Dokter Dingin ,Suamiku

Dokter Dingin ,Suamiku
#51


__ADS_3

Aceh, Sumatra Utara.


Keadaan sangat genting saat bencana tsunami melahap habis seluruh warga Aceh. Bangunan² sudah bercampur dengan tanah. Penampakan masjid sudah hilang tanpa kubah. Pecahan² kaca rata di atas tanah perut lautan.banyak korban meninggal dan luka parah yang berhasil di amankan. Bukan musik dangdut, jazz, ataupun lagu rock lagi yang terdengar. Akan tetapi rintihan tangis para warga yang sibuk meramaikan dan meratapi nasib buruknya. Tuhan sudah marah saat tanaman² ganja sudah hilang di atas tanah air mereka. Hanya beberapa tanaman bakau yang masih kokoh untuk menahan daya ombak yang menerjang bagian pesisir pantai.


Kriing....


Suara dering telepon lagi² datang di tas seorang wanita bernama Mila. Ia tidak tahu kenapa anggota sukarelawan masih menelfon ya setelah 5 bulan tak bergabung lagi bersama mereka.  Jadwal padat rumah sakit membuat ia lupa dengan impian awalnya. Pasien demi pasien di ruang spesialis jantung membuat dirinya benar² lupa dengan impian seperti ayahnya


Kemudian Mila mengangkat telfonnya dengan satu tangan yang masih memegang berkas penting di tangan kanan nya.


"Nur, kamu sibuk?"


"Nggak biasa saja ,ada apa kak?" Bohong Mila yang masih disibukkan dengan tumpukan berkas di atas meja. Tumpukan 12 berkas tak membuat dia mengatakan sibuk. Padahal menjadi dokter spesialis jantung itu tak mudah baginya untuk mencari jam tidur. Mungkin saja sikap Mila hanya tidak dingin menyakiti hati orang yang sebenarnya memang sangat membutuhkan nya.


"Nur, to the point aja hari ini ada tsunami besar di Aceh, anak² masih di Manado karena gempa bumi Minggu lalu...aku sudah hubungi anak² di markas Jakarta tapi sampai sekarang masih belum ada jawaban..."jelas Laila panik," nur kamu bisa bantu gak?kalau iya kita bisa langsung berangkat besok sama anak² yang ada"


"Kak, jangan khawatir aku akan bicara sama suamiku, barangkali ada bantuan dari rumah sakit untuk di berangkat kan kesana"


"Baik nur terima kasih,aku tunggu kabar darimu sampai nanti malam"ucap Laila langsung menutup telepon nya. Mila meletakkan ponselnya lalu melihat ke arah suster yang sedari tadi menunggu tanda tangan dari nya.


"Dr Rasya ada dimana?"


" Diruang operasi dok, bentar lagi akan melakukan rapat bersama staf dokter"jawab suster bernama Diana itu," apa ada sesuatu yang bisa saya sampaika. Ke dr Rasya,dok?"


Mila menggeleng lalu memberikan berkas yang sudah ia tanda tangani ke tangan Diana. Kemudian dia pergi setelah mendengar suara ramai dari brankar rumah sakit di luar ruangannya. Ternyata korban pencurian dengan tembakan peluru di bagian jantung nya.


🌿🌿🌿🌿🌿


Teriakan untuk menekan 20 Joule di dada pasien masih terus terdengar di ruang darurat tempat Rasya bekerja. Suasana menjadi tak terkendali saat garis lurus tergambar jelas di layar komputer . Gadis kecil berusia 12 tahun itu tak lagi selamat hingga membuat seorang pria dewas berbaju putih kesal menatap Rasya di depannya.


"Dia sudah tidak" ungkap Rasya membuat pria itu marah besar dengan nya. Dia tahu kalau gadis itu adalah putri pekerjanya. Hasil pembuahan diusia tuan membuat gadis kecil itu mempunya banyak komplikasi di semua tubuhnya.


"Anda bilang bisa menyelamatkan nya?lalu kenapa putriku bisa meninggal seperti ini?"teriaknya kesal sambil membanting nampan operasi di dekatnya.


Rasya masih terus terdiam walaupun pria bernama Bayu itu sudah menarik kasar kerah jas putihnya.


"Kendalikan sikapmu pada ketua!!"bentak Rizal melempar kasar tangan Bayu ," rahim istrimu itu sudah bermasalah, membuatnya tanpa KB itu adalah kesalahan yang gatal,tindakanmu yang sebenarnya harus di pertanyakan,bukan hasil akhir Rasya terhadap keselamatan putrimu!!!"bentak nya lalu terdiam saat Rasya menahannya.


"Apa maksudmu dokter Rizal!!! Putrimu sudah mati lalu bagaimana aku bisa menjelaskan pada ibunya?"


Tiiit...


Tiiiit..


"Dokter, pasien kembali hidup"ucap seorang suster membuat semuanya terdiam tak percaya. Rasya yang melihat itu langsungnya bergegas untuk menyelamatkan nya namun terus saja dicegah oleh Bayu yang berdiri di samping nya.


"Apa yang anda lakukan?membunuhnya lagi atau ingin bertindak seolah olah kamu adalah penyelamat hidupnya?aku tidak mengizinkan anda untuk menyentuh putriku lagi"

__ADS_1


"DIAM!!!"teriak Rasya kesal dan langsung mendorong tubuh bayu  dari hadapan nya. " Jika kamu keras kepala, kesempatan hidup putrimu akan sia²"teriaknya lagi yang mulai bergegas dengan d


Seperangkat alat²nya.


Hening.


Satu menit.


Dua menit.


"Bawa dia keluar!"perintah Rasya mendapat anggukan kecil dari pekerja nya. Bayu terus memberontak namun tak berguna bagi Rasya dan berakhir duduk di luar ruangan. "Lo juga keluar!!!"lirih Rasya membuat Rizal yang menertawai Bayu langsung terdiam menatapnya tajam.


"Apa maksud Lo usir gue?gue juga dokter handal yang bisa nyelesein komplikasi kecil kek gini "


"KELUAR SEKARANG!!!"


"Jawab dulu alasan Lo?"


"Lo gak guna bagi gue, sudah?"jawab Rasya membuat Rizal terdiam dan langsung keluar dari ruangan.


"Brengsek Lo"


Setelah berjam-jam akhirnya Rasya keluar dan langsung di hadang oleh Bayu di depan. Rasya pergi sambil mengisyaratkan  pada perawatnya untuk memberitahu sendiri keadaan putri Bayu, pasiennya.


"Putrimu baik² saja...dr Rasya terus berusaha untuk bisa menyelamatkan nya"tutur Alfin, perawat yang dikorbankan Rizal demi seorang Nabila.


Bayu terdiam. Air matanya menetes tanpa aba². Pandangan nya tertuju pada putrinya yang tidur di atas ranjang. Tangannya gemetaran sambil memegang dada kanannya. Ia sudah gila!. Ketakutan akan kehilangan putrinya benar² membuat hubungan nya dengan Rasya menjadi kehilangan rasa kepercayaan. Bayu malu. Malu menghadapi suasana canggung seperti ini lagi.


Alfin menepuk bahu Bayu membuat pria itu tersadar dari lamunan panjangnya," dokter juga manusia...apapun yang terjadi ....percayalah kalau ia sudah berusaha semaksimal mungkin"


Ceklek.....


"Maaf"lirih Bayu setelah berjam-jam latihan di luar ruangan Rasya. Dia benar-benar merasa bersalah dan hanya bisa berharap kalau Rasya sungguh bisa memahami keadaannya.


"Tidak masalah"jawabnya singkat tanpa menoleh. Sekarang, ia sungguh disibukkan dengan berkas² penting pasien yang membludak karena kecelakaan dan korban pencurian berantai.


Luka parah, cacat, komplikasi hingga kefatalan pada saluran saraf benar² membuatnya sibuk di setiap harinya. berhari hari di rumah sakit juga membuat Rasya kehilangan waktu untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya.


"Lebih baik siapkan ruang rapat sekarang juga! Ada masalah penting yang harus segera diselesaikan"perintah Rasya sambil menata berkasnya menjadi satu tumpukan besar.


"Baik" ucapnya lalu pergi menjalankan perintah.


🌿🌿🌿🌿


Aula rapat,RS Arya Sanjaya.


Amarah, kekesalan dan rasa kecewa yang luar biasa benar² meramaikan seisi ruangan. Lemparan berkas Rasya juga gebrakan tangannya di atas meja mampu menyelingi suasana mencekam di dalamnya. Rasya sangat kesal melihat berita wabah di Singapura beberapa bulan yang lalu telah merebak sampai ke dua negara tanpa sepengetahuan siapapun. Katanya, ada salah satu penduduk yang tak sadar bahwa dirinya sudah terjangkit wabah namun nekat pergi kembali ke negara asalnya. Jepang dan new Zealand lah yang sekarang ini menjadi angka positif dilingkaran merah miliknya.

__ADS_1


"Kabari RS Singapura untuk membantu menyiapkan formulanya, selebihnya aku akan diskusikan lagi bersama profesor Adi, dr maira dan, dr Mila" ucap Rasya mendapat anggukan serentak dari para staf nya, "ada yang ditanyakan?"


Seorang dokter berhijab pashmina akhirnya mengangkat tangan membuat semua pandangan langsung mengarah ke arahnya. "Dokter , berdasarkan data awal ada 89% korban di Jepang dan 32,95% di new Zealand, menurut pengalaman saya hanya sedikit dokter yang berani untuk berangkat dan mengatasi wabah yang masih hangat seperti sekarang"


"Benar dok, apalagi rumah sakit kita tidak pernah sepi dari pasien kritis"ucap dokter lain yang mulai mengeluarkan suaranya. Satu persatu dokter sudah mulai merespon perdebatan membuat suasana tegang semakin terasa di dalamnya.


"Dok, dokter qiana masih sibuk dengan pasien penting nya, dokter Naya sibuk lahiran dan dokter Gery yang masih terlihat urusan pengadilan lalu siapa lagi dokter hebat yang bisa kita kirim kesana dok?"ucap salah satu dokter berambut pirang membuat Rasya semakin pusing memikirkannya.


"Saya yang akan pergi kesana"putus Rasya membuat semuanya terdiam, "Apakah dari kalian tidak ada yangau berjuang bersama saya dan bergerak langsung ke new Zealand?".


Hening.


Mereka terdiam. Mereka sangat tahu kalau keadaan wabah di suatu negara itu bukan hal yang biasa, walaupun presentasi korban di new Zealand lebih rendah dari korban di Jepang. Akan tetapi masih banyak hal yang perlu dipikirkan untuk memutuskan pergi kesana.


Mereka bingung mau menjawab apa saat ingatan keluarga mereka masih terus menganggu hatinya. anak² yang masih balita, istri hamil muda juga orang tua yang sudah lanjut usia.


Mereka masih tidak berani untuk mengatakan kalau diri mereka sudah siap untuk berkorban demi tugasnya. Sekali lagi, Rasya kecewa saat melihat rekan²nya yang berfikir panjang untuk mengambil keputusan.


"Diamnya kalian membuatku kecewa, bagiamana seorang dokter masih berfikir untuk hal darurat ini?"


Hening.


"Aku saja yang pergi"ucap Dr Rizal membuat semua pandangan tertuju ke arah nya," aku punya keluarga, tapi pasien bagi dokter juga bagian dari keluarga kan?aku tidak bisa  mengabaikan nya"


"Aku ikut Dr Rizal" satu dokter mulai menyaut.


"Aku juga"


"Aku akan tetap jaga di ruang operasi, sebagian dari pasien kecelakaan kemarin masih banyak yang belum stabil"ucap Dr Luna, partner qiana.


"Baiklah begitu saja,rapat selesai...kalian boleh pergi"ucapnya yang sudah duduk sambil memijat kepalanya. Semuanya mengangguk kecil lalu pergi dari ruangan. Hanya suster Diana yang masih tetap berdua di tempatnya.


Tap


Tap.


"Dokter apa ada yang bisa saya bantu lagi?"tanya Diana yang tak tega melihat keadaan Rasya yang sangat lelah. Rasya menggeleng sambil mengisyaratkan Diana untuk keluar dari ruangannya. Diana mengangguk lalu memundurkan kakinya langkah demi langkah. Diana berhenti saat Rasya menatapnya dan bertanya padanya.


"Dimana dr Mila?"


"4 jam yang lalu dr Mila masih ada di ruang operasi dok, mungkin sekarang beliau sudah pulang ke rumah....."


"Baiklah saya juga mau pulang dan membicarakan masalah ini dengannya"ucap Rasya mengambil jas putih dan jam hitamnya, "dua hari kedepan saya akan langsung bersiap untuk berangkat ke Jepang"


"Baik dokter saya akan sampaikan pada semuanya"


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2