
..."kaca yang pecah sudah tidak dapat di satukan kembali. Itu adalah hukum alam setelah kamu menyadari kalau kamu bukanlah apa-apa tanpa dirinya"...
Tiga tahun kemudian..............
Semua berubah. Jalanan kota bandung, gedung² yang bertambah tinggi juga poster kesehatan RS Arya Sanjaya yang sudah berganti beberapa belas kali di dalamnya. Semua tetap sama. Berjalan sebagaimana mestinya. Suster Nabila menjerit saat melahirkan anak pertamanya. Husain bahagia atas kehamilan istrinya begitu juga labibah yang baru menikah resmi bersama ardhan, sahabatnya. Semua menjadi takdir tak terencana yang terkadang masih sangat sulit untuk di terima.
"Ayah, aku mau main"teriak seorang anak laki-laki yang baru berumur tiga tahun pada ayahnya. Pria itu tersenyum melihat senyum putranya yang menyimpan siluet akan istrinya. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi saat tiga tahun yang lalu dirinya tak berhasil mendapat hak asuh putranya dari tangan ibunya.
Setidaknya sekarang dia harus tetap hidup demi putranya. Putra kecil yang manis yang sekarang menjadi tujuan hidupnya. Dia menyesal jika saat itu ia benar-benar berhasil merusak hubungan rumah tangganya. Hubungan yang rusak karena ketidakpercayaan nya membuat ia frustasi sendiri jika mengingat nya.
"Aku merindukanmu dan...."lirihnya sambil menatap langit dan menelan beberapa resep obatnya "....maaf"
Ia langsung bangkit saat mendengar teriakan putranya di depan halaman rumah. Anak itu berteriak saat melihat mobil hendak menabraknya. Rasya langsung berlari sebelum mobil itu menyambar habis tubuh putranya. Ia bernafas lega saat melihat putranya berhasil diselamatkan oleh seorang wanita kenalannya.
"Azen....buka matamu, kamu sudah baik baik saja sekarang"ucap wanita itu yang tersenyum saat melihat Azen menutup wajah dengan sepuluh jari² kecilnya.
Azen membuka wajahnya,mencari kepergian mobil yang hampir saja menabraknya lalu tersenyum senang "aku selamat....makasih bibi qiana ...kalau bukan karena bibi mungkin aku sudah..."ucapnya terpotong saat melihat kekhawatiran ayahnya" ayah"ucap nya yang langsung di peluk erat oleh Rasya.
"Kamu gak papa kan?ada yang luka?kamu kenapa main diluar?"panik Rasya terus memutar badan mungil putranya."
"Dia tidak papa, bolanya mungkin keluar jadi dia pergi mengambil nya"ucap qiana membuat Azen mengangguk menatap ayahnya.
"Benar ayah, bolanya melambung keluar...kata paman jadi pria harus bertanggung jawab dengan apapun...aku hanya berfikir harus pergi untuk mengambil nya"ucap Azen memelas.
"Lalu apa tidak berfikir kalau kamu harus hati²?gimana kalau mobil itu tadi menabrak mu?"ucap Rasya dingin membuat Azen hanya bisa terdiam sambil menunduk. Rasya yang melihat itu langsung menghela nafas nya besar dan beralih pada qiana di depannya.
"Terima kasih sudah menyelamatkan Azen tadi"ucap Rasya membuat qiana tersenyum bahagia.
"Tidak masalah, itu sudah kewajiban ku setelah dokter Mila pergi,lagian aku sudah menganggap Azen seperti putraku sendiri"
Hening
"Sya, aku .aku ngomong sesuatu "ucap nya mendapat anggukan kecil dari Rasya.
__ADS_1
"Tapi Azen...."
Azen mengerucutkan bibirnya. Ia tahu qiana ingin sekali menjauhkan nya dari ayahnya. Ia sangat kesal saat Rasya berdekatan dengan qiana yang sudah jelas² ingin menggantikan posisi ibunya.
"Azen...ayah"belum menyelesaikan ucapannya, Azen langsung pergi dengan amarah yang malah membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
Kemudian Rafka datang dan tersenyum melihat keponakannya yang marah sedang duduk di atas jendela. Rafka melihat luar jendela dan akhirnya mengerti apa yang sebenarnya membuat Azen terlihat marah hari ini. Ia berubah jongkok lalu tersenyum sambil mengacak-acak rambut keponakannya.
"Ada apa?"
"Dia menyebalkan"
"Kenapa?aku dengar dia menyelamatkan mu tadi, apa sikapmu seperti ini pada penyelamat mu?"
"Aku sudah berterima kasih padanya tapi dia tetap saja mau dekat² dengan ayah...aku benci dia paman, dia gak boleh jadi seperti ibuku, ibuku hanya ibuku, kenapa ibu tidak segera kembali?aku sangat merindukan ibu,paman"kesalnya dengan mata berkaca-kaca membuat Rafka terdiam.
Rafka berdehem, mendekati keponakannya yang sedang menangis sambil menatap foto almarhum ibunya. Rafka tidak tega melihat ekspresi itu. Ia ikut sedih dan langsung menarik Azen ke dalam dekapannya.
"Sungguh?"
Rafka mengangguk " emang kapan paman tampanmu ini berbohong?"ucap Rafka yang akhirnya membuat Azen tertawa.
Rafka menaikkan alisnya saat melihat Azen sedang menatap tubuhnya dari atas kebawah. Rafka yang di tatap seperti itu tidak terima dan langsung menantang Azen dengan gaya berkacak pinggang. "Kenapa menatap ku seperti itu hah?"cetusnya yang sebenarnya sedang menahan tawa melihat ekspresi Azen yang sangat menggemaskan.
"Kau...tidak pernah menangis?"ucapnya dengan logat akrab seperti temannya sendiri. Memang setelah Mila meninggal rafkalah yang merawat Azen sejak kecil. Kesibukan Rasya yang tidak pernah berhenti membuat ia sering meluangkan banyak waktu nya bersama Azen.
Rafka tercengang . Ia bingung mau bilang apa. Kalau saja ia bilang tidak pernah menangis itu jelas kebohongan karena pada saat labibah menikah dengan ardhan ,Rafka sangat sedih melihatnya.
Rafka tersenyum getir sambil menatap mata keponakannya " pria jantan tidak pernah menangis...dan seperti yang kamu tahu kalau aku adalah pria paling jantan melebihi ayahmu"
"Paman bohong! Ayahku lebih jantan dan tampan dari siapapun!"
"Hhh siapa yang bilang"
__ADS_1
"Ayah yang bilang...ibu juga bilang gitu di SMS ayah"
Rafka tertawa sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak mengerti kenapa dia bisa punya keponakan secerewet Azen. Azen benar² benih murni dari Mila yang sangat cerewet padanya.
"Iya² sebahagianya kamu aja"ucapnya langsung terkejut saat Azen menggandeng tangannya lalu menggoyangkan nya kesana kemari" apa lagi ini?"
"Paman jangan nangis lagi ya"
"Siapa yang nangis?"
"Paman"
"Siapa yang bilang?"
"Aku"jawab Azen membuat Rafka terkekeh pelan.
"Kenapa ketawa paman?aku gak bohong kalau aku pernah lihat paman menangis waktu bibi labibah sama paman ardhan menikah"
"Itu tangis kebahagiaan, sudah² kamu mau kerjain bibi qiana atau gak?"
Azen mengangguk cepat dan langsung pergi bersama Rafka untuk menyusun sebuah rencana. Alhasil mereka memasang tali panjang yang mengikat di dua tiang rumah nya hingga membuat qiana yang lewat terjungkal jatuh ke atas tanah. Azen tertawa terbahak-bahak diikuti Rafka yang berdiri disampingnya. Qiana merasa kesal sambil menatap tajam dan menggenggam tanah untuk melampiaskan amarahnya " dasar anak nakal!!!tunggu aku menikahi ayahmu, aku akan pikirkan cara untuk mengusir mu"
Azen tertawa terjungkal- jungkal dan langsung terdiam saat melihat wajah garang ayahnya.
"Ayah"cicitnya takut.
"MASUK RUMAH!"Ucap Rasya datar tapi terdengar menakutkan untuk Azen yang akhirnya menurut pada ayahnya. Setelahnya, Rafka langsung gelagapan saat mendapat tatapan tajam dari Rasya. Demi kak Ros dan opah, Rasya benar² terlihat galak padanya.
"Apa yang Kakak ajarin sama Azen?bersikap seenaknya dan tidak menghormati orang yang lebih tua?dia masih kecil kak untuk di ajari sikap tidak sopan seperti itu"
Rafka hanya tersenyum lalu menepuk bahu Rasya. " Tenang saja,bocah itu hanya tidak suka dengan orang yang mau mengambil posisi ibunya... seharusnya kamu sebagai ayah harus sedikit bisa jaga hati"ucap Rafka lalu pergi.
🌿🌿🌿🌿🌿
__ADS_1