Dokter Dingin ,Suamiku

Dokter Dingin ,Suamiku
#44


__ADS_3

Ceklek....


Mila tersenyum saat melihat seisi rumah Rasya yang lebih hidup seperti keinginan nya. Keindahan yang murni dengan interior yang terlihat lebih elegan. Tanaman yang menggantung di sudut ruangan Rasya dengan ukiran kayu di atas meja membuat Mila menggambarkan kalau rumah Rasya adalah cabang dari keindahan di surga.


"Ruang tamu berwarna biru, ruang makan kuning , kamar merah muda dan dapur berwarna coklat, apa maksudnya?" Tanya Mila senang.


Rasya tersenyum, "Aku tidak tahu kapan bisa pulang dari Singapura, jadi aku melakukannya disini karena merindukan mu".


"Apa aku boleh tanya berapa banyak rumahmu sebenarnya?"


Rasya tertawa, "ini rumahku dan papa saat masih belajar di Singapura, emm apa kamu suka"


"Sangat suka sampai rasa lelahku hilang begitu saja,terima kasih"


"Bagus kalau kamu suka, itu saja sudah cukup bagiku"


Mereka pun langsung pergi ke kamar tidur untuk melepaskan semua kelelahan mereka. Ribuan pasien yang terkena wabah berhasil membuat mereka tidur cepat tanpa kata kata manis dan dongeng panjang sebelum tidur.


Pagi harinya Rasya bangun lebih awal. Mila yang masih tertidur pulas seperti gadis lajang yang belum menikah berhasil membuat Rasya menyunggingkan senyumnya.


Rasya pergi mandi lalu duduk disamping Mila dengan sebuah buku di salah satu tangannya. Seketika itu Mila yang pura pura tidur langsung memeluk perutnya erat.


"Apa yang kamu baca?ini masih pagi kenapa baca buku?"


Rasya tersenyum sambil mengelus rambut Mila dengan tangan kanannya. "Ini sudah siang, ayo bangun"


"Aku sangat lelah, lima menit lagi ya...pasienku lebih banyak dari kamu kemarin, jadi aku lebih butuh banyak istirahat" ucap Mila dengan matanya yang tertutup membuat Rasya gemas dan mengacak-acak rambutnya.


"Jangan mengacak-acak rambutku" ucap Mila kesal membuat Rasya tersenyum dan mengecup rambutnya.


Cupp.


"Kalau begitu begini saja" ucap Rasya membuat Mila tersenyum malu.


"Emm begitu lebih baik" lirih Mila yang masih asyik memejamkan matanya.


Satu detik.


Dua detik.


Kruuukkk...


Suara dari perut Rasya membuat Mila kehilangan rasa kantuknya. Jujur ia kaget mendengar itu. Bagaimana bisa seorang suami lapar saat istri ada disampingnya.


"Kamu lapar?"

__ADS_1


Rasya menghela nafas nya, "ya gimana lagi, istriku belum bangun jadi aku hanya bisa bersabar" gurau Rasya membuat Mila memukul perutnya.


"Iya² aku masak" ucap Mila yang bangkit dari tidurnya lalu terjatuh lagi saat Rasya menariknya.


"Tetaplah disini,jangan kemana mana lagi....kita sudah sangat lama tidak bertemu" ucap Rasya menatap Mila dalam.


"Kamu menahanku disini, perutmu bisa berontak karena aku yang tidak menjadi istri yang baik untukmu"


"Abaikan saja, aku adalah tuan nya..asal ada kamu aku tidak peduli harus lapar berapa lama"


"Dih, jangan bicara manis lagi ini masih pagi!" Ucap Mila yang turun dari ranjangnya. "Aku mau masak"


"Sudah ku bilang kalau kamu hari ini gak usah masak"


"Kenapa? Kamu sewa ART?"


Rasya terdiam membuat Mila langsung turun ke bawah.


"Hmm sebenarnya sih bukan ART....."lirih Rasya sambil menggelengkan kepalanya.


Tap.


Tap.


"Mila kamu sudah bangun?" Sapa maira memindahkan beberapa masakannya ke meja makan.


Rasya tersenyum sambil memeluk Mila dari belakang, "Mereka mertuamu kenapa tidak boleh datang?"


"Sya,aku malu tahu jam segini baru bangun" bisik Mila mencubit perut suaminya.


"Kenapa dicubit?"


Mila menatap Rasya kesal, " kamu nakal"


Adi yang mendengar perdebatan mereka langsung berdehem diikuti dengan maira yang menertawai nya. Pasalnya, Adi itu sedikit kesal saat maira tidak mengizinkan makan sebelum putra dan menantu nya  bangun dan makan bersama.


"Kalau kalian berdebat disana papa mu ini bisa mati kelaparan" cetus Adi membuat semuanya tertawa. "Lihat  mamamu! Dia tadi pagi tidak mengizinkan ku makan sebelum kalian bangun, dan sekarang kalian baru bangun maksudnya apa?"


"Ayo pa makan" ajak Rasya membuat semuanya lagi² tertawa. Pria dua puluh tujuh tahun itu akhirnya bisa menunjukkan rasa hangat pada keluarganya setelah sekian lama.


"Sssstttt suamiku kamu ini bilang apa?kalau mau segera punya cucu,kamu harus memberi mereka banyak waktu" ucap Maira membuat Mila tersipu malu. Anak? Tidak, kemarin dia dan Rasya terlalu lelah dan tidur cepat.


Hening .


Semuanya sedikit Canggung saat melihat Rasya yang terdiam mencari kakaknya. Ia langsung beranjak pergi saat mendapat pesan dari Rafka yang sudah berangkat menuju bandara.

__ADS_1


"Aku pergi sebentar" pamit Rasya membuat semua keluarga nya bingung.


"Mau kemana?" Tanya Mila yang tak mendapat jawaban karena Rasya yang sudah hilang di ambang pintu.


"Kamu gak papa sayang" tanya Maira yang mengerti dengan perasaan Mila yang ditinggal suaminya.


"Gak papa ma, mungkin ada pasien penting yang membutuhkan dirinya"ucap Mila menyembunyikan kecemasannya. Adi dan Maira tersenyum kagum saat menyadari menantu nya yang sangat perhatian pada profesi putranya.


🌿🌿🌿🌿🌿


Rasya berlari mencari keberadaan kakaknya di tengah kerumunan bandara. Langkahnya terhenti saat melihat punggung belakang Rafka dengan setelah jas hitam nya.


"Kak...."


Rafka menoleh, " Sya"


"Kakak mau pergi seperti ini?"


Rafka mengangguk.


"Sebelum pergi boleh aku bertanya satu hal?"


"Apa yang mau kamu tanyakan?"


"Waktu itu kenapa kamu lebih memilih untuk memberi tahu semua nya? Bukankah kamu juga mencintai nya?"


"Aku memang mencintainya tapi aku masih satu² nya kakakmu" ucap Rafka membuat Rasya memeluknya.


"Maaf kak,aku telat kembali"


"Kapanpun kamu kembali aku tetap Kakak mu"ucap Rafka.


"Jaga dia, kalau kamu gagal menjaganya aku akan mengambilnya kembali" ucap Rafka.


"Aku akan menjaganya sampai dia merindukan setetes air matanya"


Rafka mengangguk, "ayo kita pergi" ucap Rafka pada bodyguard nya .


Rasya menatap rafka bingung, "kakak mau kemana?"


"Ada satu hal yang belum aku selesaikan dan satu hal itu yang membuat keadaan kita menjadi secanggung ini" ucap Rafka.


Rasya terdiam.


"Aku harus kembali ke asrama"

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2