Dokter Dingin ,Suamiku

Dokter Dingin ,Suamiku
#26


__ADS_3

Empat jam lebih Mila sampai ke kota Bandung. Bukannya beristirahat di asrama ataupun rumahnya,Mila memilih pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter Rasya dan Rizal sahabatnya.


"Wah kamu sudah datang"Sapa hangat Rizal yang baru saja keluar dari ruangan pasien.


Mila mengangguk sambil mencari keberadaan Rasya yang belum di tangkap oleh panca inderanya. Rizal yang menyadari sikap Mila yang merindukan tuan nya hanya bisa menggeleng sambil menghembus nafas pelan,"Rasya belum datang,dia masih ada di Lumajang"


"Separah itu?"


"Hhhh nona nur itu gunung meletus bukan ledakan elpiji tetangga"


"Lalu kapan datangnya?"


Rizal menggeleng,"tidak tahu,biarkan dokter Qiana menikmatinya "


Tap.


Tap.


Seorang pria berpakaian putih tiba-tiba datang bersama dengan tas hitamnya. Dia sudah menyiapkan catatan penting untuk penelitiannya tentang menangani gangguan jalan nafas dalam waktu yang relatif singkat. Kedatangan nya yang tiba tiba dengan raut wajah datarnya membuat Rizal benar benar-benar terkejut melihatnya.


"Sya,Lo udah dat...."ucap Rizal menggantung saat melihat Rasya datang di depannya. Tak hanya Rizal,Mila pun juga terkejut melihatnya.


"Hubungi prof Hamka,aku akan menemuinya"ucap Rasya yang menatap dingin keduanya.


"Baik"jawab Rizal sambil mengeluarkan ponsel di saku celananya.


"Kenapa dia dingin padaku?"lirih Mila yang terdengar jelas di telinga Rizal.


"Bagaimana tidak dingin?dia meminta tugas khusus untuk pergi ke Lumajang karena dia berfikir kamu juga akan pergi ke sana"


"A...aku?"


"Iya kamu malah pergi mendadak ke Cilacap "kesal Rizal membuat Mila merasa bingung mendengarnya,"Benar benar takdir yang rumit"cetusnya lalu pergi meninggalkan nya.


"Sepertinya gue pergi tidur aja"lirih Mila yang tak mengerti dengan Rizal yang tiba-tiba ikut dingin padanya.


Ceklek....


Rizal menggeleng kepalanya heran saat melihat Rasya yang sudah sibuk dengan pekerjaannya. Ia tidak mengerti jika seperti ini terus bagaimana tuan nya bisa berpacaran dan menikah?. Apa Rasya masih pria normal yang punya hormon untuk mendekati wanita?. Rizal berjalan lalu berdiri di depan Rasya dengan tangan yang berkacak pinggang.


"Pulang² bawa beginian Lo gak puas sama profesi?"


"Gue ada solusi buat gangguan nafas parah,coba Lo cek"Rasya menyerahkan dokumennya ke tangan Rizal. Walaupun  setengah malas Rizal masih penasaran dengan isinya dan menerimanya.


"Ini mudah dan cocok buat judul skripsi nya"


Rizal terdiam menatap Rasya yang melakukan ini semua demi nona Nur nya. Rasya yang di tatap merasa bingung melihatnya. Rizal tahu Rasya lelah tapi kenapa dia begitu bersemangat demi semua catatan² ini. Bahkan Rasya akan mengadakan rapat langsung dengan Professor nya.


"Lo paham gak sihh??"


Rizal mangangguk lalu melempar dokumen itu ke meja Rasya,"gue paham,Lo suka nona nur kan?"


"Kalau udah selesai,Lo boleh pergi"


"Ck,gue yang gak paham sama Lo...Lo jauh² dari Lumajang bukannya istirahat tapi malah sibuk disini buat bantu skripsinya...terus Lo dingin sama dia padahal diam² lo perhatian kan sama dia?sifat Lo kek gini bikin gadis salah paham tau gak?"


"Gue bantu dia kenapa salah paham?Lo terlalu berlebihan "


"Dia cewek bro jangan bikin dia baper entar karma"ucap Rizal menepuk pundak Rasya,"untung gue paham sama lo dan bantu lo buat ikut dingin padanya"


"Kenapa Lo ikut dingin?"


"Biar suprise dari Lo damage nya makin cetar"


"Gak jelas Lo!"


"Hah?salah Mulu gue di depan Lo"ucap Rizal lalu pergi ke ruangannya.


Mila pulang ke rumah nya dan tak menemukan siapapun di dalamnya. Mila berfikir kalau suaminya masih kerja dinas di Singapura sedangkan bibi Wati pergi ke desanya. Mila beranjak ke kamarnya lalu mandi dan pergi beristirahat.


"Sudah tiga Minggu,bagaimana kabarnya?"lirih Mila menatap kemeja suaminya yang masih tertata rapi di dalam almarinya.


"Apa dia rindu nasi goreng buatanku?"lirihnya dengan jari telunjuk yang ia letakkan di dagu. Kemudian...


Ahhhh.

__ADS_1


Nabila terkejut saat melihat tuan nya menghentikan pekerjaannya sambil menyentuh mata kirinya. Tidak biasanya Rasya bekerja sampai mengeluarkan air mata. Nabila beranjak lalu berjalan ke samping tuan nya.


"Ada apa dok?"


Rasya menggeleng,"Mata saya gerak gerak sendiri"


Nabila tertawa langsung terdiam saat melihat tatapan dingin dari tuan nya,"Saya mau mengatakan sesuatu pada dokter"


"Katakan"


"Di desa saya kalau ada orang yang mata nya gerak gerak sendiri itu berarti ada orang yang sedang merindukan nya"ucap Nabila,"lebih tepatnya dia merindukan bapak dan membicarakan bapak di dalam hati nya"


" Ini hanya kejang ringan yang biasa di alami seseorang karena kelelahan,aktifitas fisik berat,kurang tidur,paparan cahaya yang terlalu terang,iritasi mata,dan kafein yang berlebihan"jelas Rasya membuat Nabila hanya terdiam. Tuan nya ini benar-benar tidak bisa di ajak bercanda.


"Kadang kadang stres, mengonsumsi obat berlebihan juga bisa menjadi penyebabnya,lebih tepatnya hal seperti ini bisa dipanggil dengan gejala mykomya,apa kamu paham?"


"Iya pak"


"Lain kali jangan percaya sama hal hal mitos begitu lagi"


"Baik pak"


"Kamu boleh pergi"


Nabila mengangguk lalu pergi ke luar ruangannya.


🌿🌿🌿🌿🌿


Di kediaman Ar Razi semuanya sudah mulai sibuk menyambut kedatangan putra sulungnya, rafka. Sebenarnya rafka sendiri tidak pernah memberi kabar keluarga nya untuk pulang. Namun,sopir pribadi rafka lah yang diam diam membocorkan nya kepada Adivdan Nyonya nya. Mungkin karena Paman Adam takut jika dia gagal untuk berbakti pada tuannnya.


Ting ..tong...


Rafka membungkukkan sedikit kepalanya saat melihat wanita paru baya sedang membukakan pintu untuknya. Wanita paruh baya itu sangat senang melihat Aden kecil yang sudah tumbuh besar dan tampan seperti Rafka.


"Aden"ucap nya terkejut karena terlalu senang melihat senyum menawan Rafka.


"Mama ada?"bisik nya mendapat anggukan,"ck,aku dalam masalah besar"


"Rafka kamu sudah pulang?kenapa berdiri disana?"sapa Aini senang.


"Aduh ma sakit....."teriak nya tak berhasil mendapat pengampunan.


"Baru inget rumah sekarang,bagus ya?"


"Maaf ma maaf rafka ngaku salah"teriak Rafka karena Maira yang terus menambah kekuatan nya.


"Nyonya lepasin Aden,keadaan ini sepenuhnya bukan salah Aden kok"


"Bukan salahnya?cepat kamu jelasin karena saya sudah gak percaya lagi sama anak nakal ini"


"Paman paman Gausah dijelasin saya gak papa kok"ucap Rafka yang masih di tarik telinga nya.


"Apa ini?kamu sudah berani nyembunyiin sesuatu dari mama"ucap maira kesal menambah tarikannya,"Adam kalau kamu gak jelasin semuanya saya juga gak akan percaya sama kamu"


"Sebenarnya Aden sudah pulang lebih awal tapi karena kita di Serang longsor dan mobil hancur parah Aden jadi pulang terlambat"jelas Adam sambil menundukkan kepalanya. Rafka yang mendengar itu hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Niat tidak ingin mengkhawatirkan mama nya malah di beberkan langsung oleh sopir super jujurnya.


"Longsor??"ucap Maira khawatir sambil melepas telinga Rafka,"Kamu gak papa kan sayang?ada yang luka?masih sakit nggak? pusing?"


Rafka tersenyum,"Rafka gak papa ma,rafka ini anak yang kuat dan beruntung"jelas Rafka sambil memegang kedua tangan mamanya.


"Sungguh?kamu gak papa?"


"Gak papa"ucap Rafka lalu melirik ke sekeliling rumah nya,"papa mana ma?"


Tap.


Tap .


"Sudah pulang kamu?"ucap Adi yang juga baru datang dari Singapura.


"Eh papa,baru pulang juga?"


"Kamu ini baru inget rumah ya"


"Kayak papa enggak aja"ucap Rafka membuat Adi menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Oh iya raf"ucap Adi yang sudah melihat Rafka duduk di sofa panjangnya.


"Iya pa?"


"Itu teman kamu di depan gak di suruh masuk?"ucap Adi membuat Rafka terkejut dan menepuk nepuk jidatnya sendiri. Maira yang melihat itu merasa bingung karena nya .


"Kenapa Raf?"


Rafka tertawa,"hehehe ma itu bukan temen Rafka,tapi dealer mobil yang belum rafka bayar"jelas Rafka,"Rafka ambil mobil lagi tapi gak bisa bayar ma jadi undang dia main ke rumah"


"Udah papa bayar"ucap Adi yang sudah naik ke atas tangga.


"Serius pa?sama bunga dan ongkos perjalanannya?"teriak Rafka


"Hmm potong uang jajan mu selama dua bulan"


"Makasih pa,uang jajan nya minta sama mama aja"


"Uang jajan mu mama potong sebagai hukuman"ucap Maira membuat Rafka melemaskan kakinya.


"Udah² kamu buruan mandi terus makan di meja makan"perintah Aini mendapat anggukan dari cucunya. Aini tertawa melihat Rafka dengan langkah gontai berjalan ke atas kamarnya.


Satu jam kemudian,Rafka turun dari tangga dengan sweater putih dan jam hitam di tangan kirinya. Tak mau kalah dengan sang anak,Adi turun dengan kaos biru dan Alexander watch yang menambah kemewahan pada aura nya. Mereka mengambil kursi berdekatan lalu menyiapkan piring yang sudah tersedia di depan nya.


"Kamu sudah pulang,apa rencana mu kedepan?"tanya Adi.


"Gak tau pa"


"Apa mau lanjut kuliah?"


"Gak tau pa?"


"Menikah?"


"Gak tau pa?"


"Sih bisa nggak sih jawab nya jangan gak tahu Mulu"


Rafka hanya mengedikan bahunya sambil menikmati makanan favoritnya.


"Gimana kalau kamu urus perusahaan papa?"tawar Adi sambil mengiris steak daging di piringnya,"papa dulu bosan,gak tau kalau sekarang tetap berkembang,papa jadi bingung buat jalanin nya,kamu aja ya yang jalanin?"


"Pa..pa ..dimana² itu kalau bosan jalan² bukan bangun perusahaan...entar kalau sudah kayak gini kasian cucu papa berantem terus buat rebutin warisan"


"Udah bahas cucu kamu aja belum nikah,kamu ini sangat keterlaluan Raf"ucap Aini memukul pundak cucu nya.


"Hehe nek Rafka bercanda,Lagian salah sendiri punya anak yang terlalu kaya kek papa"


"Udah² keputusan kamu jadi gimana?"


"Rafka gak suka politik yang banyak dosa pa"


"Ya jalanin aja yang adil dan sesuai sama aturan"


"Pa,dimana² perusahaan itu banyak bohongnya demi cari banyak keuntungan"


"Ya kamu dong yang jadi cikal bakal kalau perusahaan itu juga bisa jujur"ucap Adi,"papa gak butuh untung banyak,papa cuman butuh kepastian kalau waktu yang papa gunakan saat itu gak sia²"


"Hmmm"


"Kalau kamu mau perusahaannya ada di Bandung"


"Iya pa,nanti Rafka lihat kesana"


Tagh.


Maira meletakkan kasar sendok  garpu nya diatas meja. Semua orang langsung menoleh saat mendengar suara keras dari Maira di tempat duduknya.


"Adi kamu sangat keterlaluan!!!Rafka baru pulang sudah kamu suruh pergi lagi?kenapa kamu selalu mengirim putraku pergi bahkan  aku juga tidak tahu dimana keberadaan Rasya sekarang"ucap Maira kesal membuat Adi terdiam. Tidak biasanya maira memanggil langsung namanya. Itu berarti Maira benar benar-benar kesal padanya.


"Maaf,aku tidak memikirkan perasaan mu"


"Iya ma maafin papa,Rafka juga gak akan pergi sekarang"


Semuanya pun terdiam lalu mendekat ke arah Maira dan memeluknya. Sungguh keluarga yang bahagia sekarang.

__ADS_1


__ADS_2