Dream : Legend Maker

Dream : Legend Maker
Menendang Besi


__ADS_3

PERINGATAN : Segala bentuk nama, tempat, latar belakang hanyalah fiksi


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Susilo duduk di ruangan kerjanya sambil mengamati layar komputer di depannya. Dia sedang menonton beberapa cuplikan pertandingan sepakbola dan highligts gol. Ada satu kesamaan dalam video yang dia tonton yaitu semuanya adalah pertandingan dari Maung Raja.


Di saat Susilo sedang fokus menonton suara ketukan pintu terdengar membuatnya mengalihkan pandangannya dari layar komputer. Orang yang baru saja masuk membawa dua gelas kopi tersebut adalah asistennya bernama Tejo.


Tejo berjalan menghampiri Susilo dan segera menyerahkan segelas kopi kepada Susilo. Mereka berbincang-bincang dengan berbagai macam topik kehidupan ataupun seputar pekerjaan. Pada saat Tejo akan berpamitan keluar ia tanpa sadar melihat sosok yang dikenalinya dalam layar computer tersebut.


Tejo yang penasaran pun segera bertanya kepada Susilo.


“Apakah kamu tertarik dengan anak ini?”


“Lumayan, seorang gelandang serang dengan tendangan jarak jauh yang sangat bagus. Seluruh golnya dicetak melalui tendangan jarak jauh dan dia juga saat ini dia berada di dalam daftar puncak assist. Anak muda yang cukup baik.”


Setelah memberikan jawabannya Susilo juga menatap Tejo yang terkejut ketika mendengar perkataannya dan melontarkan pertanyaan kepadanya.


“Kenapa? Apakah kamu kenal dia?”


“Ya aku cukup mengenalnya dengan baik ketika aku sedang menjalankan tugasku untuk mengamati pemain muda Persija yang sedang berlatih. Yang aku ketahui adalah dia berposisi sebagai striker sebelumnya.”


Menyerutup kopinya yang ada dalam genggamannya sedikit Tejo mulai melanjutkan.


“Sudah hampir setengah tahun saat itu dia mengirim pesan memintaku beberapa daftar tim yang melakukan trial. Nampaknya keberuntungannya habis di Persija dan bergabung dengan klub liga 3 Maung Raja.”


Susilo mengelus janggutnya yang lebat.

__ADS_1


“Aku berpikir untuk merekomendasikannya kepada klub, bagaimana menurutmu?”


“Aku? Yah itu boleh-boleh saja bila klub berminat kepadanya, sejujurnya aku merasa jika dia seperti ikan yang berubah menjadi naga semenjak keluar dari Persija.”


~


Saat ini pemain Maung Raja telah sepenuhnya fokus kembali untuk berlatih. Terlalu cepat untuk terlena dengan


kesenangan setelah lolos babak semi final. Pada awalnya mereka tidak seambisius untuk mencapai promosi menuju liga 2 namun setelah secara bertahap mereka mendekati final mereka menjadi semakin berharap untuk mendapatkan promosi.


Dari sisi lapangan Handoko terus berteriak memarahi para pemain untuk melakukan latihan dengan benar.


Lawan mereka selanjutnya kali ini adalah Galacticos Bireuen. Sebuah klub sepakbola asal Aceh yang masih tergolong muda karena hanya berusia satu dekade. Tentu saja mereka masih dianggap senior bagi Maung Raja yang hanya berusia setengahnya.


Sepanjang malam setelah mereka pulang dari Maluku, dia bersama kedua asistennya menonton berbagai cuplikan pertandingan terkait Galacticos Bireuen. Namun sejujurnya Handoko cukup kesulitan untuk menangani mereka. Sangat sulit untuk melakukan duel udara ketika pemain Galacticos Bireuen lebih tinggi dari mereka. Kaki mereka yang panjang juga sangat bagus untuk melakukan steal ataupun intercept.


Segera pertandingan ronde pertama mereka melawan Galacticos Bireuen akan dilaksanakan. Pertandingan untuk ronde pertama secara tandang di Stadion Galacticos Field, jadi tiga hari sebelum pertandingan dimulai mereka mulai berangkat dari Jakarta menuju ke Aceh.


Stadion Galacticos Field yang berkapasitas 1000 orang sudah penuh dengan orang-orang yang menonton. Tidak ada siaran langsung ataupun live streaming. Jalan satu satunya untuk menonton liga 3 hanyalah dengan datang ke stadion secara langsung ataupun dari rekaman para penonton dari tribun.


Pemain Maung Raja yang menggunakan jersey berwarna biru sedangkan pemain Galacticos Bireuen menggunakan jersey putih bergaris merah dan biru perlahan memasuki lapangan. Sorakan para suporter dan penonton netral menyambut mereka. Pelatih Handoko juga bersalaman dengan pelatih Galacticos Bireuen.


Raka yang berada di paling belakang barisan menyentuh rumput terlebih dahulu dengan tangan yang mengenakan gelang hitam.


Pertandingan segera dimulai ketika masing-masing kapten klub kembali ke posisi awal mereka.


Semua pemain Maung Raja dengan penuh semangat menjalani pertandingan kali ini. Namun mereka tidak mendapatkan kemenangan yang mudah karena kali ini melawan Galacticos Bireuen mereka seperti menendang tumpukan besi.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan berlangsung umpan-umpan mereka berhasil di cegat atau bila mereka menggiring bola sendiri tackle dari lawan akan mendatangi mereka. Umpan jarak jauh juga dengan mudah ditangani oleh mereka.


Dalam pertandingan sebelumnya walau mereka juga cukup kesulitan namun tingkat kesulitan kali ini meningkat dua kali lipat. Bahkan lini serang mereka dibiarkan tak berkutik. Mereka seperti macan yang ompong dihadapan mangsa mereka.


Galacticos Bireuenlah yang pertama kali berhasil memecahkan telur menjadi 1 – 0. Striker mereka melakukan tendangan keras dari dalam kotak pinalti namun tendangan tersebut berhasil di tepis oleh Cahyo dan menghasilkan tendangan pojok. Kali ini Cahyo gagal menyelamatkan gawang dari sundulan striker Galacticos Bireuen.


Pemain Maung Raja berusaha mengikat imbang skor sebelum jeda istirahat namun serangan mereka sekali lagi dengan mudah digagalkan. Mereka mendapatkan throw in setelah bola yang ditackle keluar dari lapangan.


Hafiz melempar bola jauh ke depan atas komunikasi diam-diam dengan Anton. Anton berlari dengan kencang menghampiri bola dan segera melakukan crossing ke dalam kotak pinalti. Baik Beto dan Alan tidak berhasil dalam duel udara memperebutkan bola.


Bola itu disundul bek tengah Galacticos Bireuen menuju tengah lapangan yang diterima oleh salah satu rekannya. Wasit meniupkan peluitnya sebelum pemain Galacticos Bireuen melakukan serangan balik.


Pemain Maung Raja keluar lapangan dengan wajah frustasi. Mereka benar-benar menendang besi kali ini. Handoko juga hanya bisa terdiam karena dia tidak memiliki solusi yang baik.


“Cobalah untuk melakukan umpan-umpan cepat agar terhindar dari intercept lawan”


Itu hanyalah solusi acak Handoko kepada pemain. Segera jeda istirahat berakhir dan babak kedua dilanjutkan.


Solusi acak yang diberikan Handoko memang memiliki efek untuk mencegah bola terkena intercept namun karena mereka jarang melakukan hal ini terkadang bola lepas dari kontrol kaki mereka karena gagal menerima dengan baik atau tendangannya terlalu keras sehingga menggelinding melewati target.


Kesalahan tersebut menciptakan peluang bagi pemain Galacticos Bireuen untuk mencetak kembali gol kedua mereka. Keunggulan bagi Galacticos Bireuen dengan keunggulan 2 poin atas Maung Raja.


Waktu pertandingan menunjukan tepat 90 menit dan wasit langsung meniupkan peluit tanpa adanya tambahan waktu. Skor pertandingan berakhir dengan 3 – 0. Setelah gol kedua diciptakan pemain Maung Raja sekali lagi membuat kesalahan dalam umpan-umpan cepatnya. Tembakan jarak jauh yang dilakukan oleh kapten tim Galacticos Bireuen menembus jarring pertahanan Cahyo.


Pemain Maung Raja kembali ke Jakarta dengan suasana yang suram. Mereka telah benar-benar ditaklukan oleh klub asal Aceh tersebut. Bila mereka ingin lolos ke tahap final mereka setidaknya harus mencetak empat gol pada ronde kedua.


Namun pada pertandingan hari ini cukup membuktikan bahwa satu gol sangat sulit dicetak apalagi berpikir untuk mencetak empat gol. Suporter Maung Raja juga berpikir bahwa tim kesayangan mereka harus puas dengan mencapai babak semi final tahun ini.

__ADS_1


__ADS_2