pelukan Rasya agar drama ini segera cepat selesai.


"Iya sayangku..aku tidak akan pergi lagi darimu selamanya"ucap Arum terpaksa membuat Rasya dan Azen tersenyum kemenangan.


"Sya, lalu aku?"tanya qiana kesal melihat Rasya dan arum yang saling berpelukan.


"Qiana,apa kamu tidak lihat kalau aku dan Mila masih saling mencintai"ucap Rasya membuat qiana kesal lalu pergi. Seketika itu Arum langsung mendorong tubuh Rasya untuk menjauh dari pelukannya.


"Jangan lupa janjimu untuk tidak menggangguku lagi"


"Azen, apa kamu dengar ayah mengatakan itu?"tanya Rasya pura pura lupa dengan ucapannya. Baginya, bagaimana pun sikap Mila ia ingin selalu terlibat dalam hidupnya. Dalam hatinya ia benar benar yakin kalau wanita di depannya itu adalah istri sah nya.


Azen menggeleng" enggak denger ayah"ucap Azen mendukung kebohongan ayahnya karena dia yang juga ingin terus bersama ibunya.


Rasya tersenyum melihat Arum yang sedang menatapnya kesal, " terus apalagi yang kamu denger?apa kamu masih ingat?"tanya Rasya mendapat anggukan.


"Ibu tadi bilang kalau ibu tidak akan pergi dari ayah selamanya,apa aku benar ayah?"


"Anak pintar, ayo kita pergi...biarkan ibumu beristirahat dengan baik... besok kita harus menemuinya kembali"ajak Rasya menggendong Azen pergi.


"Kalian!!!benar benar menyebalkan!!"teriak Arum kesal melihat kepergian Rasya dan putranya.


"Arum!!!"panggil seorang gadis,salah satu dari rombongan nya.


"Apa?"refleks Azen melampiaskan amarahnya.


"Hey...hey kenapa kamu kesal?"


"Gak tau..aku habis bertemu dengan dua orang gila"ucap Arum lalu pergi meninggalkan kebingungan untuk temannya.


Gadis itu menggeleng " dasar aneh!!"ucap nya lalu pergi menyusul Arum.


🌿🌿🌿🌿🌿


Rasya penasaran melihat putranya yang selalu cerewet mendadak menjadi diam di dalam mobilnya. Rasya melakukan mobilnya di sebelah kiri jalan lalu menginjak rem nya.


"Dewi tahu nggak ya kalau aku punya pangeran pintar tapi  tiba tiba dia mengabaikan ayahnya seperti ini?ada yang tau nggak ya kenapa dia jadi sedih begini?"sindir Rasya sambil menatap langit di kaca depan mobilnya.

__ADS_1


"Ayah....kenapa ayah gak bawa ibu pulang?"ucap Azen membuat Rasya terdiam. Ternyata hal ini yang membuat putranya terlihat sesedih ini. Mungkin karena dia yang terlalu merindukan ibunya untuk ia peluk tubuhnya.


"Azen lihat ayah, Azen percaya kan sama ayah?"ucap Rasya melihat anaknya yang masih menunduk bingung. "Beri ibumu waktu ,dia akan segera kembali bersama kita"ucap nya lagi sambil mengeluarkan ASMR miliknya.


"Ini apa ayah?"


"Suara siaran ibumu"


Azen tersenyum saat mendengar suara Arum yang sangat lembut di telinga nya. Dia tidak menyangka jika suara ibunya itu bisa sangat menenangkan kecemasannya.


"Besok kita datang ke studio untuk temui ibumu"ucap Rasya membuat Azen tertawa senang. Jarang sekali jika ayahnya itu bisa meluangkan banyak waktu untuk menemui nya.


Azen mengangguk senang, "baik, aku percaya sama ayah"ucap Azen membuat Rasya senang lalu kembali melanjutkan perjalanan nya.


🌿🌿🌿🌿🌿


Jam masih  pukul 4 pagi, tidak biasanya anak itu sudah bangun pagi pagi. Ia berlari dari kasurnya sambil memegang radio menuju kamar ayahnya. Betapa bahagianya dia saat mendengar suara Arum yang sedang melakukan siaran. Rasya yang baru bangun ikut terkejut saat mendengar teriakan Azrn mengetuk pintunya.


"Ayah...ini suara ibu!"teriaknya lalu naik dan duduk di kasur Rasya. Ia dengan senangnya menyetel radio itu mengabaikan Rasya yang masih tertidur.


"Ayah....jangan tidur"teriak Azen menggoyang goyangkan tubuh Rasya


"Azen..ini masih pagi, ayah baru saja tidur ..kamu rekam dulu aja nanti ayah setel ulang"


Azen menggeleng, "aku gak mau rekam lagi, ayo pergi ke tempat ini ayah...aku mau ketemu ibu"rengek Azen sambil menarik tangan ayahnya, "ayo ayah aku bisa marah nanti kalau ayah gak bangun"


"Ayah mandi dulu"


"Gak usah ayah"


🌿🌿🌿🌿🌿


IBU!!!!. Teriak Azen mengagetkan Arum yang hendak menjatuhkan badannya ke atas sofa. Dua jam duduk di kursi penyiaran membuat Arum merasa lelah. Pikiran dan hatinya semakin lelah saat melihat Rasya dan Azen sudah ada di depan studio nya.


"Siapa mereka?"tanya gara yang ikut mengintip dari tepi jendela


Arum mengedikan bahunya, " tidak tahu anak itu memanggilku sebagai ibunya, aku pergi dulu kak"ucap Arum yang langsung menemui mereka. Dalam hati ia memang selalu kesal. Akan tetapi tidak tau mengapa kalau berjalan bersama mereka adalah sebuah kenyamanan yang sangat berharga.


Azen langsung memeluk ibunya membuat gara yang melihat nya dari kejauhan merasa kesal. Gara tidak bisa membiarkan Arum kembali pada keluarga nya sebelum adik kandung nya berhasil ia temukan.


"Ada apa?"cetus Arum melihat Rasya yang masih ada di kursi mobilnya.


"Dia mengajakmu pergi"jawab Rasya yang masih mengantuk sambil menaikan alisnya untuk menunjuk Azen.


Arum langsung melihat Azen yang masih menatap intens matanya. "Ada apa?"


"Ayah mau mengajakmu pergi..ibu"


"Aku?"


Azen mengangguk mantap "emm"


"Kemana?"tanya Arum jutek pada Rasya.

__ADS_1


"Apanya?"


"Kata Azen mau mengajakku pergi?"


Rasya menatap Azen yang sudah tertawa sambil menutup wajahnya. Bisa² nya anak kecil itu malah menggunakan namanya untuk menghabiskan waktu bersama ibunya. Rasya hanya mengangguk saja sebagai respon untuk menyuruh Arum menurut dan masuk kedalam mobilnya. Ia tahu kalau Azen tipikal anak yang tidak bisa di tolak permintaan nya. Mungkin ini juga kesempatan untuk mencari tahu keadaan istrinya.


"Aku bukan sopir mu.."ucap Rasya saat melihat Arum membuka pintu belakang mobilnya.


"Biarin aku mau temani Azen"


"Azen bisa sendiri, kamu duduk di depan!"ucap Rasya yang diabaikan oleh Arum karena dia yang tetap memilih duduk di kursi belakang.


"Ayo jalan!"cetus Arum membuat Rasya mau tidak mau mulai menghidupkan mobilnya.


"Ibu ayah marah sama kita ...kenapa ibu duduk di belakang?"bisik Azen merasa takut melihat siluet tajam ayahnya.


"Gak papa, jangan takut kita dilindungi oleh hak perlindungan manusia"bisik Arum membuat Azen tertawa karena ekspresi nya yang menggemaskan. Rasya hanya menghembuskan nafasnya besar saat melihat Arum dan Azen bergabung untuk melawannya.


Satu jam sudah mereka berjalan tanpa arah. Azen yang merasakan keheningan di dalam mobilnya ingin segera meluncurkan bakat dramanya. Azen langsung menangis dan mengeluh kesakitan membuat kedua orang tua itu langsung menoleh secara bersamaan.


"Kamu sebenarnya mau bawa kita kemana sih"


"Ibu ..jangan marahin ayah, selain jalan rumah sakit ayah itu gak tau jalan "rengek Azen sambil memegang perutnya.


"Haduh terus gimana perutmu?masih sakit"


"Ayo pergi ke rumah sakit "ucap Rasya sedikit panik.


Azen menggeleng cepat. Aroma rumah sakit atau apalah itu,ia benar benar tidak suka berlama-lama disana "gak usah ayah, mungkin karena aku lapar...ayo kita makan bersama ayah"


"Baiklah kamu mau makan apa?"


"Terserah ayah"ucap azen yang akhirnya malah membuat Rasya kesal. Pasalnya, sudah 12 restoran Rasya berhenti tetap saja di tolak Azen sampai akhirnya ia memilih untuk melakukan mobilnya menuju rumah .


"Ayah kenapa malah pulang?"tanya Azen bingun melihat mobil yang sudah berada didepan rumahnya.


"Kesayangan mu itu bisa masak, katakan saja apa maumu ayah benar2 harus tidur daripada kalian nanti bisa kecelakaan "ucap Rasya yang sudah turun dari mobilnya.


Sebenarnya ia sudah tahu kalau putranya itu sedang membohongi nya. Tidak mau tahu dengan pikiran buruk Arum, Rasya harus tidur untuk jam malam nya nanti.


"Ayahmu itu sangat tidak punya hati sekali,baiklah katakan saja apa maumu biar aku yang melakukannya "


"Ibu bisa melakukannya?"


Arum tersenyum sambil menombol hidung kecil anak itu, "kamu meremehkan ku?jangan lupa aku adalah Dewi yang bisa menyulap makanan di depanmu"gurau Arum membuat Azen tersenyum senang. Ternyata sepeti ini rasanya mempunyai seorang ibu yang manis dan perhatian padanya.


Arum langsung menggandeng tangan Azen untuk masuk kedalam istana besar itu. Kemudian Arum berhenti didapur dan mulai memasak makanan untuk Azen. Setelah matang, dengan senangnya Azen Langsung memakan itu dengan sangat lahap.


Arum berjalan ke sofa saat melihat Rasya yang sudah tertidur di atasnya. Ia mulai kasihan saat melihat pesan dari ponsel Rasya yang mengingatkan nya untuk bertugas malam di ruang operasi. Pikirnya, pasti sangat berat membesarkan anak sendiri di tengah tengah kesibukannya yang sangat padat.


Arum membantunya melepas sepatu dan kaos kaki lalu menaikan kedua kakinya sempurna di atas sofa. Ia merasa terharu dengan sikap Rasya yang selalu menyimpan rekaman nya dan juga menyetel alarm untuk jadwal siaran nya.


"Orang ini tampan juga"lirih Arum sambil membenarkan anak rambut Rasya yang menutupi keningnya. Rasya tersenyum sambil menarik tangan Arum hingga jatuh keatas dadanya. Rasya membuka matanya dan berhasil membuat Arum gugup seketika.

__ADS_1


"Apa aku......setampan itu?"


__ADS_2