Dokter Dingin ,Suamiku

Dokter Dingin ,Suamiku
#45


__ADS_3

Bandung,jalan kenari no 152.


Reygan duduk sambil memainkan game di ponselnya. Papa nya yang baru datang dari wisuda kakaknya selalu berharap agar Reygan bisa menjadi kebanggaan nya. Piala emas bertingkat tiga dengan untaian kata-kata pedas dari papa nya membuat Reygan pergi meninggalkan rumahnya.


"Pa, dimana mana anak emas gak pernah salah di mata papa " ucap Reygan kesal. "Reygan ini cuma anak tembaga yang hak pernah di anggap ada sama papa" ucap Reygan lalu pergi.


Hujan,dara،dan Salfa merasa bingung saat melihat Reygan yang duduk beberapa jam di depan gerbang asrama nya. Mereka yang sibuk menebak maksud tujuan Reygan hanya bisa mengawasi nya dari atas kamarnya.


"CK kenapa dia kesini lagi sih?"


"Dar, sepertinya dia masih belum nyerah sama Lo"ucap Salfa. " Kalo Lo mau dia berhenti Lo harus nolak dia secara jelas dan terhormat"


"Kurang jelas apa cara gue nolak dia?gue udah berusaha keras buat nolak dia sampai merasa gak punya ********"


"Udah² mending Lo turun aja,kasian juga kalau dia terus diam disitu, mungkin diabpunya masalah yang butuh sandaran seperti kita"


Salfa tertawa, "maaf, jurusan gue jurnalistik bukan sosiologi yang sibuk dengerin kisah hidup orang"


"Yaudah² turun aja sekalian gue cari referensi dari orang yang pacaran" ajak hujan.


Ketiga nya turun dari kamar nya membuat Reygan tersenyum melihatnya. Yang pasti senang melihat Dara,cinta nya.


Reygan menarik tangan Dara, "gue serius mau tanya sama Lo, Lo mau nggak pacaran sama gue?"


Dara melepas tangan Reygan kesal. " Dengerin gue kalau GUE GAK PERNAH SUKA SAMA LO! Gue orang yang terus terang, sekali gue gak suka gue bakal bilang gak suka" cetus Dara.


"Yaudah gue sama Lo aja" ucap Reygan menarik tangan Salfa.


"Dih gue masih normal buat cari suami yang lebih tepat dari Lo!!!" Cetus Salfa membuat Reygan menoleh ke arah hujan. Namun, sebelum ia menyatakan perasaannya asal, hujan lebih dulu menatapnya tajam.


"Apa Lo liat????gue juga gak suka sama Lo!!! Jangan buat gue nyesel buat nyuruh mereka untuk nemuin Lo!!!"


"Cinta itu Butuh proses, kenapa kalian bertiga nolak gue?"


"Dih, gue dari dulu paling benci sama pelajaran sains yang suka mengamati proses metamorfosa kepompong jadi kupu², ribet tau nggak" cetus Dara.


"Mending Lo pergi deh karena gue bukan orang sabar seperti yang Lo pikirkan".


Reygan pergi dengan perasaan tanpa arah. Dirinya kesal saat menyadari dunia sama sekali tak menginginkan kehadiran nya. Reygan berdiri di atas jembatan dengan pikiran  yang sibuk mencaru kesalahannya.


Braak....


Seketika itu badan reygan langsung jatuh saat seorang gadis menariknya kasar dari arah belakang.


"Lo gila ya!"teriak gadis itu yang berfikir reygan akan bunuh diri saat itu juga. "Diluar sana masih banyak orang yang mau hidup buat dapetin cita² mereka dan Lo malah bunuh diri disini"


Reygan hanya meringis merasakan berat sekitar lima puluh empat kg itu menimpanya. "Bangun dulu"kesal reygan mendorong tubuh gadis itu untuk menjauh sedikit darinya. Merasa telah menimpa badan atletis dengan ukuran otot perut yang terasa sekali di kulitnya,gadis itu segera bangkit sambil menata pakaiannya.


"Siapa yang bunuh diri?gue gak bunuh diri,ngaco Lo"


"Terus Lo tadi?"


"Kalung almarhum ibu gue jatuh ,jadi gue mau ambil" ucap Reygan sambil menunjukan kalung ibunya yang sekarang berada di dalam genggamannya.

__ADS_1


"Ouh gue pikir Lo mau bunuh diri gara² gagal move on atau mungkin terlilit hutang?gak mungkin broken home kan buat wajah setampan Lo"


"Kenapa gk mungkin?"


"Emm...terakhir kali ada orang mau bunuh diri juga, disana gue lihat tubuhnya luka²....dan ternyata bener itu gara2 ulah orang tuanya"


"Lo yakin?"


Gadis itu mengangguk," gak mungkin gara² jatuh juga kan? kalau liat fisiknya kayaknya dia juga bukan orang yang biasa tawuran"


"Lo kebiasaan Mandang dari luarnya doang, menilai orang dari luarnya aja itu bukan kebiasaan "


Gadis itu hanya mengedikan bahunya ," gue hanya merespos gimana dunia ini bersikap, men they also always think the main appearance?jadi gak ada salahnya kan?


Reygan tersenyum, "Gimana menurut Lo tentang seseorang yang bodoh yang gak pernah bisa banggain orang tuanya?"


"Lo?"


Reygan gelagapan dan langsung membuang mukanya ke depan ," temen gue nanya"


"Ouh, bagi gue gak ada anak yang bodoh....anak bodoh hanya korban dari ketidakdewasaan orang tua"ucap gadis itu lalu pergi sambil merekatkan jaketnya, "lain kali jangan berdiri disitu lagi, takutnya ada yang salah paham "


Reygan tersenyum, "tunggu sebentar" ucap Reygan berlari menghampiri gadis itu ," Lo mau gak jadi pacar gue?"


Gadis itu tertawa," Lo gila ya ?kenapa Lo malah nembak gue?"


"Karena Lo cantik?"ucap Reygan to the point.


Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada lalu menunduk sedikit, " maaf gue gak buka lowongan pacar"


"Sumpah gue gak paham sama cowok jaman sekarang "gerutu sergina membuat reygan tersenyum senang.


🌿🌿🌿


Mila tersenyum saat mendapat notifikasi pemberitahuan dari universitas kalau ia akan wisuda di tanggal 2 Agustus. Mila sungguh tidak bisa berfikir kalau suaminya sendiri bisa datang untuk menghadiri acara wisudanya. Mungkin ia merasa kalau hari itu akan menjadi hari paling bahagia di hidupnya.


Jam menunjukan pukul 19.00, Rasya pulang setelah menyelesaikan beberapa pasien di rumah sakit. Kemudian dia duduk dengan keheningan ruang makan bersama istrinya.


Merasa Mila terus menatapnya, Rasya menoleh lalu meletakkan peralatan makan nya," ada yang mau kamu katakan padaku?"


Mila tersenyum lalu meletakkan dua tangannya diatas meja," 2 Agustus aku wisuda,apa mau hadir untuk melihatku?"


Rasya yang mendengar itu langsung mengambil sendok dan meneruskan datangnya.


"Tidak bisa ya?apa pasien di rumah sakit belum selesai?"


Rasya terdiam, "Maaf"


"Tidak masalah, biasanya kamu juga tidak bisa hadir seperti ini?"


"Hmm, aku tidak suka keramaian seperti itu"ucap Rasya membuat Mila terdiam.


Hening .

__ADS_1


"Besok kita sudah bisa kembali ke Bandung, ada hal yang harus aku observasi"


"Baiklah aku akan bersiap-siap"ucap Mila lalu pergi ke kamarnya.


🌿🌿🌿🌿🌿


Pesawat Singapura berhasil membuat perjalanan keduanya terasa lebih cepat. Mila langsung terdiam saat melihat Rasya yang langsung pergi untuk kegiatan rapatnya. Ia berjalan menghampiri Rizal yang masih sibuk berdebat dengan Nabila di ruangannya.


"Kalian saling dekat?"


Rizal tertawa," gue terlalu sibuk buat dekat sama dia" ucap Rizal membuat Nabila kesal lalu pergi


"Dasar wanita, emang selalu sensitif"gerutunya dalan hati. Kemudian Rizal terdiam saat melihat Mila yang memegang foto masa kecil nya bersama Rasya dan Rafka.


"Danau ini ..."


"Lo tahu?"


Mila mengangguk, " sebenarnya dia orang seperti apa?kadang kekanakan,kadang juga sangat perhatian, kadang dia juga bisa jadi orang yang paling menyebalkan"ucap Mila membuat Rizal terdiam, "gue sama sekali nggak bisa mengerti dirinya?"


"Sebenarnya dia tidak serumit itu, dua hanya pria hangat yang kesepian.  Waktu itu adiknya meninggalkan nya untuk pendidikan sementara dia yang mempunyai kesulitan baca tulis hanya bisa menetap di Jakarta" ucap Rizal melihat foto Rafka yang tersenyum sambil memeluk Rasya yang berwajah datar tanpa ekspresi.


"Kesulitan baca tulis?"


"Benar, tapi dia juga sangat pintar dalam banyak hal"jawab Rizal ," Alasan lain nya Rafka benci rumah sakit"


Hening.


"Sebenarnya hanya Rasya yang paling dekat dengannya tapi kamu tahu sendiri kan kalau sikap mereka sangat bertolak belakang?bahkan saat Rasya pergi si Rafka itu pernah hilang sampai asrama, teman yang banyak membuat dia suka disana dan gak mau pulang ke rumah"


"Lalu apa hubungannya denganmu?"


"Aku membantunya kabur sampai stasiun kereta dan sejak saat itu kita berteman"


"Sekarang aku mengerti kalau dia tidak seburuk itu"lirih Mila menatap foto Rafka dalam ," aku pergi "


Baru saja keluar, ia tak sengaja bertemu dengan Rafka yang mengantarkan asistennya ke rumah sakit karena terluka akibat melindungi nya.


Tatapan mereka bertemu dengan suasana canggung diantara mereka. Rafka langsung pergi bersama asistennya tanpa mengatakan sepatah katapun walau hanya sekedar untuk menyapa.


"Kenapa tidak bicara?"


Rafka menggeleng, "sudah tidak ada keberanian lagi untuk mengganggu mu"


Mila menggeleng sambil menyodorkan tangannya, "Mau berdamai? Lagian keadaan juga bukan kesalahan lo"


"Damai?gue takut jika mengecewakan lo lagi"


"Apapun alasannya kita masih punya hubungan saudara, lo laki laki gak  boleh berselisih lagi, apa lo ngerti?"


Rafka tersenyum "baiklah kita damai, sebagai gantinya gue bakal datang ke acara wisuda Lo"


"Baik, gue tunggu"

__ADS_1


"Gue pergi dulu"ucap Rafka mendapat anggukan lalu pergi bersama dua asistennya.


🌿🌿🌿🌿


__ADS_2