
..."Kita dekat tapi jauh,Takdir sedang bermain main bersama kita"...
Tok.
Tok.
"Masuk"ucap Rasya dari dalam ruangannya. Mila pun masuk sambil membawa sebuah kotak makan yang berisi nasi goreng kesukaannya.
"Apa saya ganggu bapak?"
Rasya menggeleng,"Tidak Masalah,kenapa kamu datang?"
Mila tersenyum sambil menyodorkan kotak makannya,"Saya tadi masak banyak jadi sekalian bawa buat bapak"ucap Mila terus terang dan sedikit ragu,"kalau bapak gak keberatan...."
"Terima kasih"ucap Rasya memotong pembicaraan Mila sebagai tanda ia sedang menerima niat baiknya.
Rasya berdiri ke arah Mila yang masih terdiam dengan pikiran di otaknya. Gadis itu sungguh akan takut jika Rasya terus bersikap dingin padanya.
"Pak...anu saya.."
"Kamu mikir apa?"ucap Rasya sambil memberi beberapa dokumen di tangan nya.
"Ini?"
"Rangkuman dari saya untuk tugas magangmu"
Mila tersenyum,"jadi bapak tadi dingin sama saya karena ini?"
"Bukankah saya biasanya juga seperti ini?kenapa kamu anggap saya dingin padamu"
"Eh enggak jadi pak,bapak emang selalu seperti ini"jawab Mila gugup.
Rasya duduk di kursinya lalu memakan nasi goreng buatan Mila. Sejenak Rasya terdiam karena berfikir kalau dirinya sudah sangat akrab dengan rasa itu. Tapi dimana?Mila yang melihat itu malah merasa masakannya sedikit bermasalah di lidah Rasya.
"Ada apa pak?"
"Emm apa sebelumnya kamu pernah bekerja di restoran?"
Mila menggeleng, bingung dengan pertanyaan tiba-tiba dari tuan nya,"engg...gak,saya terlalu setia menjadi sukarelawan selama ini pak"jawab Mila yang melihat Rasya terus menikmati makanannya.
"Emang kenapa pak?gak enak ya?"
__ADS_1
Rasya menggeleng,"enggak,saya cuman merasa gak asing sama rasa masakannya,mungkin saya pernah makan di suatu tempat tapi saya lupa"
"Ouh"ucap Mila lalu berjalan sambil membaca bacaan baru nya. Rasya merasa heran saat melihat Mila tertawa dengan buku pemberian nya. Dia sangat ingat kalau dirinya menulis rangkuman pelajaran yang sangat ampuh untuk membuat orang mengantuk dalam sekejap saja.
"Kenapa?"tanya Rasya yang masih sibuk dengan aktivitas makan nya,"saya ingat kalau saya tidak menulis cerita humor disana"
"Hahaha ini mah lebih baik dari cerita humor pak"ucap Mila menahan tawanya,"saat ini saya lagi asyik mikirin pak Andra yang tersenyum sama saya pak"
"....pasti sangat lucu"
"Emang dipikiranmu pak Andra seperti apa?"
"Kayak bapak"refleks Mila membuat Rasya membulatkan matanya,"Hah saya?"
"Eh enggak pak,bapak lebih perhatian dan baik sama saya daripada pak Andra"ucap Mila membuat Rasya menatap nya.
"Emang saya perhatian sama kamu?"
Mila mengangguk jujur,"sangat perhatian sampai saya merasa nyaman sama bapak"ucap Mila membuat suasana menjadi canggung. Qiana yang tak sengaja mendengar itu langsung merasa kesal dan masuk ke dalam.
Ceklek....
"Aku yang memanggilnya,dokter Qiana sendiri ada urusan apa?"tanya Rasya membuat Qiana langsung mengeluarkan dua voucher dari restaurant pamannya.
"Paman baru buka restauran,apa kamu mau mencicipi nya?aku sudah bawa voucher nya untuk pergi"
"Tidak perlu"jawab Rasya datar sambil melihat Mila yang melotot ke arah nya.
Mila meneguk ludahnya lalu menatap Rasya,"pak,dr Qiana sudah berniat baik sama bapak,kalau bapak menolak gini gak baik kan?"
"Lalu?"
"Bapak ikut aja"
"Baik kalau saya ikut kamu juga ikut"ucap Rasya membuat Mila menatap nya kesal.
"Tapi pak...."
"Baiklah dia boleh ikut asalkan kamu mau pergi semuanya tidak jadi masalah"ucap Qiana terpaksa.
Kemudian mereka pergi dengan menggunakan mobil Rasya menuju restoran Asia Nation milik paman Qiana. Ternyata semuanya sudah disiapkan diatas meja sebelum mereka datang. Beberapa ragam makanan mewah membuat Mila merasa segan melihatnya.
__ADS_1
"Kalau yang kayak gini saya belum pernah makan di hidup saya"lirih Mila membuat Rasya tertawa. Qiana yang melihat itu lagi lagi dibuat kesal dengan keberadaan Mila sebagai penghambat hubungan nya.
Mereka mengambil kursi dan memulai jamuan mewah nya. Rasya meletakan beberapa potongan daging di piring Mila. Ia sungguh terhibur melihat gadis 22 tahun Dihadapan nya yang kesulitan memakai sumpit di tangan nya.
"Pakai garpu aja"ucap Rasya sambil menyodorkan garpu ke tangan Mila. Mila hanya tersenyum lalu makan menggunakan garpu pemberian Rasya.
Beberapa menit kemudian tubuh Mila memanas bak daging panggang yang baru keluar dari oven nya. Tubuhnya memerah dengan bintik kecil di kulitnya. Ia sungguh tak tahu kenapa itu bisa terjadi. Mila hanya bisa terdiam sambil menahan rasa pusing yang luar biasa di kepala nya.
"Kenapa?"tanya Rasya panik lalu meletakkan punggung tangan nya di dahi Mila,"kamu demam"ucap Mila menangkap tubuh Mila yang hendak jatuh dari kursinya.
"Dia makan omlet ini apa saya bahannya?"
"Daging dan olahan udang"jawab Qiana,"tapi Ini semua tidak mungkin karena restoran paman,kan"berontak Qiana.
"Bukan pamanmu tapi mungkin dia yang alergi"ucap Rasya yang mulai menggendong tubuh Mila untuk dibawa kerumah sakit.
Sesampainya di sana Rasya meletakan tubuh Mila di atas brankar lalu menyuntikkan sebuah cairan sambil menunggu Mila tersadar.
"Apa yang terjadi?"
"Aku sudah memberimu suntikan alergi, beristirahat lah"
Mila menggeleng,"Aku tidak mau disini aku takut"
"Aku ada disampingmu apa yang kamu takutkan?'refleks Rasya membuat Mila terdiam.
"Aku takut teringat ayahku"lirih Mila membuat Rasya menatap nya dalam,"ayo aku antar kamu pulang"ucap nya lalu menggendong Mila sampai dalam mobilnya.
"Terima kasih"lirih Mila mendapat Anggukan.
Awalnya Rasya Ingin menanyakan alamat Mila. Namun,melihat Mila yang tertidur pulas karena obat membuat Rasya tak tega membangunkannya. Kemudian Rasya membawa Mila ke rumahnya setelah mendapat pesan dari bibi Wati kalau lstrinya tidak pulang hari ini.
Rasya membenarkan selimut di atas tubuh Mila lalu pergi meninggalkan nya. Saat hendak pergi langkah nya tiba tiba terhenti karena melihat sebuah foto yang tergeletak di bawah lemarinya. Rasya berfikir kalau itu adalah foto kaki istrinya saat mengenakan gaun putih pengantinnya. Rasya menunduk untuk mengambil nya lalu terdiam saat melihat tulisan dipojok belakang nya,"ya sayyidah"
"Ternyata nama nya sayyidah"batin nya sambil membuka foto itu perlahan demi perlahan. Kemudian...
"Tuan muda!"ucap bibi Wati membuat Rasya terkejut hingga bangkit. Rasya menghela nafasnya besar lalu meletakkan jari telunjuk di bibirnya,"sssst jangan berisik"ucap Rasya membuat bibi Wati paham kalau nyonya dan tuan nya sedang menghabiskan waktu bersama.
"Maaf tuan"ucap Wati gugup karena senang sambil mengambil foto di tangan Rasya dan pergi ke ruangannya. Rasya hanya terdiam lalu duduk di ruang tengah nya.
🌼🌿🌿🌿🌿
__ADS_1