Dokter Dingin ,Suamiku

Dokter Dingin ,Suamiku
#28


__ADS_3

Mila tersenyum saat melihat dinding atas kamarnya. Ia berfikir kalau Rasya adalah sosok pria yang bertanggung jawab telah mengantarnya  kembali sampai  rumahnya. Kemudian ia terbangun saat melihat Wati yang datang dengan segelas susu di nampan nya.


"Nona sudah bangun?"tanya Wati mendapat anggukan dan senyuman hangat dari Mila,"kemarin Tuan muda datang "ucap nya lagi membuat Mila mengernyitkan dahinya.


"Apa?tuan muda datang?"tanya Mila takut kalau suaminya melihat Rasya bersama nya.


Wati mengangguk,"iya non,tuan muda datang"


"Bik,apa tuan muda bilang sesuatu?apa tuan muda lihat orang asing kemari?*


"Orang asing siapa non?tuan muda datang sebentar lalu pergi"


"Oh syukurlah"ucap Mila menghela nafasnya lega.


"Hah?"tanya Wati bingung melihat ekspresi Nyonya nya.


"Gak papa Bik bukan apa apa"ucap Mila gugup melihat raut menyelidik dari pembantunya.


Disisi lain,Rasya merasa bersalah saat dirinya membawa Mila langsung kedalam rumahnya. Ia berfikir kalau seharusnya dirinya harus meminta izin dulu pada Mila. Namun,apa boleh buat?nasi sudah menjadi bubur. Rasya akan meminta maaf pada Mila .


Dua Minggu sudah Rafka menemani sang ibunda di rumahnya. Ia bersiap untuk berangkat ke Bandung setelah mendapat izin dari keluarga nya. Sebenarnya,bukan karena Rafka ingin menjalankan perusahaan papanya. Akan tetapi,Rafka memang tidak pernah betah untuk tinggal di rumahnya. Dan kesempatan itulah yang bisa ia buat alasan untuk bermain dan menikmati masa mudanya.


Rafka terhenti saat melihat seorang gadis  duduk dengan luka di lututnya. Ia merogoh sakunya lalu meletakkan plester ke atas luka itu.


"Lo Rafka kan?pasien absurd waktu itu?"ucap gadis itu membuat Rafka bingung dan mengangguk.


"Biasa aja kali gak absurd juga"


"Hehehe ,betapa bagusnya kalau Lo ada di tim kami"


Rafka tersenyum lalu duduk di samping Zera,"Tim kalian ada di Bandung?"


"Tim kita memang bergerak dari Bandung,kenapa Lo disini?"


"Nggembel"


"Hahaha bercanda Lo,dari awal gue emang berfikir kalau Lo itu orang susah ternyata bener"ucap Zera polos membuat Rafka tertawa.


"Emm Mila juga ada disini?"


Zera mengangguk membuat Rafka senang dan bangkit dari duduk nya,"emang takdir gak kemana"lirih nya senang,sangat senang.


"Lo kenapa?"


"Gak papa"ucap Rafka menyembunyikan kesenangan nya,"emmm tim Lo masih Nerima orang gak?"


"Asal punya pengalaman dan berhasil saat di tes semua orang juga bisa masuk ke tim"


"Sejauh ini gue hidup Gue gak pernah gagal sama yang namanya ujian"ucap Rafka percaya diri,"gue pergi dulu"

__ADS_1


"Mau kemana Lo?"


"Ketemu orang aneh"


"Dasar orang aneh"gerutu Zera melihat punggung Rafka yang sudah tidak kelihatan.


🌿🌿🌿🌿🌼


Cekreek....


"Dokter Rasya ada orang yang main menemuimu"ucap Nabila melihat Rasya yang masih sibuk dengan beberapa dokumennya.


"Siapa?"tanya Rasya yang masih kokoh di depan komputer nya.


"Gak tahu, katanya orang terpenting di hidup Dokter"ucap Nabila membuat Rasya berfikir itu adalah Ayahnya,tapi ayah nya tidak pernah seribet ini jika ingin bertemu dengan nya


"Baik,saya akan kesana"ucap Rasya membuat Nabila mengangguk Lalu pergi.


Tap.


Tap.


"Kenapa kamu kesini?"ucap Rasya melihat pria muda berbaju kotak-kotak di aula rumah sakit nya. Sebenarnya ia juga rindu dan memeluknya. Akan tetapi melihat pria itu yang tega meninggalkannya dan menunggu selama ini membuat Rasya harus sedikit menahan perasaannya.


"Apa ini?kenapa sedingin ini sama kakakmu?"ucap Rafka terkejut melihat raut datar adik kandungnya. Benar-benar tidak berubah.


"Ckckck seharusnya di saat seperti ini kamu akan berlari memelukku trus bilang aku merindukanmu kakak"


"Aku tidak kekurangan pasien"


"Baik² aku datang untuk menyapamu bukan mengganggumu"Jawab Rafka yang menyerah dengan sikap dingin adiknya,"Aku cuma kesini untuk tugas gak penting dari papa"


"Tugas apa?"


"Jadi CEO perusahaan yang dibangun papa atas dasar kegabutan"


"Papa bangun perusahaan?"


"Hahaha iya papamu,aneh kan?orang tua itu memang harus dirawat di ruang ICU darurat,gabutnya sudah stadium akhir"


Rasya pergi sambil mengenakan jas putihnya,"dia juga papa mu,aku pergi"


"Whoy kemana?gue kakakmu?"


"Jangan ganggu gue pas jam kerja"ucap Rasya tanpa menoleh membuat Rafka merasa kesal karena nya .


"Dasar adek durhaka,udah 9 bulan gue gak pulang masih belum bisa buat Lo kangen juga"


Dreg....dreg...

__ADS_1


Suara keras dari brankar membuat semua orang menoleh ke arahnya. Mila tersentak. Dirinya yang sedari tadi sibuk mengisi daftar hadir harus langsung berlari mengikuti brankar ke ruang darurat.


"Bawa pasien ke ruang darurat lalu hubungi dokter Rasya secepatnya"ucap Mila tegas membuat semuanya mengangguk dan bergegas. Mila mengikat rambutnya ke atas,memakai jas putih dan sarung tangan nya lalu pergi ke ruangan darurat. Langkahnya tiba tiba terhenti saat merasakan sebuah tangan meraih tangan nya dari belakang.


"Hai mil"


"CK kenapa Lo kesini?"


"Huff kenapa semua orang selalu bertanya itu ke gue ,berasa gak ada orang yang ngarepin kehadiran gue"


"Terserah,gue sibuk"ucap Mila lalu pergi dan membanting keras tangan Rafka yang menariknya.


"Apaan sih Lo!jangan ganggu gue saat jam kerja!awas Lo kalau narik tangan gue lagi gue bakal anggap kalau Lo itu adalah musibah di hidup gue"ucap Mila kesal lalu pergi meninggalkan Rafka di depannya.


"Lo sama Adek gue sama aja"ucap Rafka melihat kepergian Mila dengan semua kekesalan nya,"orang kedokteran emang pandai nyakitin hati orang"ucap Rafka lalu pergi.


Kemudian Rafka pergi ke markas sambil menunggu Mila untuk pulang. Semuanya tertawa dan senang menerima pria hangat seperti Rafka. Laila dan Zera hanya duduk dari kejauhan sambil menikmati jus jeruk favoritnya.


"Nur dalam masalah besar,di satu sisi ada pria dingin di sisi lain ada pria hangat"bisik Laila pada Zera sambil mengamati Rafka dari kejauhan,"zer,kalau Lo ada susu hangat dan susu dingin,Lo mau pilih mana?"


"Gak keduanya"jawab Zera membuat Laila bingung,"gue alergi susu"ucap nya lagi membuat lali menatap nya kesal.


"CK gak asyik Lo"cetus Laila dengan raut kesal nya. Zera yang melihat itu merasa tidak enak pada seniornya.


"Udah² gimana kalau kita taruhan?"


"Oke gue dokter Rasya"


Zera mengangguk angguk,"kalau gitu gue yang Rafka"


"Taruhannya?"


"Kalau Lo kalah Lo harus cuci piring dan bersih² markas selama tiga bulan"


Zera tersenyum miring,"Samain aja"


"Deal"ucap mereka serentak sambil berjabat tangan kemenangan.


Hening.


"Rafka ini memang pria hangat,tampan,dan mempesona"ucap Laila sambil menggeleng geleng kepalanya lalu meminum sirupnya,"Tapi sayang...."


"Sayang kenapa?"


Laila menatap Zera dengan ekspresi datar nya,"Ya sayang aja kalau dia bukan kriteria nya Nur sama sekali"


"Kita lihat aja nanti siapa yang bersanding akhir nya,walaupun sebenarnya gue juga lebih mendukung nur sama dokter Rasya"ucap Zera membuat keduanya tertawa bersama.


🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2