Dream : Legend Maker

Dream : Legend Maker
Family Time


__ADS_3

PERINGATAN : Segala bentuk nama, tempat, latar belakang hanyalah fiksi


------------------------------------------------------------------------


Berakhirnya pertandingan antara Indonesia melawan Malaysia juga sebagai akhir dari pemusatan pelatihan.


Semua pemain kembali ke klubnya masing-masing. Sedangkan yang belum memiliki klub, karena pamor AFF yang cukup besar banyak klub yang tertarik untuk meneken kontrak dengan mereka.


Terkhusus Nando, banyak klub sepakbola yang berminat untuk mendapatkan jasanya. Bahkan beberapa klub luar negeri sempat berminat namun pada akhirnya Nando memutuskan untuk bergabung dengan Persebaya Surabaya.


Pelatih Indra menyarankan agar dia mencoba terlebih dahulu bermain di luar negeri. Tetapi Nando berpikir untuk beradaptasi dengan suasana kompetitif di liga Indonesia. Apalagi Persebaya memberikan perawatan yang sangat bagus untuknya.


Ketika berita tersebut tersiar, tidak sedikit yang menyayangkan keputusan Nando.


Saran sudah diberikan namun telah ditolak, pelatih Indra hanya bisa menggelengkan kepalanya. Menurutnya, Nando telah membuang peluang emas untuk keluar dari sangkar.


Bukan hanya Nando saja yang mendapatkan penawaran. Ada beberapa pemain yang diminati oleh klub luar negeri terkhusus bagi Raymond, Aji, dan Raka.


Statistik mereka bertiga terbilang cukup bagus. Baik Raymond dan Aji telah mencatatkan setidaknya tiga gol.


Berbeda dari Nando, Raymond yang saat ini tanpa kontrak klub memilih bergabung dengan Selangor FC di liga Malaysia.


Ketika berita itu beredar banyak suporter Indonesia melalui media sosial yang memberikan semangat bagi Raymond.


Selangor FC adalah salah satu klub yang pernah dibela oleh beberapa pemain veteran Indonesia. Di antaranya yang cukup terkenal adalah Bambang, Firmansyah, dan Dimas .


Sedangkan Aji tidak bisa bergabung tahun ini karena masih dalam kontrak Persija Jakarta.


Adapun Raka juga tidak bisa bergabung karena sudah menandatangani kontrak dengan PSIS Semarang.


Statistiknya cukup mengerikan kali ini. Jumlah golnya telah melebihi jumlah gol striker tim sendiri, Raymond dan Raka.


5 gol dan 2 assist.


Dirinya malah lebih sering menjadi pencetak gol daripada memberikan umpan-umpan manja kepada rekannya.


Tidak bisa dihindari karena hampir semua tendangan Raka dilakukan melalui tendangan jarak jauh.


Kondisi di lapangan tidak memungkinkan dirinya memberikan umpan ketika rekan-rekannya dalam penjagaan ketat.


Di saat media sosial sedang digoreng panas karena ada satu lagi pemain aboard, saat ini Raka tengah makan bersama dengan orang tuanya Hendro dan Rahayu.


Berbeda dengan saat di tribun yang bersorak dengan gembira untuk anaknya, saat ini Rahayu sedang dalam mode diam.


Sebagai seorang ibu, pada akhirnya hati akan menjadi luluh dan menuruti keinginan anaknya.

__ADS_1


Dengan sepenuh hati Rahayu juga mendoakan yang terbaik untuk anaknya namun dia tidak bisa menampilkannya. Dia tetap ingin menjaga citranya di hadapan anaknya.


Raka yang telah diberi bocoran oleh ayahnya juga tetap diam dan tidak membongkar topeng ibunya. Hatinya lega karena ibu sudah memberikan izin untuk berkarir sebagai pesepakbola.


Ada banyak yang perlu di ceritakan selama mereka berpisah namun mereka tidak ingin memecahkan momen singkat kebahagiaan dengan cerita pilu.


Suasana makan malam itu berakhir dengan harmonis.


"Ayah dan ibu sampai kapan berada di Indo?"


"Besok kita berdua harus segera berangkat kembali, ketika ayah berada disini pekerjaan sudah menumpuk seperti gunung di kantor."


"Aku mengerti."


"Nak, bukankah kamu membutuhkan seorang agen? Sepertinya pemain sepakbola harus memiliki agen untuk mengurus ini dan itu."


"Karirku masih kecil sekarang jadi aku pikir itu tidak terlalu diperlukan yah. Aku masih bisa mengurus kontrak sendiri dengan klub. Aku akan berpikir setelah aku menjadi lebih baik dari sekarang."


"Nak dengarkan ayah, memiliki agen bukan hanya mengenai kontrak semata. Dengan agen kamu bisa membuka saluran dengan banyak klub terlebih ketika kamu ingin bermain di luar. Mereka juga membantu memberikan saran dengan rencana masa depanmu."


Ketika Raka memikirkan perkataan ayahnya, dia merasa memang ayahnya benar. Bila berputar sendirian bahkan tahun monyet dia bisa bermain di luar negeri.


Bukannya tidak ada opsi lain, bermain untuk tim nasional adalah salah satu caranya. Namun siapa yang tahu hari esok, bisa jadi dia tidak terpilih masuk ke dalam timnas lagi.


Dengan senyum kebanggan Hendro berkata.


"Bukankah ini hanya agen? Serahkan pada ayah. Selama di Korea ayahmu telah memiliki koneksi dengan beberapa agen.


Aku mengenal salah satu agen yang cukup baik hati dan juga cakap. Aku akan mengabarinya ketika aku telah mendarat di Korea."


Mendengar bahwa ayahnya memiliki agen yang cakap Raka dengan mudah menganggukkan kepala. Setidaknya urusan mengenai agen telah terpecahkan.


Keesokan harinya mereka bertiga pergi ke bandara bersama. Raka ikut serta untuk mengantar mereka berdua.


Sebelum penerbangan Hendro berpesan kepada anaknya agar jangan kendor dan terus bekerja keras.


Hendro dan Rahayu akhirnya berbalik untuk pergi.


Selama seharian kemarin ibunya benar-benar tidak mengatakan satu kata apapun padanya yang membuat Raka tersenyum kecut meski mengetahui kebenarannya.


Raka pun berlari mengejar ibunya dan memeluknya.


"Ibu, jaga dirimu disana."


Mata Rahayu memerah, dia juga berpikir bahwa dirinya terlalu keras menjaga image di depan anaknya.

__ADS_1


Dia merasa menyesal karena tidak banyak berbicara dengan anaknya ketika dirinya berbalik untuk memasuki pesawat.


Pada akhirnya pelukan dan perkataan anaknya menggoyahkan dirinya. Rahayu berbalik dan memeluk Raka kembali.


"Anakku, maafkan ibu ya, berjanjilah untuk melakukan yang terbaik apa yang kamu mau. Ibu akan terus mendukung.


Jangan lupa untuk makan lebih banyak dan istirahat dengan teratur. Jangan juga mencari pacar terlalu dini oke.


Bergaullah dengan teman-temanmu lebih sering. Jangan bermain sendirian di rumah.


..."


Pada akhirnya seorang ibu tetaplah ibu.


Rahayu tetap khawatir terhadap anaknya dan memberikan berbagai macam nasihat.


Momen yang penuh haru dan bahagia tersebut segera hancur ketika Rahayu terus memberikan nasihat kepada Raka.


Bahkan Raka yang sebelumnya cukup tersentuh menjadi tidak bisa berkata-kata. Beruntung ayahnya segera mendesak ibu supaya bergegas.


Hendro berjalan menuju pesawat bersama Rahayu. Tangan kanannya yang berada di belakang segera terangkat dan membentuk bentuk jempol.


Raka tertawa ketika melihatnya, memang ayahnya selalu mengerti apa yang dipikirkannya.


AFF kini sudah selesai dan kompetisi liga 1 sudah ada di depan mata. Raka juga bersiap untuk langsung menuju Semarang dari Jakarta.


Pemusatan latihan pra musim sudah dimulai sejak awal Juni namun karena dia mengikuti AFF dirinya terlambat untuk bergabung.


Hatinya berdebar debar karena tidak sabar dengan tantangan yang akan datang.


Rekan baru, tantangan baru, musuh baru.


Raka menuju ke Semarang dengan menggunakan kereta. Sepanjang perjalanan Raka memegang sebuah kartu nama.


Ini adalah agen yang dibicarakan oleh ayahnya. Dia memberi tahu bahwa bila sang agen berminat dia akan menghubunginya.


Jadi Hendro berpesan bila ada nomor tak dikenal persis sama dengan yang ada di kartu nama angkatlah panggilannya.


Kartu nama yang dipenuhi dengan huruf Korea.


Raka tidak bisa memahaminya namun untungnya terdapat beberapa huruf alfabet sehingga dia mengerti.


Kim Ilrang.


Nama agen yang tertulis di kartu nama.

__ADS_1


__ADS_2