Dream : Legend Maker

Dream : Legend Maker
Semifinal III


__ADS_3

PERINGATAN : Segala bentuk nama, tempat, latar belakang hanyalah fiksi


------------------------------------------------------------------------


Menit sebelumnya, saat jeda istirahat di ruang ganti pemain.


Sudah empat puluh lima menit dia menonton pertandingan dari bangku cadangan. Raka sudah gatal ingin segera bermain.


Dia sangat bersemangat untuk menantang para pemain hebat. Sedari tadi dia terus berpikir kata-kata untuk meyakinkan pelatih Indra agar dirinya bermain.


Kebetulan pelatih Indra saat ini memasuki ruangan. Dia pun mengangkat tangannya untuk menarik perhatian.


Pelatih Indra yang melihat juga mempersilahkan Raka untuk berbicara.


"Pelatih, aku ingin bermain."


"Tapi kamu ..."


"Aku baik-baik saja pelatih. Sungguh."


Raka menyela perkataan pelatih Indra karena dia tahu apa yang ingin pelatih katakan. Setelah itu Raka bangkit dari kursinya dan melompat-lompat.


"Lihat pelatih, kakiku sudah baik-baik saja. Biarkan aku bermain, tolong." kata Raka bersungguh-sungguh.


Pelatih Indra memandang wajah Raka, tidak ada jejak kesakitan yang terlihat. Dia hanya melihat semangat kompetitif di wajah Raka.


Pada akhirnya dia pun mengangguk. Dia memandangi anak didiknya dan segera berkata.


"Aldo di babak kedua nanti kamu mundur ke posisi Tojim, terus berlari mundur ketika ada yang melewatimu. Tugasmu adalah untuk menyeka pantat Bagus dan Tegar ketika dilewati striker mereka.


Lalu Raka akan masuk di babak kedua menggantikan posisimu.


Tidak ada perubahan strategi saat ini. Ingat seperti kataku, kunci kemenangan adalah untuk menguasai tengah lapangan. Jangan berikan ruang kosong untuk mereka melakukan umpan jarak jauh ataupun menerobos dari samping. Mengerti?"


"Mengerti pak," seru semua pemain dengan tegas.


"Bagus."


Di sisi lain di tribun penonton. Dua pasangancparuh baya terlihat sedang mengobrol. Mereka adalah orang tua Raka, Hendro dan Rahayu.


"Mengapa anakku tidak dimainkan?" suara Rahayu dengan ketus.


"Sabar, ini semua tentang taktik. Lagipula Raka juga mendapatkan cidera dipertandingan sebelumnya."


"Taktik taktik, siapa yang peduli, aku kemari hanya untuk melihat anakku bermain.


Selain itu sudah ku bilang bahwa kuliah saja dengan benar dan mendapatkan pekerjaan. Lihat sekarang, dia cidera karena sepakbola.


Astaga anakku yang malang, dari siapa kamu mendapatkan sifat keras kepalamu."

__ADS_1


Rahayu terus mengomel bertubi-tubi dan mulai mengarah kepada Hendro. Hendro yang berada di sampingnya pun menutup mulutnya memutuskan untuk diam.


Bila dia terus merespon istrinya akan tanpa lelah berbicara. Dia juga menahan malu karena banyak mata yang melirik mereka dengan tatapan aneh.


Segera pertandingan kedua akan dimulai dan Hendro memutuskan untuk memfokuskan pandangannya ke lapangan.


Kedua belah pihak pemain dari Indonesia dan Thailand juga mulai muncul. Hendro yang menatap lapangan pun tiba-tiba berseru sehingga mengagetkan istrinya.


Rahayu pun segera bertanya.


"Ada apa? Mengapa kamu berteriak?"


Mendengar pertanyaan dari istrinya, dia pun mengangkat tangannya untuk menunjuk lapangan.


"Lihatlah orang yang memakai nomor punggung 12. Itu anak kita."


"Wah kamu benar, itu anak kita," Rahayu berkata dengan girang setelah mencari pemain yang dimaksud Hendro.


"Dengan anak kita bermain Indonesia pasti akan menang."


Mendengar respon istrinya yang senang dia hanya memutar matanya.


"Hanya karena anak kita bermain itu tidak akan mengubah keadaan. Aku yakin Thailand tetap yang menang."


"Apa katamu, mengapa kamu mengutuk anakku untuk kalah."


Kick off dimulai dari pihak Thailand. Dengan keunggulan dua poin kali ini mereka memulai dengan tempo yang lambat.


Hal ini dilakukan atas instruksi pelatih mereka. Pelatih Thailand bertujuan agar anak didiknya mengisi kembali tenaga yang habis saat mereka melakukan tempo cepat di babak pertama.


Namun pelatih Indra sadar dengan skema yang pelatih Thailand rencanakan. Dia berjalan di sisi lapangan dan berteriak sambil mengangkat tangannya.


Itu adalah sebuah instruksi agar mereka melakukan tekanan tinggi agar tempo dinaikkan.


Usaha Indonesia untuk melakukan pressure tinggi akhirnya sedikit membuahkan hasil. Para pemain Thailand mulai mengumpan bola dengan cepat.


Akhirnya salah satu pemain Thailand terburu-buru mengoper, arah bola dapat dengan mudah oleh Supriyadi.


Kakinya terlulur, sukses melakukan intercept. Dia segera mengoper bola kepada Aldo ditengah.


Seorang pemain Thailand segera mendekat, Aldo pun mengoper bola ke kanan dan diterima oleh Brian.


Brian berlari ke depan untuk melakukan penetrasi. Ketika sudah tidak ada ruang untuk bergerak karena di hadang oleh pemain Thailand, dia pun mengumpan bola ke depan.


Umpan terobos tersebut di tujukkan kepada Nando. Nando yang berhasil berlari untuk mengejar bola segera menggeser bola ke tengah lapangan.


Brian yang dari belakang sudah berada di posisi tereebut untuk menerima umpannya.


Kerjasama satu dua yang baik di pertunjukkan oleh Nando dan Brian. Meski hanya berlatih bersama selama sebulan mereka seperti telah melakukan hal tersebut selama bertahun-tahun.

__ADS_1


Raka saat ini terus berlari menuju ke ruang-ruang kosong agar teman satu timnya dapat mengoper bola kepadanya.


Momen tersebut muncul setelah Brian mendapatkan bola dari Nando. Dia menggiring bola semakin ke tengah untuk menarik perhatian pemain bertahan Thailand.


Usahanya cukup berhasil sehingga di depan zona pinalti hanya ada Raka yang tersisa. Ada seorang pemain Thailand yang ingin menjaganya namun operan dari Brian datang lebih dulu.


Dengan kaki kiri menjadi tumpuan, kaki kanannya berayun untuk menyambut bola.


Dari tanah bola semakin menanjak, melambung di udara mendekati gawang.


Sebagai kiper dengan jumlah kebobolan paling sedikit tentunya tidak bisa diremehkan.


Reflek bagus yang dimiliki penjaga gawang Thailand membuat dirinya sudah bereaksi ke arah yang dituju bola.


Dia melompat menyamping, tangannya terulur dan jari-jarinya pun direntangkan berusaha menggapai bola.


Bola pun bersentuhan dengan jari tangannya mengubah arah bola menjadi ke samping.


Kiper tersebut lega karena dia berhasil membelokkan arah bola. Namun bola yang berbelok akhirnya mengenai mistar dalam dan memantul kembali ke arah tangan kiper.


Bola yang bersentuhan dengan tangannya, sekali lagi membelokkan arah tujuan bola.


Kini arah bola adalah tepat ke dalam gawang dan telah melewati garis gawang.


Kiper tersebut tertegun sehingga lupa untuk bangkit berdiri. Dia hanya menatap bola yang berada di belakangnya.


Itu awalnya adalah sebuah penyelamatan yang sukses namun karena sebuah pantulan usahanya menjadi sia-sia.


Prit


Wasit meniup peluitnya tanda bahwa gol tersebut di sahkan.


Di menit ke 59, Raka yang masuk sebagai pemain pengganti berhasil mencetak gol dan mempertipis jarak dari Thailand.


Raka berseluncur dengan lututnya ke sudut lapangan sebagai sebuah selebrasi. Gol darinya berhasil membuat suporter Indonesia dari segala tribun berteriak.


Bahkan Hendro dan Rahayu berteriak dengan girang. Teriakan yang paling kencang datang dari Rahayu.


"Anakkkuuu"


Suporter disekitarnya menatap dengan heran mengapa Rahayu meneriakkan anakku. Hendro pun segera mengatakan bahwa Raka adalah anak mereka.


Setelah memiliki pemahaman bahwa mereka berdua adalah orang tua dari Raka, sikap suporter di sekeliling mereka menjadi sedikit ramah.


Di sisi lain Jihan yang menonton dari televisi segera melempar bantal di tangannya ke udara.


"Goollllll"


Dia pun menjadi malu sendiri, untungnya dia hanya sendirian di rumah.

__ADS_1


__ADS_2