
Di saat Chika hendak melangkah masuk tiba tiba saja terdengar suara tabrakan begitu keras di luar..
" Astaga, ada apa itu?" Ucap Chika.
" Tolong, tolong saya....." Teriak seseorang dari kejauhan. Suara itu terdengar tidak jauh dari tempat Chika berdiri sekarang.
" Tolong..." Sekali lagi suara itu terdengar menyayat.
Segera Chika berlari keluar gerbang. " Revan.." Betapa terkejutnya Chika saat melihat setengah tubuh Revan tertimpa badan motor.
" Kenapa kamu bisa seperti ini?" Berusaha mengangkat badan motor. " Berat sekali..." Dengan menguras tenaga akhirnya dia bisa mengangkat motor itu lalu membantu Revan berdiri.
" Awwhhhh.....Pelan sedikit,sakit." Keluh Revan saat Chika membantunya berdiri, karena lututnya terasa sakit karena tertindih benda berat.
" Kita masuk dulu..." Chika membawa Revan masuk duduk di kursi depan rumah, lalu Chika berlari ke dalam mencari kotak obat.
" Sepertinya ada di laci kamar bawah, tapi kenapa tidak ada..." Mencari tiap sudut kamar lamanya, dimana dulu dia menyimpan kotak obat, tapi sepertinya kotak itu sudah beralih.
" Mungkin ada di kamar atas..." Segera berlari menaiki anak tangga, menuju kamar pribadi suaminya.
Benar saja kotak obat itu ada di atas meja kamar.
" Kenapa bisa pindah kesini, sejak kapan kotak ini bisa berjalan..." Tanpa pikir panjang kotak obat itu di bawa lari kebawah untuk segera mengobati luka di lutut Revan.
" Maaf agak lama..." Ucap Chika sembari berlutut membuka kotak obat lalu menyibakkan celana pendek Revan yang menutupi sebagian lututnya.
" Awwhh, sakit.." Revan menyeringai kesakitan saat tangan Chika tidak sengaja menyentuh luka itu.
__ADS_1
" Kenapa bisa sampai seperti ini?" Dengan telaten Chika membersihkan luka itu lalu memberinya obat.
" Tadi ada pengendara mobil keluar dari rumah ini tiba-tiba membuang botol air di depan motorku, karena terkejut aku pun menghindar, dan di saat bersamaan datanglah mobil lain dari arah berlawanan hingga motorku menyenggol body mobil dan terjadilah seperti sekarang ini." Ucap Revan menjelaskan kronologi terjadinya tabrakan.
" Ahhhh...." Keluh Revan kala Chika memakaikan perban.
" Maaf, maaf saya tidak sengaja."
Revan melihat wajah polos gadis di depannya dengan sedikit senyum di bibir, rona pipinya membuat Revan tertarik apa lagi di tambah tutur santunnya membuat hati nyaman dan tak ingin melihat yang lain.
" Senyum kamu manis sekali, tulus dan nyaman." Saling menatap sampai tidak sadar tangan Revan menyentuh pipinya.
Setelah sadar tangan Revan mengusap lembut pipinya, sontak saja Chika menghindar berdiri...
" Em...kalau gitu saya ambilkan minum dulu."
Sembari menunggu Revan melihat sekeliling rumah mewah yang terlihat bersih tapi sepi.
" Minum dulu..." secangkir teh hangat tersuguh di meja samping tempat duduknya.
"Terima kasih." Di raihlah cangkir itu lalu meminumnya dengan pandangan memudar melihat sekeliling rumah.
" Kamu tinggal disini?" Tanya Revan ingin tau lebih.
" Iya. Saya...." Mulut Chika seolah bungkam saat hendak menyebut statusnya di rumah ini.
" Saya?" Tanya Revan mengeryitkan dahi, seolah meminta penjelasan lebih darinya.
__ADS_1
" Em, anu, saya berkerja disini." Lirih Chika menyembunyikan semua kebenaran. Bukan dia tak mau menjelaskan tentang status dia sebagai istri dari pemilik rumah itu, tapi hanya tidak ingin besar kepala karena belum tentu Hansen mengijinkan Chika mengakui statusnya di depan orang lain.
Wajah tertunduk Chika menambah kecurigaan dalam hati Revan...
" Oh...jadi lelaki itu adalah majikan kamu?"
Chika hanya mengangguk...
" Sepertinya aku harus berkenalan dengan dia biar kita bisa keluar bareng..."
" Jangan." Kata itu langsung lolos begitu saja tanpa terkendali.
" Kenapa?" Mendekatkan wajah meminta penjelasan darinya.
" Emmmtt...saya tidak enak saja." Ucap Chika.
" Ya sudahlah tak apa. Yang penting masih bisa berteman dengan kamu. Oh, iya, bolehkan bertukar nomor?" Revan seolah melupakan rasa sakitnya saat berhadapan dengan gadis yang membuatnya tidak ingin jauh lagi.
" Maaf, saya tidak mempunyai ponsel." Ucap Chika berbohong. Sebenarnya bukan dia menutup diri dari orang lain, hanya saja lelaki yang saat ini menjelma menjadi seorang suami membuatnya takut bertukar nomor telepon.
" Payah sekali kamu ini, tinggal di rumah mewah seperti tapi tidak punya ponsel, bukankah disini kamu mendapatkan gaji? Oh, iya, aku dengar kamu keluar dari kampus juga, memangnya kenapa? Apakah kamu di perlakukan tidak baik disini, jika benar ikutlah denganku. Biar aku memberi pekerjaan dengan gaji yang layak..."
" Tidak ada. Lebih baik kamu segera pergi dari sini, sebentar lagi Nyonya akan segera datang."
" Nyonya? apakah dia itu istri dari lelaki kejam tadi?" Lagi lagi Revan terlalu cepat mengorek detail dari kehidupan Chika, hingga membuat Chika enggan tuk menjelaskan.
" Maaf, saya tidak wajib menjawab pertanyaan anda."
__ADS_1
Merasa sifat Chika sedikit berubah, dia pun memutuskan tidak bertanya hal yang membuatnya tidak suka.