
PERINGATAN : Segala bentuk nama, tempat, latar belakang hanyalah fiksi
------------------------------------------------------------------------
"Serangan balik yang luar biasa dilakukan oleh PSIS Semarang. Sebuah gol jarak jauh dari Raka membuat mereka memimpin dengan skor satu poin atas Bali United."
"Menurutku gol ini tidak akan tercipta bila Carl bermain egois. Lihatlah tayangan ulang ini, Carl memiliki kesadaran untuk membantu Febri yang cukup kesulitan menembus pemain bertahan sayap Bali United, Tri Arta. Selain itu juga dia mengumpan bola kepada Raka yang berada di posisi kosong."
Keunggulan poin atas Bali United tidak membuat mereka berada di posisi zona aman. Justru sebaliknya, mereka seperti berjalan di atas tali yang tipis.
Bali United tetap berpegang teguh untuk menyerang. Mereka juga menjadi serius dan tidak mengabaikan pertahanan seperti sebelumnya.
Sepuluh menit berlalu semenjak gol dari Raka tercipta dan Bali United telah menembakkan sembilan shoot on target yang lima diantaranya hampir membuahkan gol.
Pelatih Sergio terus mondar mandir sambil memegang kepala botaknya. Dirinya saat ini sedang cemas. Dalam hati dia berharap agar anak didiknya mampu menahan serangan bertubi-tubi dari Bali United.
Di menit ke 41, Spaso pemain Bali United menerima umpan terobos cantik dari Jaya. Alie yang seharusnya menjaga Spaso segera berlari untuk mengejarnya. Tubuhnya yang besar membuat cukup kesulitan untuk mengimbangi kecepatan yang dimiliki Spaso.
Tanpa menunggu lebih lama Spaso segera melakukan sepakan keras. Bola melesat kearah gawang dengan sangat keras.
Bola menuju ke sudut kanan gawang dan Ray yang berdiri di bawah mistar gawang segera berlari dan melompat untuk menjangkau bola.
Namun setelah dia melompat dan jatuh kembali ke tanah dia tidak melihat bola yang ditembakkan Spaso.
Rupanya ketika beberapa detik setelah bola ditendang, Wahyu melompat sambil membalikkan badannya untuk menghalangi jalur bola. Bola pun memantul kembali ke tengah lapangan.
Wahyu yang memblock tendangan Spaso dengan punggung segera menyesali tindakannya. Punggungnya terasa panas dan perih. Terlebih ketika Alie tanpa aba-aba menambah rasa sakitnya dengan menepuk punggungnya keras-keras.
"Alie, kau berengsek."
Alie yang menepuk punggung Wahyu pun segera memasang ekspresi bingung. Dia baru satu tahun di Indonesia dan belum terlalu fasih. Ketika dirinyabtidak mendapatkan jawaban lanjutan dari Wahyu, Alie pun segera mengangkat kedua bahunya dan kembali fokus ke pertandingan.
Saat ini berkat Wahyu yang memblock tendangan dari Spaso, PSIS Semarang mendapatkan kesempatan untuk melakukan serangan balik.
__ADS_1
Bola yang terpantul diterima oleh Jonathan setelah berebut bola dengan Jaya. Jonathan yang membelakangi Jaya segera melakukan body feint dua kali. Jaya sepenuhnya terkecoh dan Jonathan menggiring bola ke depan.
Bola digiring hingga ke tengah lapangan sebelum Jonathan memberikan bola kepada Raka di depan. Raka memposisikan kaki kirinya dengan arah jalur bola. Bola yang terpantul dari kaki Raka segera mendarat di kaki Maru yang melakukan cutting inside.
Kecepatan lari Raka tidak terlalu cepat sehingga dia memutuskan untuk memberikan bola kepada Maru yang larinya lebih cepat dari dirinya. Dari belakang Raka terus mengikuti Maru, bersiap-siap melakukan back up bila bola berhasil direbut oleh lawan.
Kekhawatiran Raka sepenuhnya tanpa dasar. Maru dengan mudah melewati beberapa pemain bertahan milik Bali United.
Teriakan suporter PSIS Semarang yang ikut melakukan away segera terdengar lebih keras diantara mayoritas suporter Bali United.
Sayang sekali Maru gagal menciptakan gol. Teriakan keras suporter dan jantung mereka yang berdebar menunggu gol tercipta berakhir sia-sia.
Ketika Maru berhasil mencapai zona pinalti dia langsung menendang bola ke arah gawang. Momen itu secara tiba-tiba jari kaki Maru menjadi ibu jari semua. Tendangannya meroket ke udara, tidak mengancam gawang Yasa sedikit pun.
Maru yang menyadari bahwa dirinya membuang peluang emas segera menjambak rambutnya sendiri. Carl juga meneriaki Maru sebagai protes mengapa tidak mengumpan bola pada dirinya.
Pelatih Sergio juga menghentakkan kakinya dengan keras. Bagaimana bisa dia tidak gila ketika kesempatan untuk memperlebar skor berakhir sia-sia.
Antara Bali United yang ingin menyamakan skor dengan PSIS Semarang yang berusaha menambah gol berakhir dengan seri.
Pelatih Sergio segera memarahi Maru di ruang ganti. Dengan kepala tertunduk Maru hanya bisa meminta maaf kepada yang lainnya.
Sebenarnya tidak ada yang marah kepada Maru, mereka hanya sedikit menyesal. Bila gol tercipta ini tentu akan sedikit meringankan beban pekerjaan pemain bertahan.
Namun apa yang telah terjadi tidak bisa di ulangi. Mereka hanya bisa dengan rela menerimanya.
Tidak butuh waktu lama sebelum babak kedua dimulai. Baik Bali United dan PSIS Semarang tidak ada yang mengubah line upnya. Sedari awal mereka sudah mengerahkan pemain terbaik mereka.
Seperti yang di duga pelatih Sergio dari awal. Anak didik besutan pelatih Fano tidak akan menyerah untuk terus menyerang. Bahkan intensitasnya lebih kuat dibandingkan babak pertama.
Alhasil cangkang kura-kura yang telah dipertahankan dengan kokoh di babak pertama pecah dimenit ke 58. Melalui tenangan voli Spaso, Bali United berhasil menyamakan kedudukan.
Hal-hal buruk tidak berhenti sampai disitu. Ketika PSIS Semarang melakukan kick off, lima menit berselang gol bagi Bali United tercipta.
__ADS_1
Alie melakukan kesalahan umpan di lini pertahanan mereka. Tendangannya terlalu pelan sehingga tidak berhasil mencapai Wahyu. Spaso yang berada di dekatnya pun segera mencuri bola dan menendangnya.
Seluruh suporter Bali United bersorak dengan keras. Mereka meneriakkan satu nama pemain milik Bali United.
"Spaso, Spaso, Spaso"
Kamera televisi menyoroti wajah close up pelatih Sergio yang terlihat kecewa. Keunggulan yang dimiliki PSIS menguap di udara seperti tidak pernah terjadi.
Hanya hutuh delapan belas menit bagi Bali United untuk membalikkan meja. Orang yang paling tertekan tentu saja Maru. Dia penuh penyesalan dalam batinnya sehingga tidak dapat menunjukkan performa baiknya di babak pertama.
Dimenit ke 70 Maru digantikan oleh Okta. Meskipun bukan posisi aslinya Okta memiliki kemampuan yang cukup untuk ditempatkan di sayap kanan.
Saat itu PSIS yang selamat dari gempuran serangan Bali United segera melancarkan serangan balik sekali lagi. Bola dari belakang segera disuplai ke depan menuju Carl.
Carl yang mendapatkan bola segera berlari secepat yang dia bisa. Dia begitu fokus untuk berlari sehingga gagal menyadari ada kaki yang terulur.
Dia pun terjatuh di tanah dan suara wasit terdengar setelahnya. Sebuah tackle berbahaya dilakukan oleh pemain bertahan Bali United. Wasit mengangkat tangannya dan kartu kuning segera diberikan.
Tim medis segera turun ke lapangan memeriksa kondisi Carl. Beberapa menit kemudian salah seorang petugas medis mengacungkan jempolnya kepada pelatih Sergio.
Melihat acungan jempol itu pun, dia bisa bernafas dengan tenang.
'Sungguh hari yang buruk hari ini,' batin pelatih Sergio.
Wasit yang mengatur pagar manusia segera berjalan mundur. Dia melihat sekeliling sebelum meniupkan peluitnya.
Bersamaan dengan peluit ditiup, Raka berlari dan segera menendang bola. Yasa yang berlari ke kiri segera berlari menuju kanan. Bola yang ditembakkan Raka secara mendadak berubah arah.
Suara bola yang bergesekan dengan jaring gawang terdengar di telinga Yasa. Tanpa menoleh kebelakang dirinya sudah tahu bahwa dirinya kebobolan.
Dirinya yang terbaring di tanah terus memandangi Raka yang melakukan selebrasi bersama rekan-rekannya.
Yasa adalah kiper tim nasional senior Indonesia. Dan hari ini seorang pemuda yang lebih muda darinya telah mencetak dua gol ke gawangnya.
__ADS_1
'Aku akan mengingatmu'