Dokter Dingin ,Suamiku

Dokter Dingin ,Suamiku
#81


__ADS_3

Satu langkah.


Dua langkah.


Tiga langkah.


"Tunggu dulu"


"Apa lagi?"jawab Arum yang masih kesal dengan suasana seperti ini. Rasya hanya terdiam sambil mengaitkan jari² nya di jemari tangan Arum.


"Apa ini?"tanya Arum bingung melihat Rasya yang menggandeng tangannya.


"Kamu dan aku sudah dianggap mereka sebagai pasangan,aku menggandeng mu agar mereka tidak berfikir aku suami yang gagal untuk membuat keluarga ku tetap harmonis"


"Apa urusannya denganku?"tanya Arum tak dihiraukan Rasya yang sudah menggandeng tangan masuk.


Kemudian mereka duduk di satu meja besar sambil melihat penari²  gemulai dan menikmati hidangan nya. Arum tidak tahu kenapa ia kesal melihat rasya yang sedang berbincang-bincang dengan banyak gadis cantik di sekelilingnya.


"Ternyata dia pria yang suka bermain wanita seperti ini"gerutu Arum melihat Rasya yang terlihat sibuk dengan beberapa kenalan nya. Arum tidak tahu kalau mereka adalah tim sukarelawan yang cukup akrab dengan keluarganya.


"Ibu bilang apa?ayahku hanya senang melihat ibu"ucap Azen menatap Rasya yang tersenyum padanya.


"Sudah,kamu jangan terus membela ayahmu...cepat kamu makan yang banyak agar cepat besar"ucap Arum memberi banyak lauk di piring azen. Azen mengangguk dan mulai memakannya dengan lahap.


"Dokter, keponakanku sudah sadar ... sepupu ku juga sudah ada disana untuk menunggu anda.


"Hmm baik"


Tap


Tap.


"Dr Rasya anda disini juga?"sapa dokter qiana yang tak lain adalah sepupu pengantin wanita.


"Ih dia lagi...dia lagi"cetus Azen kesal sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada membuat Arum sedikit terkejut.


"Ada apa denganmu?sok ye lu"ucap Arum yang masih asyik memakan tumis sayurnya.


"Ada wanita jahat yang mau ambil posisi ibu....ayo ibu kita harus bergegas!!!kalau ayah diambil bibi qiana ibu hanya bisa menangis...bibi qiana itu jahat"


"HA..HA..HA.. apa urusannya denganku?"jawab Arum sedikit menyebalkan.


Azen menggeleng. Tanpa pikir panjang ia langsung menarik tangan Arum mengikuti ayahnya ke taman belakang.

__ADS_1


"Ayo ibu lakukan sesuatu!"paksa Azen menggoyang goyangkan tangan ibunya. Dugaan nya benar, qiana itu tidak membawa Rasya ke kamar pasien tapi malah pergi berdua ke taman.


"Apa yang bisa kulakukan?ayahmu pria biasa..dia perlu ITU.....jadi biarkan saja"ucap Arum bingung melihat wajah bertanya tanya Azen didepannya.


"Itu?"


"Sudah²  kamu anak kecil gak bakal paham"


"Ibu ....ibu gak sayang lagi sama ayah?ibu udah punya om² lain ya sebagai pengganti ayah? Siapa dia ibu aku akan mengigit nya agar gak dekat² lagi sama ibu"


Arum menepuk jidatnya kesal " astaga gue harus gimana lagi?"batin Arum benar2 tak tahan dengan situasi seperti ini. Perlu di ingat dia hanya gadis 24 tahun yang masih sangat cantik, manis dan berbakat. Kenapa bisa punya anak sebesar ini di usianya yang masih muda?.


"Ibu gak marahin bibi qiana yang mau dekat² sama ayah?ibu gak sayang lagi sama Azen?semua orang selalu bilang kalau ibu Azen sudah meninggal...Azen selalu sedih bahkan ayah juga...kenapa ibu ingin pergi?kenapa ibu biasa saja saat melihat ayah sama cewek lain ...kalau ibu gak mau Azen lagi...Azen mau pergi aja jadi bintang'"ucap Azen sambil menangis membaut Arum lagi2 tak tega melihatnya. Arum berfikir kalau Azen masih belum bisa menerima kepergian ibunya dan menganggap dia sendiri sebagai ibunya. Arum mengusap air mata Azen dengan kedua tangannya lalu memeluknya penuh cinta.


"Baik baik jangan menangis lagi"


"Ibu gak sayang lagi sama Azen hiks hiks"


"Kamu putramu kenapa aku tidak sayang padamu"ucap Arum yang tidak ingin melihat Azen menangis lagi. Entah kenapa hatinya sakit saat melihat Azen menangis.


"Lalu ayah?ibu gak sayang lagi sama ayah?"


Arum menghembus nafasnya besar. Untuk kali ini dia harus extra sabar menghadapi anak rewel seperti azen. Jangan sampai Azen yang menangis menjadikan nya sebagai pusat perhatian banyak orang.


"Huff sayangku... Aku sangat sayang,sayang, dan sayang sama ayahmu, orang tampan, kaya,dan bugar seperti ayahmu bagaimana aku tidak menyayangi nya?"pasrah Arum membuat Azen mencetak senyum manisnya.


"Jadi ibu mau marahin bibi qiana?"


"Ayo...siapa takut"ucap Arum yang sebenarnya takut untuk menganggu hubungan Rasya yang bukan siapa²nya.


~tuan maaf telah mengganggumu dengan selingkuhanmu...itu semua ku lakukan hanya demi anak menyebalkanmu ini~


"Ayo ibu...ayah dan bibi qiana ada disana"teriak Azen menarik keras tangan Arum.


🌿🌿🌿🌿🌿


Setelah memeriksa putra dari keluarga Aziz,Rasya langsung di tarik oleh qiana untuk ia ajak berbincang bersama. Rasya sangat lelah untuk meladeni sikap qiana yang terlalu obsesi mencintai nya. Akhirnya Rasya mengikuti qiana karena ia yang tidak enak menolak nya di hadapan banyak orang.


"Sya, profesor Hamka memanggil kita berdua ke rumahnya..disana juga ada ibumu dan kedua orang tuaku yang sedang menunggu kita berdua"


"Dia?kenapa memanggilku?"


"Kita akan di jodohkan dan kamu tidak bisa menolak perjodohan ini demi kebahagiaan keluarga kita"

__ADS_1


Rasya hanya terdiam dengan wajah datar sambil mendengarkan drama qiana yang terus mempengaruhi paman dan keluarganya.


"Qiana,kalau tidak ada urusan lain aku pergi"


"KAMU TIDAK BUSA MENOLAK KU SYA!!"ucap qiana memaksa sambil memegang erat tangan Rasya. Dengan cepat pria itu langsung menghempaskan tangannya.


"Atas dasar apa?"tanya Rasya dingin.


"Demi masa depan Azen!milamu sudah meninggal ...dia butuh perhatian seorang ibu...dan kita bisa besarkan bersama sama"


Di balik semak semak Arum dan Azen bersembunyi dan mendengar semuanya. Sebenarnya Arum ingin tertawa karena mendengar rentetan umpatan Azen di sampingnya. Qiana busuk! Qiana menyebalkan!Qiana nenek sihir!bla...bla..bla. Akan tetapi ia berusaha menahannya dan mereka kagum melihat kesetiaan Rasya pada istrinya.


"Siapa nama panjang wanita itu?"tanya Arum membuat Azen merasa bingung.


"Kenapa ibu bertanya?"


"Huff, kenapa kamu banyak berfikir?apa kamu tidak ingin melihat kemarahan ibu mu yang sangat luar biasa",


Azen tertawa melihat ibunya yang membersihkan baju seolah ingin berperang " namanya dokter Anastasya Dewi"


"Kalau...aku?"


"Hah?ibu sudah dewasa kenapa tidak bisa mengingat nama sendiri?"


"Aku kan hanya mau mengetes kamu saja"


"Sayyidah nur Kamila"


"Kalau ayahmu?"


"Muhammad rasya Ar Razi "


"Kalau kamu?"


Azen menghentakkan kakinya kesal. Pertanyaan ibunya itu benar benar membuatnya sangat marah.


"Iya² kamu ini sensitif sekali"ucap Arum yang mulai bersiap untuk berdiri untuk memergok perselingkuhan.


Tap.


Tap.


"Dr qiana Anastasya Dewi!"teriak Arum yang berjalan ke arah Qiana. Seketika itu suasana menjadi genting saat keberadaan Mila kembali hadir setelah menghilang begitu lama.

__ADS_1


🌿🌿🌿


__ADS_2