
Mila tersenyum"kau percaya padaku kan?" Mila bertanya sambil mengunci tatapan Rasya, Mila mengerti tapi air matanya turun,ia sudah pasrah dengan tuduhan Rasya yang sangat menyesakan hatinya,ia berusaha mencoba menghentikan pertengkaran ini agar tidak semakin berdampak buruk pada Azen yang menangis mengimbangi teriakan nya. Mila langsung melemaskan kedua lututnya saat mendengar ucapan Rasya dengan penekanan di setiap katanya.
"Aku tidak percaya padamu" Mila menumpahkan air matanya yang sudah tidak bisa ia bendung lagi, matanya sembab dengan nafasnya yang sudah ngos² an karena sesenggukan.
"Aku menyesal menjadikanmu ibu dari anakku,jika kamu ingin tahu alasan ku menikahimu....maka aku akan katakan kalau aku menikahimu hanya karena hutang Budi keluargaku pada ayahmu yang sudah memberikan jantungnya kepada ayahku"
Damn... Terungkap sudah alasan perjodohan itu yang mengikat keduanya dalam hubungan rumit
"Nyonya jangan pergi kasihan adek Azen"
"Bibi saya titip Azen ya"
"Lepasin saja bi, biarin dia pergi"
Hati Mila sedih saat mengetahui pahlawan nya yang mengorbankan hidupnya demi orang lain. Seakan perasaan cintanya tak lagi ada harganya, mila berdiri dan langsung mengambil kunci mobil Rasya dari tangannya.mila tersenyum geli
"Anggap saja aku menerima semua tuduhanku"lirih Mila sambil menghapus air matanya dan pergi.
__ADS_1
"Apa kamu mencintai nya?" Lirih Rasya yang memunggungi Mila di belakangnya. mendengar itu Mila langsung menutup kedua matanya,memegang erat² dadanya yang sakit, menghapus air matanya lalu menghela nafasnya panjang dan melangkah pergi.
"IYA, AKU MENCINTAINYA" jawab Mila tanpa menoleh lagi kearah suaminya. ia pergi dengan kesedihannya yang sudah berlipat ² di hatinya . Ia sangat kecewa pada Rasya yang sudah merendahkannya menggunakan nama ayahnya. Apakah ia tidak tahu kalau ayahnya bagi Mila adalah segala²nya. Mila berharap Azen tumbuh besar menjadi pria baik oleh ayahnya yang seperti malaikat. Mila hanya seorang hamba biasa yang dituduh sebagai pendosa saat ini, ia tidak sanggup dengan kesedihannya sekarang, ia harus pergi, Mila benar² harus pergi kali ini
🌿🌿🌿🌿
Kecepatan 180km/jam membuat Mila gila untuk mengemudi mobilnya. Teriakan,umpatan,Bahkan klakson panjang dari pengendara lain membuat Mila semakin kesal dengan pikirannya. Ia tidak bisa berfikir lagi seperti ada sesuatu yang menancap di otak nya dan menghentikan peredaran darahnya. Ia merasa gagal menjadi istri dan ibuk yang baik untuk keluarga nya, Mila mengambil benda pipih didepan setir saat melihat nama ibunya muncul dilayar ponselnya.
Vina is calling.......
"Mil,firasat ibu gak enak, kamu baik² saja kan?" Cemas ibunya diseberang telepon. Mila mencoba tersenyum dan menahan tangisnya agar ibunya itu tidak merasa khawatir
"Kamu kesini ya ibu rindu sama kalian"
"Iya Bu"ucap Mila tak ingin berbicara banyak agar tidak ketahuan.
"Mil?" Panggil Vina di tengah² keheningan
__ADS_1
"Bu....."
"Iya sayang ada apa?"
"Aku mencintaimu" ucap Mila sambil meneteskan air matanya. Ia sedih dan langsung menutup panggilan nya. Mila langsung menghapus air matanya saat melihat truk gandeng mendorong keras mobil putihnya. Kesedihan Mila menjadi ketakutan saat mendengar sopir truk meneriakinya kasar.
"Whoy... Minggir!!" Remnya blong bodoh!!" Teriaknya yang sudah menabrak mobil Mila hingga tak terbentuk, Mila tak bisa berkutik saat kedua tangannya mati rasa memegang setirnya. Ia bingung harus melakukan apa saat jalanan sempit itu hanya menyisakan 2 Jurang yang sangat dalam. Perasaan nya semakin takut saat mobilnya sekarang sudah berjalan tepat di atas toll jembatan, Mila yang panik langsung tenang saat melihat tangan nya yang terluka di cekal dan ditiup oleh seseorang.
"Nak, jangan memaksakan apa yang tidak kamu bisa"ucap orang itu dengan senyumnya,"ingat lah kamu masih punya keluarga,jangan membiarkan amarah menguasai mu,sayang"
"Ayah.....aku merindukanmu "
"Jangan pernah menyerah dengan kehidupan mu,putri ayah"ucapnya membuat mila semakin menumpahkan tangisnya. Mila langsung membanting setir nya saat melihat truk itu menghancurkan lebur bagasi mobilnya. Desiran angin datang berhembus pada mobil tanpa atap dan jendela. Mobil itu menggelinding kejurang hingga membuat pemudi di dalamnya terluka parah tanpa ampun, dengan jiwanya yang masih setengah sadar mila berusaha keluar dari mobilnya saat aroma bensin memenuhi indra penciumannya. Perutnya robek saat sisahan kaca mobil menusuknya sampai organ terdalam, Mila hanya bisa menggigit bibir bawah untuk menahan sakitnya sebelum ledakan benar² akan menghancurkan seluruh tubuhnya.
"Awas!!" Teriak Mila melihat gadis pencari kayu bakar yang mendekati mobilnya. Gadis itu terkejut saat menyadari mobilnya akan meledak, ia berlari hingga kakinya terjebak di akar pohon besar didekatnya, gadis itu menangis sambil menatap Mila dari kejauhan.
"Kakak tolong aku!!" Lirihnya membuat Mila berteriak pada dirinya sendiri, ia ingin sekali menolong tapi tubuhnya tidak berdaya. Darahnya memburamkan penglihatannya begitu juga kakinya yang seolah tidak bisa digerakkan. Mila menangis saat melihat tubuh gadis itu hancur bersama ledakan mobil yang melempar keras tubuhnya hingga hanyut ke hulu sungai.
__ADS_1
"Ayah......aku menyerah" lirih Mila setelah kepalanya terbentur keras diatas batu besar sungai. Mila tersenyum walaupun rasa sakit itu terus menyerangnya.
"Ibu sayang Azen"lirihnya lalu menutup matanya sempurna. Kemudian hilir sungai membawa tubuh Mila pergi entah kemana. Jiwanya pergi dengan rasa penyesalan dan kekecewaan yang lebih.