Dokter Dingin ,Suamiku

Dokter Dingin ,Suamiku
#24


__ADS_3

Dreeet....


Panggilan telepon dari saku Mila berhasil menggetarkan dada nya. Mila mengambil ponselnya dan melihat nomor Salfa yang terus menelponnya.


"Mila!!!!!Mila!!!!!"


"SAl Lo makan mikrofon?gue belum budek sampai butuh Lo teriakin"


"Hehehe maaf maaf"


"Apa?"


"Gue bakal datang ke Cilacap tempat Lo kerja karena gue bakal buat berita disana....biasalah tugas dinas"


"Lulus aja belum kelar pake acara dinas"


"Ini adalah awal dari karir gue buat jadi jurnalis yang hebat dan Lo harus bantu gue!!!!"


"Hmmm entar gue sharelock mumpung gue juga masih bertugas"


"Oke thanks muah muah muah"ucap Salfa lalu menutup telfon nya.


"Saudara Lo belok ya sampai kek gitu"


"Lo yang belok nguping pembicaraan gue"cetus Mila membuat Rafka tertawa


"Gue gak nguping tapi Suara Lo yang keras sampai buat telinga gue denger"


"Sebahagia nya Lo deh"


Rafka tertawa sambil melihat gadis itu dalam,"Ternyata nama Lo Mila"lirih Rafka membuat Mila mengernyitkan dahinya,"Tapi kenapa Lo di panggil Nur?"


"Nama gue ada nur nya"


"Terus ada apa lagi?"


"Menurut Lo gue ada minat buat jawab pertanyaan Lo"ucap Mila yang terkejut melihat Rafka yang sudah menarik kartu identitasnya.


"Gue panggil Lo sayyidah aja"ucap Rafka senang,".....sayyidah nya bang Rafka"


"Terserah"


"Say.....tunggu babang"teriak Rafka mengikuti Mila yang pergi meninggalkan nya.


🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


Lagi lagi hari Sabtu dihabiskan oleh Rasya  dengan pekerjaan. Rasya menghela nafasnya karena keadaan yang belum baik di Lumajang. Ditambah dengan asap kabut yang terus menganggu saluran pernafasan warga. Dan tubuh yang kurang air hingga dehidrasi berat pada tubuh warga. Rasya tidak tahu kapan dia bisa kembali dan bertemu dengan Mila.


Tap.


Tap.


"Mila semuyunknya aku"teriak Salfa membuat Rafka bergidik ngeri mendengarnya.


"Ih Salfa Lo buat gue pengen muntah"


"Gimana info nya?"tanya Salfa sambil mengeluarkan catatan kecil dari dalam tas nya.


"Lo terlambat, keadaan sudah jauh lebih baik sekarang"ucap Rafka sambil tertawa,"cari info sekarang sama aja kek buat cerita"


"Eh siapa Lo,emang kenapa kalau cari info sekarang?kalau gue cari info nya pas bencana gue bakal jadi petugas bukannya jurnalis berita"


"Di dunia ini butuh bukti,kalo Lo gak foto pas tanah longsor nya ,semua jadi kurang percaya sama berita Lo"


"Bencana kok di foto gak mikir Lo?paling juga kalau Lo ada di posisi gue Lo lari kan Sampek hape Lo jatuh gak jadi foto"


"Serah Lo deh,cantik cantik bego amat"


"Ciye Lo ngaku gue cantik?jangan jangan Lo suka lagi sama gue...maaf ya Lo orang ke 1002 yang bilang gue cantik"


"Dih siapa sih nih pria tengil"ucap Salfa membuat Rafka berdiri tegak sambil menyodorkan tangan nya.


"Kenalin,gue ayah dari anak²nya"Ucap Rafka sambil melirik Mila di sampingnya.


"Huweek,muka tampan sayang nyaut Mulu kek kabel murahan"


"Pedes banget neng sama orang yang suka fakta"


"Maaf bang dunia masih menang buat beropini"


"Udah² kalau bertengkar terus gak sekalian aja ke ring tinju"kesal Mila,"Atau gak kalian ke Palestina aja biar jihad,muka muka kayak kalian harus dikorbanin buat masuk surga"ucap Mila asal membuat Rafka tertawa . Gadis ini bisa bercanda ternyata.


Begitulah awal tak menyenangkan antara Salfa dan rafka. Mereka terus berkelahi sepanjang hari di sekitar Mila. Tak paham dengan mereka yang terus beradu mulut bak taruhan ayam. Mila hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berharap kalau pertengkaran mereka tak berakhir seperti novel² yang ia baca.


Dua hari tinggal Salfa selalu disibukkan oleh buku kecil dan kamera di lehernya. Sebenarnya menjadi jurnalis hebat bukanlah bakat aslinya. Salfa hanya tidak ingin seperti keluarga nya yang terus berselisih karena kekuasaan. Ayah,ibu,dan dua saudaranya selalu membuat nya tak betah dan ingin mengelilingi dunia. Investasi besar,kerja sama,tender,dan warisan membuat Salfa memutuskan untuk tinggal di rumah Mila. Rafka mengetahui semuanya karena dirinya yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Salfa dengan ibunya di telepon. Rafka menarik buku kecil dari tangan Salfa lalu duduk disampingnya.


"Tulisanmu terlalu berbelit-belit,tidak jelas,dan sangat santai"ucap Rafka sambil melihat buku catatan Salfa,"kalau menulis seperti ini apa menurut Lo orang bisa percaya?"


Salfa terdiam.


"Perempuan aja suka hal yang to the point dari cowok kenapa berita nggak?"

__ADS_1


Salfa masih terdiam,menyadari bakat nya untuk menjadi jurnalis hebat yang ia impikan,"gue tahu tulisan gue lebih buruk dari pembungkus kacang".


Rafka tertawa,"Ingin hebat gak punya ambisi?mending lupain aja daripada buang buang waktu"


"Kok Lo ngomong gitu sih"


"Punya impian itu harus punya kemauan dan usaha untuk menggapainya, semangat buat bangkit bukan menyerah kek orang lemah, tuhan selalu ada kalau kita punya usaha....gagal dan menyerah itu cobaan buat langkah lebih baik dari sebelumnya....kalau Lo bermimpi tapi pikiran Lo masih lemah buat bangkit terus kenapa masih dijalanin?jangan lupa hidup itu tak semudah membalikkan telapak tangan..selalu ada kejutan di setiap prosesnya dan Lo harus kuat buat hadepin semua nya,kenapa emangnya kalau Lo belum baik?itu berarti tuhan nyuruh Lo buat terus belajar lebih baik agar  Lo menikmati masa masa yang disebut pengalaman"Ucap Rafka Lalu pergi.


"Tunggu!!!"teriak Salfa membuat langkah Rafka terhenti,"Kita damai"


"Oke"


"Gue minta bantuan Lo"ucap Salfa,"Kalo Lo gak mau bantu gue Lo bilang aja letak kesalahan gue kayak tadi,gue bakal belajar dari kesalahan gue"


Rafka membalikan badannya,"jurnalis itu dewa dunia,asal bisa memberi berita bagus warga negara gak bakal ketinggalan jaman dan teknologi"jelas nya,"baik gue bantu Lo,gak sia sia juga gue jadi sastrawan"


Salfa tersenyum melihat wajah damai rafka dengan lesung pipi yang menebar pesonanya. Jantungnya berdegup kencang saat wajahnya terasa sangat dekat dari Rafka. Salfa berfikir kalau cerita novel itu terlalu realistis untuk membenarkan kalimat benci menjadi cinta.


Rafka berdiri di dermaga kayu sambil mengambil banyak foto pemandangan. Tentu saja menggunakan kamera Salfa yang ia ambil alih dari pemiliknya. Keadaan berubah menjadi dingin 180° saat Rafka yang terpeleset hingga mengecup kening gadis di depannya. Itu semua murni karena Salfa yang memanggil namanya dari belakang.


Bagai hari dingin di musim salju,melewati paksa  garis khatulistiwa di bumi,Salfa terdiam membeku dengan pikiran kosong yang sulit untuk ditebak oleh  Rafka di depannya.


"Apa ini?Lo cium gue?"


Rafka gugup dan memilih membuang mukanya dari hadapan Salfa,"gue....nggak sengaja"


Salfa berjalan mendekat,"nggak sengaja?gue udah akrab sama laki laki kayak Lo yang aslinya modus tapi bilang nggak sengaja"


"Gue bukan laki-laki berengsek yang Lo pikirin"jelas Rafka,"gue cuma terpeleset gara gara denger suara Lo yang udah kayak sangkakala di telinga gue"


"Pokoknya Lo harus tanggung jawab, bagaimana nanti kalau gue hamil"


"Gue cuma gak sengaja cium kening Lo bukannya khilaf sama pusaka gue"cetus Rafka,"sebejat bejatnya gue,gue masih tahu agama buat nahan nafsu gue"


"Jadi gue gak Hamil,kan?"


"Ya enggak lah"


"Tapi bagaimanapun juga kening ini udah gue jaga buat suami gue selam 20 tahun"


Rafka terdiam,"Ya gini aja,entar kalau Lo punya suami langsung telfon gue,gue bakal ketemu sama suami Lo buat minta maaf"


Salfa menatap Rafka tak percaya,"Gue pikir karena kita damai Lo berani macam macam sama gue"


"Maaf gue masih pingin hidup buat main main sama cewek kayak Lo"

__ADS_1


__ADS_2