
..."Pengalaman indah atau buruk itu hanya akan Berkumpul menjadi satu kata yaitu kenangan"...
...~Muhammad Rafka Ar razi...
🌿🌿🌿🌿
Jam masih menunjukkan pukul dua dini hari,Rasya langsung bergerak setelah mendapat panggilan darurat dari tim medis nya. Mereka menemukan pasien kritis dengan tenggorokan yang berdarah karena Pecahan kaca. Sebelumnya mereka sudah menghubungi dokter Qiana. Namun karena kekhawatiran mereka ikut menghubungi dokter Rasya di tendanya.Qiana sedikit lega saat melihat Rasya yang sudah bergegas untuk membantunya.
"Apa yang terjadi?"tanya Rasya sambil memeriksa pernafasan pasien.
"Aku sudah memeriksa nya, tenggorokannya cedera dan oksigen tidak bisa masuk"jelas Qiana,"Dia harus di intubasi tapi saluran pernapasan nya bengkak jadi kantong Ambu tidak bisa membantu"
"Berikan alat krikotirodektomi padaku"ucap Rasya menemukan penyelesaian yang melintas di otak nya,"Ini adalah langkah terakhir manajemen jalan nafas dalam kegawatdaruratan"
Qiana menggelengkan kepalanya membuat Rasya menatap nya bingung,"Ada apa?jika kamu tidak bergegas dia akan mengalami gagal nafas"
"Emm aku tidak membawanya"jawab Qiana takut sambil menggigit bibir bawah nya.
Rasya menghembuskan nafasnya besar mendengar pengakuan Qiana yang sudah bekerja keras menyelamatkan pasien. Rasya langsung mengeluarkan jarum suntik dalam tas nya untuk membuka membran krikotiroid secara cepat dan mengatasi sumbatan jalan nafas di laring pasien.
"Bagaimana sya?apa dia akan mati?"
"Perhatikan,membran krikotiroid dibawah tulang rawan tiroid dan di atas tulang rawan krikoid sedalam 2 cm dengan sudut 45°"ucap Rasya sambil menyuntikkan jarum suntik secara perlahan
Qiana tersenyum,"benar,ini bisa dilakukan dalam keadaan darurat dengan waktu yang lebih singkat"
Rasya mengangguk,"remas kantong nya sesuai interval pernafasan yang tepat"
"Baik"ucap Qiana sambil meremas kantong Ambu sesuai perintah Rasya"Dia hidup"
Rasya mengangguk,"bawa dia ke ruangan"ucap nya lalu pergi setelah melihat pasien sudah di antar ke ruangan lebih khusus.
"Bekerja sama denganmu adalah kenangan terindah di sepanjang hidupku ini"lirih Qiana memandang kepergian Rasya di depannya,"sya,terima kasih atas memory indah yang singkat ini"
🌼🌼🌼🌼🌼
Cilacap.
Keadaan sudah lebih baik dari sebelumnya. Mila dan tim nya sudah berencana untuk kembali ketanah kelahirannya. Akan tetapi,mereka memutuskan tinggal sementara untuk memastikan keadaan benar benar-benar sudah selamat dari adanya gempa susulan.
Mila duduk di kursi dengan segelas kopi di tangan nya. Matanya yang mengantuk benar-benar memaksanya untuk meneguk habis cairan kafein itu. Kemudian ia terkejut saat melihat anak kecil menarik tangan nya sambil menangis meminta ibunya.
"Kakak cari ibuku....aku berjanji akan melindungimu saat aku dewasa nanti"
"Adik kecil dimana ibumu?"
Dia menggeleng,"aku sedang bermain saat gempa itu datang"
"Apa kamu sudah mencarinya di tenda darurat"
Lagi lagi Anak itu menggeleng,"aku gagal menemukannya"
__ADS_1
Mila tersenyum menenangkan,"baik baik aku akan membantumu tapi berjanjilah padaku kamu tidak boleh menangis dan terus yakin kalau ibumu itu akan baik baik saja,bagaimana?"Ucap Mila mendapat anggukan kepala dari anak kecil itu,"apa kamu tidak punya fotonya?"
Anak itu menggeleng,"Tanah sudah mencuri semuanya dariku"
Mila tersenyum untuk menghilangkan kecemasan di wajah anak kecil itu,"baik baik jangan menangis, sekarang katakan padaku siapa namamu"
"Kenzie"
"Nama yang bagus,kalau aku punya anak laki laki aku akan menamai nya Arzen biar jadi temanmu"
"Aku akan mengingatnya"ucap Kenzie polos membuat Mila tersenyum. Ia sungguh tidak tahu kenapa pikiran nya bisa sampai kesana. Jangankan anak suami nya ia belum tahu wajahnya.
"Emm apa kamu tidak ciri ciri ibumu?"
"Ada tahi lalat besar di lehernya"jawab Kenzie,"ibu juga punya luka bakar di pergelangan tangan kirinya"
Mila terdiam,"klik sudah teringat,apa kamu sudah bisa tersenyum sekarang?"
"Apa informasi tentang ibuku sudah cukup?'
"Sudah,kamu istirahat lah ...jika ibumu kembali kamu bisa menyambutnya dengan baik"Ucap Mila membuat Kenzie mengangguk lalu pergi.
Rafka yang berdiri tak jauh dari mereka merasa kagum dengan sifat Mila yang tenang dan lemah lembut. Dia tersenyum sambil mengikuti Mila yang sudah beranjak menuju tempat kejadian.
Sreek....sreeek...
Mila menoleh,menangkap Rafka yang diam diam mengikuti nya dari belakang,"Lo kenapa ngikutin gue?"
Rafka berjalan sambil mengumpulkan bagian mobil nya satu persatu. Roda,Aki,jok sopir, gas,hingga pintu mobil membuat dia sangat bahagia. Dia yang terlalu tenang membuat nya melupakan sosok Adam yang selalu menemaninya. Rafka yang terdiam menarik Mila untuk memperhatikan nya.
"Sopir mu baik baik saja,ditangani lebih awal sebelum Lo di temukan"ucap Mila sambil memberikan setir mobil yang berlumuran lumpur ke tangan Rafka,"benda² ini begitu penting,Lo ngumpulin ini semua apa ingin ngrakit kembali?"
Rafka tersenyum sambil mengikuti Mila di depannya,"Kalau gak ada orang kek gue apa menurut Lo sejarah bakal ada sekarang"Ucap Rafka lalu terjatuh karena tangan yang muncul dari dalam tanah.
Rafka membulatkan matanya besar lalu bersembunyi di belakang Mila,"Tangan"Ucap nya ketakutan.
"Sudah tiga Minggu,itu hanya tulang tanpa kulit kenapa Lo takut?"
"Gue gak takut cuma geli aja"ucap Rafka merapikan penampilan nya agar tidak terlihat buruk di hadapan Mila. Padahal yang sebenarnya dia sangat takut melihat tangan tanpa tubuh itu.
Kemudian mereka menyusuri daerah yang sudah hancur karena tanah. Rafka tersenyum saat menemukan botol shampo yang masih utuh dan bisa di gunakan. Rafka menatap Mila sambil melempar botol shampo tepat di tangan nya"Buat Lo,gue masih ingat sebelum kejadian ini gue sempat pergi ke supermarket buat beli shampo paling berkualitas"
"....gak nyangka masih utuh"sambungnya lagi sambil menggeleng geleng kepalanya,"benar benar berkualitas,cocok buat Lo"
"Gue gak butuh ini"ucap Mila melempar kembali botol shampo nya,"rambut gue masih bisa di ajak sabar biar gak lepek"
Rafka melempar kembali membuat mila terkejut untuk menangkapnya,"Pakai aja,di dalam keadaan seperti ini bukankah ini dinamakan keberuntungan?"
Mila menghela nafasnya besar sambil memasukkan botol shampo ke dalam kantung baju nya. Apapun yang terjadi Mila tahu kalau dirinya tidak pernah bisa melawan kehendak Rafka. Rafka yang merasa berhasil merasa bahagia dan tersenyum puas menatap nya.
Satu jam,dua jam,bahkan sampai tiga jam Mila tak berhasil menemukan ibu Kenzie di manapun. Dirinya sungguh tidak ingin berfikir kalau ibu Kenzie sudah tenggelam karena tanah.
__ADS_1
"Ada apa?"tanya Rafka yang mendengar hembusan kasar dari Mila.
"Berbicara Sama Lo apa ada gunanya?"
Rafka tersenyum melihat tingkah Mila yang terus dingin kepadanya. Ia tahu kalau Mila adalah gadis hangat yang selalu ramah dan senyum kepada semua orang. Namun,kenapa saat bersama nya Mila sangat sulit untuk di dekati. Apakah rafka telah menyinggung nya sejak pertama kali bertemu?atau dirinya terlalu tampan sampai buat Mila berdebar kencang dan memilih untuk dingin kepadanya agar tidak ketahuan?.Mungkin saat ini lah Waktu yang tepat untuk memasrahkan semua kepada Tuhan, alam,dan seisinya.
"Bukankah orang yang Lo cari itu selalu mengantarkan teh panas untuk semua orang?anak kecil itu hanya mempermainkanmu karena kecemasannya sendiri"
"Apa maksud Lo?"
"Ibunya melupakannya"jawab Rafka dengan kedua tangan yang ia letakkan di belakangnya,"Mungkin karena benturan keras di kepala membuat orang itu sedikit trauma lalu amnesia"
"Kalau begitu kenapa Kenzie datang ke gue?"
"Ibunya amnesia bukankah menurut Lo anak itu takut kalau yang di depannya itu bukan ibu nya?"
Mila terdiam.
Rafka menarik tangan Mila yang hendak pergi menemui ibu Kenzie dan membawanya pergi ke hadapan anaknya.
"Mau kemana?menemuinya??gue ingat kalau amnesia itu tidak bisa dipaksakan....jika memaksa nya hanya akan memperburuk keadaan,biarkan Kenzie mencari caranya sendiri untuk mendapatkan kembali ibunya"ucap Rafka membuat Mila terdiam. Mila terkejut saat melihat Kenzie yang sudah berdiri membantu ibu nya.
"Kak..."panggilnya dengan mata berkaca-kaca dan senyum yang sebening kaca.
"Kenzie maaf kakak"
"Aku sudah menemukan ibuku,terima kasih dan...maaf"
Mila tersenyum membuat Rafka tersenyum,"jangan khawatir ,tuhan tidak akan tega melihat ibu yang melupakan anak nya sendiri....lambat lain ibumu akan mengingatmu kembali"ucap Rafka mendapat anggukan dari Kenzie.
"Iya kak, walaupun tidak ingat ibu masih sangat baik seperti dulu,asal ibuku ada aku tidak masalah lagi kak"ucap Kenzie,"aku hanya takut kalau ibuku hanya sebuah bayangan saja"
"Lelaki hebat gak pernah menangis,mereka akan melawan dunia untuk melindungi orang yang mereka sayangi"
Kenzie mengangguk lalu menatap Mila kembali,"Boleh panggil kamu ibu?"tanya nya polos,membuat Mila refleks mengangguk,"kamu cantik seperti ibuku"
Rafka tersenyum,"Kalau begitu aku ayah nya"gurau Rafka mendapat tatapan tajam dari Mila
"Ayah ibu jangan bertengkar ya....aku menunggu Azen yang akan bermain bersamaku"
"Kalau begitu bilang sama ibumu jangan benci ayah lagi,jangan marah marah sama ayah lagi dan lebih tepatnya ibumu harus selalu senyum sama ayah"
"Apa itu yang dilakukan untuk membuat anak?"
Rafka tersenyum dan mengangguk,"hal sederhana itu saja,kalau lebih ibumu bisa marah"
Kenzie mengangguk lalu meraih tangan Mila,"Bisa lakukan apa yang ayah mau?"Tanya Kenzie mengejutkan Mila,"katakan ibu!!"
Mila mengangguk membuat anak itu melompat kegirangan dan berlari ke arah Rafka,"Janji kamu akan jaga ibuku"
"Apa aku pria yang gak bisa megang janjinya?....aku akan menjaga ibumu"ucap Rafka sambil tersenyum menatap Mila.
__ADS_1